Taklukkan Cartenz, Tiada Tinggalkan Apapun Kecuali Jejak dan Ilmu

 LAPORAN UTAMA

MADAWIRNA – EKSPEDISI DHARMA UNY NUSANTARA

Para pecinta alam boleh saja yakin bahwa mereka hendaknya tak meninggalkan apapun kecuali jejak. Tapi tim Dharma UNY dalam pendakian Cartenz yang menjadi bagian rangkaian kegiatan selama Juli hingga Oktober 2017, yakin betul bahwa mereka juga harus meninggalkan ilmu pengetahuan di manapun mereka bernaung.

Darah kampus kependidikan yang seakan mengalir dalam urat nadi Fita Ardiana sebagai ketua pelaksana ekspedisi bersama para kawannya, kemudian tersembah dalam pengajaran kepada para siswa siswi SD YPK Kwatisore dan SMP Negeri 2 Yaur, sebagai satu-satunya sekolah yang ada di Kampung Kwatisore untuk masing-masing jenjang pendidikan.

Dalam satu dua kesempatan, rekahan senyum yang menampakkan gigi putih dalam rona kulit hitam manis para putra Papua selepas menerima pembelajaran dari tim Dharma UNY, membuat perjuangan berbiaya 300 juta dan terwujud berkat kerjasama UNY, Pemda Nabire, World Wildlife Fund (WWF), Bank Indonesia, beberapa sponsor lain, serta segenap alumni, seakan terbayarkan tuntas.

“Apalagi ketika kita melihat mereka menuliskan cita-citanya di papan tulis. Juga di dalam burung kertas lipat yang mereka buat sendiri untuk pertama kalinya. Beberapa menuliskan ingin jadi ABRI dan Polwan. Sebagian lagi ingin jadi artis. Tapi yang pasti, mereka punya pesan kepada kita semua: Bahwa kita orang Papua, juga punya cita-cita dan cinta Indonesia,” kenang Sevi Dwi yang masih ingat betul pengalamannya mbrebes mili pada suatu hari yang cerah di Bumi Cendrawasih pada bulan Agustus.

Madawirna: Didirikan dengan Nafas Pengabdian

Aksi pendakian Cartenz tersebut bukan kali pertama Madawirna mengabdikan dirinya lewat ekspedisi ke ekspedisi. Didirikan pada tahun 1975, Madawirna sejak saat itu berfokus pada program keorganisasian, sosial, dan pecinta alam tanpa mengenal batas ruang dan waktu. Seluruh 1.162 mahasiswa UNY yang pernah menjadi bagian dari Madawirna, hingga saat ini masih berstatus sebagai anggota sekaligus keluarga kedua bagi sesamanya. Yang siap mendukung kegiatan Madawirna, jika pengabdian sekali lagi memanggil organisasi tersebut untuk bergerak.

“Termasuk yang seperti ekspedisi Dharma UNY ini. Kita semua seakan bersama untuk mengabdi sembari sekaligus menjelajah mesra keagungan alam,” ungkap Novi Handoko, salah seorang anggota Ekspedisi Dharma UNY (EDUN).

Dalam perjalanan Dharma UNY sendiri, segenap tim sempat tinggal di dalam hutan selama berminggu-minggu. Untuk kemudian mampu hadir di Nabire yang mayoritas masyarakatnya berburu di hutan, dan mendapati banyak anak-anak belajar di Kwatisore yang masih tak bisa membaca bahkan mengurutkan abjad. Betapa tidak, satu kelas yang seharusnya berisi 30 hingga 40 anak, pada hari-hari normal hanya berisi dua tiga anak.

“Mereka bosan belajar. Lebih senang berlari dan berburu. Dapat babi hutan, dimakan kenyang,” kenang Novi.

Dari pengamatan tersebutlah, Tim EDUN kemudian mencoba menarik minat belajar anak-anak Kwatisore, dengan cara belajar dan bermain di alam. Setiap Selasa, Kamis, dan Sabtu, anak-anak diajak untuk belajar sembari bermain di alam liar. Ilmu yang diajarkan pun mulai dari hal-hal yang sederhana, mulai dari menuliskan nama-nama hewan yang mereka temui di hutan, hingga secara kolektif membaca buku di pojok baca yang tim EDUN bangun di lapangan terbuka.

“Termasuk kemudian, kita menghadirkan ilmu-ilmu pecinta alam yang telah kita pelajari pada masyarakat sekitar. Seperti membuat jalur evakuasi tsunami dan mitigasi bencana, serta membangun kesadaran gaya hidup sehat,” kenang Fita yang kemudian merasa tersentuh ketika mendapati bahwa lambat laun para siswa kembali masuk ke kelas dengan sukarela dan senang hati.

Dari kesuksesan tersebut, UNY berkomitmen untuk melanjutkan rencana kerjasama dengan Pemerintah Nabire dalam pengembangan pendidikan. Prof Margono sebagai Rektor I mengungkapkan, bahwa kondisi medan yang sulit dan juga keberanian Madawirna untuk mengabdi di Bumi Papua, dapat menjadi momentum bagi kampus untuk senantiasa hadir bagi upaya mencerdaskan negeri.

“Bayangkan saja, banyak mahasiswa di negeri ini. Tapi hanya enam orang ini yang mampu ke sana (Papua), memilih mengabdi dalam sunyi. Ini prestasi yang pantas dibanggakan dan dilanjutkan,” pungkas Margono.

No Responses

Leave a Reply