SEPTEMBER 2017 – Deklarasi Toleransi dari Kampus Perjuangan

 LAPORAN UTAMA

“Ratusan pelajar DIY berkumpul di Taman Pancasila. Nilai Toleransi mereka kumandangkan bersama. Bupati Kulonprogo turut mengisi acara”

ANGIN semilir mendinginkan cuaca panas di Taman Pancasila. Suasana gerah sedikit tersejukan berkat rerimbun pohon yang mengelilingi tempat nostalgik di UNY itu. Aroma nasgitel, gorengan, dan jajanan khas angkringan tercium ciamik. Suasana Angkringan Kebangsaan dan Deklarasi Pelajar Toleran DIY semakin hangat pagi menjelang siang itu.

 

Acara monumental ini diselenggarakan dalam rangka Dies Natalis Fakultas Ilmu Sosial (FIS). Dies Kampus Merah tersebut bekerja sama dengan Pusat Studi Pancasila dan Konstitusi (PSPK), Aman Indonesia, Aliansi Masyarakat Sipil DIY untuk Keberagaman, dan SETARA Institute.

 

Dalam sambutannya Sutrisna Wibawa, Rektor UNY, mengatakan urgensi acara ini di tengah keberagaman Indonesia. Sutrisna berharap supaya deklarasi yang diselenggarkan itu bisa menjadi ajang penguatan komitmen terhadap nilai kebangsaan.

 

“Hari-hari ini nilai kebangsaan kita sedikit terganggu. Karenanya diperlukan spirit Bhineka Tunggal Ika sebagai bagian dari jiwa bangsa Indonesia,” ungkap Sutrisna. Rektor sekaligus profesor filsafat Jawa ini menyarankan agar pembelajaran Pancasila diterapkan secara nonformal dan dialogis. Terutama mengajak siswa sekolah untuk berdiskusi lebih intens.

 

Ketua Panitia, Halili, menyatakan keprihatinannya atas tantangan yang sedang dihadapi bangsa Indonesia. Tantangan tersebut, menurut Kepala Laboratorium PKnH FIS itu, berasal dari internal maupun eksternal. Sisi internal Halili teropong lewat kekerasaan dan intoleransi antarsiswa. “Di Yogyakarta sendiri juga masih banyak, walau sudah diakui sebagai kota toleransi.”

 

“Kegiatan angkringan kebangsaan yang hari ini kita lakukan,” tambah Halili, “merupakan bentuk respons atas situasi aktual.” Tak heran bila acara besar itu dihadiri oleh perwakilan 3-7 pelajar persekolah dari 300-an siswa-siswi SMP dan SMA di DIY.

 

Beragam elemen dihadirkan sebagai narasumber. Hasto Wardoyo, Bupati Kulonprogi, turut hadir memberi materi diskusi. Menyikapi tema acara, yakni Toleransi itu Pancasila, Hasto mengatakan perbedaan itu sebuah keniscayaan umat manusia.

 

“Karena berbeda itu rahmat maka toleransi adalah sikap luhur,” tuturnya. Tanpa rasa keberagaman dan persatuan manusia, kata Hasto, suatu negara akan retak. Potret demikian banyak terjadi di banyak negara. Karenanya, bupati plus dokter itu mengharapkan toleransi dapat diwujudkan secara konkret di masyarakat.

 

Secara kata toleransi mudah diucapkan, namun sukar dipraktikkan. Kata ini berasal dari bahasa Latin tolerantia: kesabaran, kelembutan hati, kelonggaran, dan keringanan. Dalam sejarahnya kata ini muncul manakala Revolusi Perancis mengemuka di abad ke-19. Seperti motto resmi Liberté, égalité, fraternité (kebebasan, keadilan, persaudaraan).

No Responses

Leave a Reply