Suminto A Sayuti, Penanam Benih Rindu

 SOSOK

Suminto A Sayuti, Penanam Benih Rindu

 

Rony K. Pratama

 

“Mengajarkan puisi dengan metode menanamkan benih kerinduan, Suminto dikangeni oleh siapa saja. Tahun ini menjadi promotor penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa buat Raja Yogyakarta”

 

Ingatan kolektif tiap angkatan di Kampus Ungu manakala membincang Suminto Ahmad Sayuti acap kali relatif sama: dia seorang profesor eksentrik, bercelana jeans, berkemeja rapi setengah lengan dilinting, berkantor di ruang Laboratorium Karawitan, mengajar puisi, dan tentu saja dekat dengan semua kalangan mahasiswa. Imaji tersebut seakan mengakik, baik bagi cendekiawan muda yang langsung mendapat kelas yang diampunya maupun mereka yang sekadar mengikuti lewat seminar yang menghadirkannya.

 

Pak Suminto, bagitu sapaan akrabnya, selalu menyajikan pola pembelajaran akademik yang membebaskan. Dia berpawakan kekar dan memiliki kekhasan intonasi suara yang menggelegar, sehingga membuat mahasiswanya betah berjam-jam menyimak kuliahnya. Suminto pernah berkata kalau metode pembelajarannya disebut sebagai “menanamkan benih kerinduan” karena dengan begitu mahasiswa akan antusias sekaligus kangen.

 

Dia bisa menjelaskan materi puisi tanpa harus berangkat dari definisi. Suminto kerap mewedarkan contoh berpuisi. Itupun hasil puisi buatannya sendiri kala kelas itu digelar. Beginilah manakala diajar seorang profesor yang juga penyair: materi yang dijelaskan memuisi, pengajaran yang disampaikan membebaskan. Mahasiswa selalu terpesona dengan cara pengajaran Suminto. Tanpa media Power Point, dia dengan tegas mengatakan, “Media paling primer ya manusianya sendiri.” Guru, lanjut Suminto, hendaknya memaksimalkan potensi itu. Bukan malah bergantung pada sekadar perkakas modern.

 

Cara pengajaran Suminto inkonvensional. Justru di situlah dia mendapatkan atensi atas modal simbolik di mata jamak orang. Menurut pengakuannya, dia dahulu selama S-1 di FKSS IKIP Negeri Yogyakarta pada tahun 70-an juga belajar di Universitas Kehidupan Malioboro. Bersama Umbu Landu Paranggi sebagai lurah Persada Studi Klub (PSK), Suminto berproses pula dengan Iman Budhi Santosa, Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), Ragil Suwarna Pragolapati, dan lain sebagainya. Nyantrik di situlah kemudian yang membentuk pola pengajaran ala Suminto.

 

Kedekatan secara personal dan kultural dengan para pembelajar di PSK membuat Suminto—sewaktu menjadi Dekan FBS dua periode (1999-2007)—pernah mengajak Cak ke FBS. Ajakan itu dalam program Sastrawan Masuk Kampus. Program ini berorientasi mendekatkan seniman, budayawan, dan sastrawan kepada mahasiswa. Agar mahasiswa langsung menggayung ilmu dan pengalaman dari pakar. Tercatat, selain Cak Nun, W.S. Rendra, N.H. Dini, Addie M.S., Marwoto, Deddy Mizwar,  maupun Taufik Ismail pernah mampir di Kampus Ungu. “Selain itu, Jogja terkenal memiliki banyak kantong Budaya. Sebagai dekan, saya berusaha menciptakan FBS sebagai salah satu kantong budaya yang diperhitungkan di Jogja,” tuturnya.

 

Dalam relasinya dengan kolega maupun mahasiswa, Suminto menekankan proses tumbuh bersama. “Waktu itu hubungan yang saya bangun adalah being togethersehingga tercipta hubungan yang resiprokal, aku ada karena kamu, kamu ada karena aku. Yang ada bukan aku atau kamu lagi tapi kita,” jelas Suminto. Identitas demikianlah yang sodorkan Suminto selama berinteraksi dengan siapa pun. Tanpa membedakan latar belakang sosial yang beraneka rupa, dia mempunyai prinsip kolektivitas pertemanan tanpa pretensi. Itu kenapa pertama kali masyarakat umum terbesit nama UNY selalu diperkelindankan sosok Pak Minto di belakangnya. Ini sama halnya dengan UGM di tahun 80-an yang sering kali dikaitkan dengan nama “Pak Ageng” Umar Kayam.

 

Di balik pengusulan pemberian Doktor Honoris Causa Sri Sultan Hamengkubuwana X tercitra kontribusi Suminto di belakangnya. Dia merupakan promotor utama, di samping Profesor Sugiyono sebagai co-promotor lainnya. Tatkala penyerahan gelar di Auditorium, UNY, tanggal 5 September silam, Suminto membacakan Naskah Akademik Usulan Doktor Honoris Causa berjudul Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Manajemen Pendelikon Karakter Berbasis Budaya. Dia mencatat, “ … membangkitkan kesadaran Sri Sultan HB X terhadap pentingnya pemosisian pendidikan karakter secara strategis. Persoalan ini mengedepan sejak beliau dilantik sebagai Gubernur DIY (3 Oktober 1998) hingga sekarang.”

 

Lebih lanjut, Suminto berargumen betapa Sultan telah merumuskan dan menerapkan pendidikan sebagai proses pembudayaan. “Bagi beliau, pendidikan itu secara keseluruhan hendaknya selalu dimaknai sebagai proses pembudayaan, dan bukannya sebagai penjinakkan sosial-budaya.  Untuk itu, pendekatan multikultural merupakan salah satu jalan yang bisa ditempuh,” jelasnya. Suminto menyebut betapa Sultan juga memosisikan Yogyakarta sebagai “taman sari-dunia” dengan pengelolaan yang disesuaikan dengan perkembangan zaman—diorganisasikan secara“sinamun ing samudana” yang berhilir pada“sesadone adu manis”.

No Responses

Leave a Reply