Rudiantara, M.B.A – Program Studi Harus Berubah!

 Wawancara Khusus

Wawancara Khusus

Rudiantara, M.B.A

Menteri Komunikasi dan Informatika, Ketua Majelis Wali Amanat UNPAD

 

Program Studi Harus Berubah!

 

Perubahan zaman berlangsung begitu cepat. Kampus juga harus demikian. Rudiantara mengajak UNY untuk mentransformasi dunia kependidikan. Bahkan bila perlu, menghapus prodi yang tak sesuai konteks kekinian!

 

Kepada Sekretaris Redaksi Pewara Dinamika, Maria Purbandari Perdana, Rudiantara menjelaskan bentuk perubahan zaman yang kini sedang dihadapi Indonesia. Sekaligus di sela-sela Studium GeneralePKKMB UNY pada Senin (19/08), membagikan pandangannya atas bagaimana perubahan zaman tersebut harus disikapi dengan kemauan untuk berubah.

 

Datang ke UNY untuk pertama kalinya, apa kesan Bapak?

 

Kampus bukan tempat asing bagi saya. Kebetulan saya Ketua Majelis Wali Amanat di salah satu PTNBH, Universitas Padjajaran Bandung. Walaupun saya warga Bogor, warga Bandung yang besar di dunia Sunda, Jogja juga punya tempat spesial di hati saya. Saya kira Jogja punya tempat spesial di hati banyak orang. Tidak hanya saya saja.

 

Jadilah saat saya datang ke Jogja, ke Universitas Negeri-nya Jogja. Feelingnya selalu adem. Senang.

 

Karena UNY ini kampus pendidikan, saya juga teringat sebagaimana dituliskan oleh Ki Hajar Dewantara, “Dengan ilmu membuat kita menjadi mudah”. Di sini (UNY), diajarkan ilmu dan digodok ilmu-ilmu kependidikan untuk diajarkan.

 

Itulah kenapa ketika saya datang, saya langsung tanya ke seorang profesor di UNY ini pertanyaan tegas. Agar jangan sampai kemudahan ilmu dan juga perubahan teknologi yang saat ini begitu mudahnya kita akses dalam genggaman melenakan kita.

 

Pertanyaan tegas kepada profesor UNY, bisa dijelaskan Bapak?

 

Tadi saya sempat tanya pada seorang profesor di UNY ini: “Berapa prodi yang ada?”

 

Dijawablah. Ada 102 sejak berdiri pada 55 tahun yang lalu. Lalu saya tanya kembali, “Sudah berapa prodi yang dihapus?” Tapi, ternyata tak ada jawaban. Entah belum dihitung atau memang tidak ada.

 

Prodi yang tidak lagi sesuai dengan jaman sekarang secara nalar dapat kita jadikan introspeksi. Mengapa dipertahankan? Mengapa prodi lama masih dipertahankan padahal kebutuhan industri, lapangan pekerjaan, dan kebutuhan dari masyarakat sudah tidak ada lagi?

 

Apa urgensi menghapus program studi?

 

Perubahan teknologi yang dibela oleh digitalisasi di sekitar kita berlangsung dengan begitu cepat. Tiba-tiba saja muncul disiplin ilmu baru, keterampilan baru, dan lapangan kerja baru dengan kualifikasi serba baru yang sebelumnya tidak kita kenal.

 

Kita harus dapat bersikap antisipatif dan adaptif pada perubahan tersebut. Karena, bayangkan, program studi yang tidak relevan dan tidak dihapus akan membebani PT (Perguruan Tinggi) lho.

 

Beban itu hadir secara ekonomi makro. Artinya, jika prodi itu terus dilangsungkan sampai 5 tahun lagi padahal pasarnya tidak ada atau dosennya sedikit dan lain sebagainya, ongkos 5 tahun itu berapa?

 

Harusnya beban ekonomi itu bisa dihemat ‘kan. Dialokasikan insentif termasuk untuk dosen-dosennya belajar ilmu baru, meneliti the next big thing(inovasi baru).

 

Beban juga datang secara moral. Bayangkan orangtua murid Anda mengeluarkan sumber daya yang besar untuk menyekolahkan. Eh, ternyata tidak sesuai kebutuhan itu tadi. Padahal, harapan diletakkan di pundak anak itu.

 

Kita harus berani melakukan terobosan. Memangkas satu hal yang tidak diperlukan lagi, memangkas satu proses yang tidak efisien.

 

Apa yang harus dipertimbangkan dalam mengubah atau pun menghapus program studi?

 

Bentuk-bentuk perubahan zaman yang kini sedang kita hadapi harus kita pahami. Tidak bisa lagi tutup mata.

 

Dalam dunia ketenagakerjaan, sudah beberapa tahun terakhir perusahaan-perusahaan papan atas dunia tidak lagi mempersyaratkan ijazah dan gelar kesarjanaan untuk kepentingan seleksi karyawan. Google, Apple, IBM sudah drops college degree requirement.

 

Artinya, mereka tidak memerlukan lagi (gelar sarjana). Bekerja di perusahaan tersebut tidak lagi memerlukan gelar kesarjanaan. Tentu ini bukan untuk membuat gundah. Artinya, bukan kalau begitu buat apa kita kuliah, tapi kuliah dan datang ke kelas lalu diam saja tidak cukup. Harus belajar skill!

 

Kampus harus menyediakan skillitu. Keteramplan baru yang dibutuhkan pada era Industri 4.0 harus dielaborasikan dalam program studi agar relevan. Terutama adalah dalam hal internet of things (IoT), sensor, danartificial intelegent (AI).

 

Dunia kompetisi juga penting. Di negara ASEAN terjadi free flowdari pekerja. Tenaga kerja asal Indonesia yang bersertifikat mempunyai hak untuk bekerja di kawasan negara lain di ASEAN. Begitupula sebaliknya, pekerja di negara ASEAN lain yang bersertifikat berhak juga untuk bekerja di Indonesia.

 

Jadi, kalau kita tidak mempersiapkan diri kita untuk meningkatkan kemampuan kita niscaya lapangan perkejaan di Indonesia akan diambil oleh pekerja negara lain terutama ASEAN.

 

Debat besar yang sering terjadi di dunia akademik mempertanyakan apakah pengembangan ilmu harus selalu mengikuti permintaan pasar. Bagaimana pandangan Bapak?

 

Orang ekonomi saya kira sepakat bahwa pasar itu bukan menyimbolkan uang. Tapi tren dan keinginan masyarakat. Saat ini, trennya adalah Revolusi Industri Keempat. Melanjutkan tiga revolusi sebelumnya yang sudah kita pernah hadapi dan kali ini basisnya digital.

 

Apakah kita siap? Kalau tidak siap, kita sendiri yang akan tergantikan. Bahkan guru dan dosen suatu saat bisa digantikan AIkalau kita tidak menjaga relevansi ilmu dan skill. Harus punya nilai tambah yang applicable karena revolusi industri keempat dalam dunia pendidikan itu nyata.

 

Harus lebih banyak interaktif, konseling, mentoring, bukan hanya mengajar satu arah apalagi dari literatur yang ada.

 

Kalau masih seperti itu (satu arah), hanya masalah waktu guru dan dosen digantikan oleh chatbot. Kalau gurunya atau dosen hanya menuangkan kembali, memberikan dari buku, bukunya dicatat, literaturnya dicatat, disampaikan dengan cara monoton kepada murid atau mahasiswanya, itu robot juga bisa.

 

Yang menerima, para mahasiswanya pun tidak lagi ingin dijadikan semacam robot yang hanya menerima dari satu arah. Mahasiswa ini juga driving force of the market (kekuatan pasar). Lama-lama mereka tidak akan kuliah kalau kampus tidak relevan bagi mereka.

 

Apa pesan Bapak untuk UNY?

 

Harus berubah! Program studinya dan kurikulum harus relevan.

 

Saya berkeinginan anak SMP tidak lagi dikasih pelajaran hanya dari textbook. Tapi, dikasih soal atau kasus. Beri mereka 1 kelompok untuk diskusi, saling berargumentasi mencari opsi solusi.

 

Yang penting bukan solusinya, tapi proses dari belajarnya. Sekarang internet dipakai di sekolah untuk UNBK. Dipakainya di akhir proses belajar mengajar. Kita tidak bisa lagi menggunakan internet di akhir, kita harus menggunakan selama proses KBM. Biarkan anak-anak belajar dari internet.

 

Memang awalnya susah (menggunakan internet di sekolah) karena di internet banyak konten negatif. Pendidikan literasi harus kita ajarkan sejak kecil. Hoaks itu ada terus, bukan di-blockatau ditutup (peredaran hoaks), tapi diajari menyikapi. Kalau ini bisa kita lakukan, kita akan menjadi bangsa yang bisa menyikapi informasi. Kita tidak termakan hoaks.

 

Siapa yang bisa memulai itu semua? Kampus seperti UNY. Yang mendidik mahasiswa calon gurunya supaya cerdas dalam mengajar. Yang merubah prodi dan kurikulumnya agar sesuai perkembangan zaman.

No Responses

Leave a Reply