Selimut Kalpataru Perpustakaan Digital

 LAPORAN UTAMA

Motif kalpataru menyimbolkan tradisi. Terinspirasi dari corak dinding Candi Parambanan. Menegaskan pengayoman bagi segenap manusia. Relevan bagi visi Digilib untuk menyediakan layanan literasi

Sekitar dua pelemparan batu, dari arah timur rektorat, terlihat bangunan artistik berlantai empat. Huruf kapital bertuliskan Digital Library  (Digilib) terpampang jelas menghadap timur. Orang akan tertegun melihatnya bila lewat depan Museum Pendidikan Indonesia.

 

Motif kalpataru memusar pada satu titik. Mendominasi kulit gedung. Ia menjelaskan arti simbolik. Ornamen yang kerap ditemukan pada Candi Prambanan itu diadaptasi agar perpustakaan modern tertular filosofi pohon kehidupan: mengayomi, menghangatkan, mencerahkan.

 

“Kami ingin mengolaborasikan,” jelas Slamet Widodo, Direktur Eksekutif PIU, IDB, UNY, “nuansa klasik dan modern secara bersamaan.” Memilih corak kalpataru bukan tanpa pertimbangan matang. Hiasan kudus ini telah diakui bangsa Nusantara berabad-abad lampau.

 

Pada epos Tantu Panggelaran kalpataru dijelaskan gamblang. Ia dikatakan memenuhi suatu tempat bernama Hiranyapura. Dalam penelitiannya, Djulianto Susantio, arkeolog, menemukan istilah kalpataru pada kirab kuno seperti Hariwijaya, Ramayana, Arjunawiwaha, Udyogaparwa, dan Brahmandapurana.

 

Djulianto meneroka sisi semiotik kalpataru. Kekhasan motif kalpataru menyiratkan kesucian. “Kalpataru adalah pohon suci yang terdapat di surga. Adanya ragam hias kalpataru pada sejumlah candi, dimaksudkan untuk menyucikan candi tersebut,” tulisnya dalam esai Sepintas Konsep Kalpataru (2010).

 

Kekudusan ini diduga berasal dari konsep Dewi Ibu. Djulianto memaknai ibu sebagai simbol kesuburan. Tak heran bila pengertian ini dipakai masyarakat kuno. Pada masa lampau pohon sudah dipandang memiliki keteduhan. “Pohon ini dilihat tak ubahnya seperti seorang ibu.”

 

Mitologi Jawa era Mataram Hindu menyebut kalpataru sebagai salah satu dari lima pohon suci di surga. Tempat tertinggi di akhir masa itu ditempati Dewa Indra. Konsep ini akhirnya menyoal pohon sebagai sebuah pengharapan. “Kalpataru juga disebut kamadugha, yakni pemberi segala hasrat dan mengabulkan segala keinginan manusia,” papar Djulianto.

 

Kalpataru dipercaya masyarakat zaman peradaban Prambanan akan mendatangkan kebahagiaan akhir melalui moksa. Titik moksa ini manakala seseorang melakukan meditasi di bawah kalpataru. Bila dikaitkan Digilib, moksa di sini juga dapat dimaknai proses ketercerahan mahasiswa ketika menggayung ilmu pengetahuan di jagat literasi digital.

 

Senada pendapat Rektor UNY, Sutrisna Wibawa, Digilib membuka peluang besar bagi perluasan cakrawala pengetahuan. Bejibun referensi digital lintas negara tersedia cuma-cuma. Sekaligus pula ruangan kondusif untuk melakukan konferensi antarbenua. Diskusi bisa tergelar mantap. “Harapan kami perpustakaan baru ini bisa mendorong produktivitas dalam berkarya,” tegasnya.

 

***

 

Pijakan sejarah yang kuat dalam gaya arsitektur, bagi Slamet, menandakan bangunan beridentitas. Perpustakaan digital dikonstruksi sesuai pertimbangan kearifan lokal ini. “Meski isinya modern dengan fasilitas terbaik, tapi corak arsitekturnya diambilkan dari motif kuno,” tuturnya. Ia mengharapkan perkawinan ornamen gedung baru itu sesuai prinsip mengakar sekaligus menjulang.

 

Perpustakaan digital dibangun tepat di utara perpustakaan lama. Waktu pengerjaan satu tahun. Tak seperti gedung besutan IDB, perpustakaan digital menyedot dana rupiah murni. “Digital library ini semuanya dibiayai pemerintah,” ungkap Slamet. Menurutnya, gedung lain dialokasikan selesai 14 bulan tapi khusus perpustakaan digital lebih cepat. Sekitar 4,5 bulan rampung.

 

P.T. Sasmita bertanggung jawab atas pembangunan Digilib. Menang tiga kali lelang, pada Agustus 2017, proyek besar dan cepat itu dihela. “Berkat dukungan pengawas, supplier, dan lain-lain akhirnya bisa tepat waktu di akhir tahun 2017,” ucap Nugroho, W. Jatmika, Kaproyek Digilib. Para pekerja bahu-membahu. Kerja keras dan cerdas 24 jam dengan porsi istirahat yang sesuai prinsip K3.

 

Faktor ketercepatan pembangunan didukung pula oleh konstruksi tanah. Sebelum dibangun, Digilib merupakan lahan parkir perpustakaan universitas. “Tidak masalah soal tanah karena tanah di sini jenis tanah keras,” ujarnya. Nugroho merasa diuntungkan dengan keadaan ini. Pengaruh terbesarnya antara lain pada fondasi gedung.

“Motif kalpataru memusar pada satu titik. Mendominasi kulit gedung. Ia menjelaskan arti simbolik. Ornamen yang kerap ditemukan pada Candi Prambanan itu diadaptasi agar perpustakaan modern tertular filosofi pohon kehidupan: mengayomi, menghangatkan, mencerahkan”

 

No Responses

Leave a Reply