Prof. Herman Dwi Surjono (Kaprodi S2 UNY) – Satu Sendok Teknologi dalam Mangkuk Karakter Cendekia

 Wawancara Khusus

Hakikat orang berkehidupan, dalam pandangan filsafat Jawa, kerap digambarkan dengan tuntunan menjadi sosok yangsakmadya ngelakoni. Walaupun bila secara literal sekadar diartikan bahwa hidup seyogyanya dilakukan dengan secukupnya dan tak berlebihan, ia menyimpan makna filosofis seputar hakikat setiap insan manusia, untuk menyeimbangkan kepentingan duniawi sembari tetap menaburkan kebaikan. Keberimbangan tersebut, kemudian diejawantahkan Prof. Herman Dwi Surjono dalam bentuk Blended Learning. Menggunakan “satu sendok” teknologi tanpa perlu memuja, serta tetap menyajikannya dalam mangkok karakter kecendekiaan yang senantiasa menjadi landasan UNY dalam mendidik setiap peserta didiknya sejak dulu kala.

Kepada Redaktur Pewara Dinamika, Ilham Dary Athallah, Herman kemudian berkisah bagaimana Blended Learning yang bertumpu pada portal e-learning bertajuk “Be-Smart,” sejak pertama kali dirintisnya sejak tahun 2006 sebagai Kepala UPT Pusat Komputer hingga dua kali berturut menyabet penghargaan dari Ditjen Dikti. Serta berbagai tantangan dalam memadukan teknologi tanpa menanggalkan kehangatan interaksi manusia dalam mendidik karakter, ditengah tantangan disrupsi digital yang telah hadir di depan mata.

Bagaimana kisahnya ketika pertama kali Blended Learning dan e-learningtercetus?

Blended learningawalnya bukan konsep resmi pada awal kita merintise-learning.Blended learning adalah pelaksanaan pembelajaran berbasis daring yangsecara alamiah kita lakukan seiring waktu, dan mulanya dimulai pada perintisan e-learning. Tepatnya saat itu, selepas saya selesai S3 di Australia, sesuai dengan bidang keilmuan saya (Teknologi Informasi), AlmarhumPak Sugeng (Sugeng Mardiyono, Rektor UNY 2006-2008)kala itu meminta saya menjadi Kepala Pusat Komputer.

UNY pada tahun 2006 kala itu, sudah memiliki infrastuktur internet dan komputasi yang lumayan. Tapi pembelajaran berbasis TIK masih nihil, dan kami semua saat itu memandang bahwa potensi yang luar biasa ini tidak boleh dibiarkan sia-sia. Pak Rektor bilang, harus dimanfaatkan lah apa yang kita miliki ini, kan mahal tuh bayar internet.

Jadilah disitu e-learning kita rintis, dengan harapan bahwa fasilitas yang ada bisa menjadikan mahasiswa UNY jadi smart. Makanya kita namakan “Be-Smart”. Pendidikan karakter yang kemudian tetap kita teguhkan sembari mengenalkan pembelajaran daring itulah, yang kita jadikan wujud Blended Learning.

Lalu proses perintisannya?

Be-Smart kita rintis menggunakan Modular Object-Oriented Dynamic Learning Environment (MOODLE). Intinya, software untuk pengembangan media pembelajaran elektronik internet, yang berprinsip social constructionist pedagogy (cara terbaik untuk belajar menurut sudut pandang si pelajar itu sendiri). Ia kemudian dikembangkan dengan berlandaskan Learning Management System (LMS) sebagai sistem yang mampu mengelola database pendidikan secara online.

Uniknya dalam proses ini ialah, selain tampilan Be-Smart yang akhirnya muncul seperti halaman web pada umumnya, MOODLE ini juga sifatnya open source. Jadi legal, gratis, bisa multi platform sistem operasi, dan yang paling penting, tidak perlu dana pengadaan tambahan untuk mengembangkan. Tinggal kerja-kerja keras kita untuk mengembangkan fitur-fitur.

Apa saja fitur-fitur itu?

Salah satu fitur utama MOODLE yaitu menyajikan kursus dimana dosen dapat mengunggah materi, soal, tugas, kuis dan lain-lain sedangkan mahasiswa dapat mengaksesnya dengan cara login ke MOODLE dan memilih kursus yang akan diikutinya. Namun sebelumnya baik dosen ataupun mahasiswa harus memiliki sebuah akun.

Beberapa fitur-fitur MOODLE lain yang telah diterapkan di be-smart adalah course catagories (kategori materi berdasarkan fakultas, jurusan, dan prodi), online users (tampilan user yang sedang aktif),calendar (menampilkan kalender acara), pengingat waktu, UNY site (link-link yang berhubungan dengan UNY), web link, jurnal berlangganan, berita dan lain sebagainya. Tampilan be-smart yang tertata secara sistematis dan interaktif ini sangat mudah digunakan. Untuk materinya pun bisa diunduh, sehingga semua bisa mempelajari materi tersebut dalam keadaan offline.

Semua itu kemudian dipadukan dengan pendidikan karakter dan kedekatan humanisme berbasis tatap muka, yang kita tetap pertahankan. Sehingga alih-alih saling menihilkan, teknologi e-learning dan tatap muka kita buat saling melengkapi. Keuntungannya kita padukan, dan kekurangannya kita saling tutup. Itulah yang kita sebut Blended Learning. Dan ditengah era disrupsi digital yang benar-benar sekarang sudah kita rasakan tantangannya, melek teknologi dan menggunakan teknologi itu untuk tujuan kita dalam mengembangkan keilmuan sekaligus pendidikan karakter, menjadi sangat vital.

Walaupun sebenarnya kalau kita mau merefleksikan, waktu itu yang susah (dalam merintis Be-Smart) bukannya mendesain beragam fitur itu. Gak sulit bikin itu, kira-kira satu bulan saja waktu untuk merintis.

Lalu, apa tantangan terbesarnya?

Survei kecil-kecilan yang saya lakukan, memberi saya insight bahwa faktor penghambat dalam be-smart adalah ketiadaan intensif. Dosen dan mahasiswa yang memang sudah sama-sama nyaman kuliah tatap muka, belum mengetahui betapa luasnya kemungkinan baru yang bisa hadir dengan be-smart. Apalagi beberapa dosen juga ada yang agak resisten dengan program teknologi, terutama dosen senior.

Resistensi itu wajar, dan saya memahami betul karena yakin bahwa ini bukan hanya terjadi di UNY. Ini masalah klasik yang ada di seluruh negeri, dalam proses transformasi apapun. Berubah dari zona nyaman tidak pernah mudah.

Apalagi banyak pihak yang memandang bahwa dulu gak ada e-learning aja mahasiswanya juga pintar-pintar, jadi orang, ngapain tiba-tiba mengganti yang sudah baik. Dan yang bisa kita lakukan memang persuasif serta enlightment tentang betapa pentingnya hal ini untuk masa depan UNY dan anak-anak kita. Toh sesuatu yang dipaksa itu tidak baik, dan UPT Puskom memang tidak punya kuasa untuk memaksa.

Bagaimana kemudian langkah persuasif itu berlangsung?

Awalnya adalah mengajak teman-teman dosen yang sudah dekat, dan juga pimpinan. Karena membangun Be-Smart juga dhawuh dari Pak Rektor, pimpinan kemudian menjadi motor paling utama bagi kami untuk berkembang seiring waktu. Beliau beserta segenap pimpinan menjadi teladan yang menunjukkan kepada seluruh sivitas bahwa ini lho, kita punya potensi. Dan dengan pelatihan yang berlangsung tiap tahun,

Alhamdulillah secara gradual sivitas akademika bersatu padu untuk ber-blended learning ria. Dan uniknya adalah, mahasiswa justru tidak ada masalah dan langsung mengikuti dengan mulus setiap dosen menghendaki dilibatkannya e-learning dalam perkuliahan. Tinggal dikasih username dan password, mereka sudah paham bagaimana mengoperasikan interface-nya karena desain kita juga user friendly. Apalagi mereka sudah seneng banget karena di tahun 2006 dan awal-awal kita merintis itu, UNY sudah berlangganan internet 24 jam dan WiFi tersedia lebar-lebar.

Apa yang kemudian berubah di UNY seiring berlangsungnya blended learning?

 

Yang paling utama dan menjadi kunci adalah menghadirkan kemudahan untuk mahasiswa. Ujian dan bimbingan skripsi makin gampang. Administrasi jarak jauh maupun paperless makin berlangsung, seiring Kemristekdikti menginisiasi Program Pendidikan Jarak Jauh (PJJ).

Dan yang juga tak kalah penting, Kehendak UNY untuk muncul dalam percaturan kampus-kampus berkualitas dunia, yangjuga didukung olehBlended Learning ini. Konsep ini saya presentasikan di Barcelona dan ke luar negeri, juga hadir dan menjuarai dua kali berturut-turut penghargaan e-learning terbaik bagi universitas se-Indonesia pada 2009 dan 2010, serta mendapat apresiasi yang beragam dari publik internasional. Mereka selama ini banyak menganggap bahwa kehadiran teknologi, revolusi industri keempat, itu menghabiskan peran manusia ditengah konsep pendidikan karakter yang sebenarnya masih jauh dari telinga mereka. Tapi yang ada di Blended Learning, justru saling melengkapi.

Lalu bagi Prof. Herman, apa sebenarnya tujuan akhir dari Blended Learning ini sendiri?

Pendidikan karakter tadi kunci untuk menghadapi digital disruption. Dan karakter memang begitu penting dalam kehidupan kita. Tapi ia satu hal, yang kita hadirkan lewat “satu sendok” teknologi, sembari tetap menyajikannya dalam mangkok karakter kecendekiaan yang senantiasa menjadi landasan UNY dalam mendidik setiap peserta didiknya sejak dulu kala. Mangkok karakter kecendekiaan itu kemudian isinya bermacam-macam. Termasuk aspek kognitif yang berbasis intelektual, emosional, dan spiritual.

Misalnya dalam kaitannya dengan PJJ yang tadi saya sebutkan. Angka Partisipasi Kasar (APK) warga Indonesia yang mengenyam bangku kuliah itu kan masih sangat rendah. Padahal ilmu ini penting. Itulah mengapa kita harus menghadirkan kuliah bagi masyarakat yang lebih luas. Dan ini program terbaru dari kementerian, dimana Januari lalu Menristekdikti meminta perguruan tinggi mulai merintis PJJ dengan tetap mengedepankan akuntabilitas serta kualitas yang selama ini kita hadirkan. Jadi itu tujuan akhir kita yang paling utama, adalah memperluas kontribusi kampus ini untuk turut mencerdaskan kehidupan bangsa.

Selain itu, tantangan dunia internasional yang makin tak kenal batas juga jadi problem sekaligus peluang. Transfer kredit yang kini dibuka antar universitas berbasis PJJ, mengizinkan anak-anak kita untuk mendapat keilmuan baru yang dulu tak pernah terbayangkan. Mereka megang laptopnya masing-masing di rumah atau ikut video conference dari sebuah ruangan di Karangmalang sini, lalu terhubung dengan suatu kampus di China sana dan mereka bisa berdiskusi langsung tanpa halangan. Itu sedang dirintis oleh UNY, dan itu jadi tujuan kita semua saat ini, serta makin intensif ditengah program Pak Rektor yang menghendaki 2018 tanpa MoU. Semua kerjasama internasional harus konkrit!

Sedangkan yang terakhir dan memang sekarang sedang rame, adalah tentang Startup. Di Prodi saya (Teknologi Pendidikan), kita kasih bekal pemrograman untuk bikin aplikasi android, dansebagainya. Termasuk kewirusahaan dan beragam peluang di era digital itu kita sampaikan, ada mata kuliahnya. Banyak juga skripsi maupun tugas akhir mahasiswa bikin aplikasi-aplikasi yang bernuansa startup. Sehingga kalau ditindak lanjuti apalagi sampai dibeli investor, bisa bagus. Setidaknya kita telah berhasil menumbuhkan embrio, semangat, serta basis keilmuan, dan kita terus mendorong teman-teman yang background-nya TI untuk buka startup. Tujuan akhirnya bagi saya, bukan startup itu. Tapi kemungkinan untuk mengharumkan nama bangsa, menghadirkan kesejahteraan bagi dirinya maupun komunitasnya, dan membuka peluang peluang baru sehingga bermanfaat, disitulah teknologi bisa menjadi sangat precious.

Pesan Prof. Herman bagi civitas UNY dalam menghadapi era distrupsi digital?

Potensi dan alat kita sudah punya. Sehingga untuk teman-teman dosen, saya kira sekarang saatnya untuk harus membuka diri dalam memanfaatkan teknologi yang ada. Dan ini juga menjadi pesan untuk para pemangku kebijakan, karena alangkah baiknya apabila pemanfaatan e-learning juga akan masuk remunerasi, sehingga mari bergerak bersama dengan teknologi. Dan mari para mahasiswa untuk memanfaatkan beragam peluang yang ada, dan terus membuka peluang baru dengan cara kolaborasi kerjasama antar Prodi dan dengan seluruh masyarakat!

Author: 

Mahasiswa Universitas Gadjah Mada. Semua tulisan di laman pewaradinamikauny.com, telah diterbitkan di Majalah Pewara Dinamika, Universitas Negeri Yogyakarta. Untuk membaca versi lengkap dari setiap artikel dengan gambar ilustrasi dan infografis, baca versi (.pdf) majalah yang bisa diakses dan diunduh melalui bilah menu "Download Majalah".

No Responses

Leave a Reply