Rekor MURI Jathilan dari Jantung Jogja

 LAPORAN UTAMA

Kompleks Lapangan Hoki UNY menjadi saksi 4.483 penari melenggok indah di atas kuda-kuda. Memecahkan Rekor MURI Festival Jathilan dengan penari terbanyak, dari Jantung Yogyakarta.

 

 

“Doktor Jathilan”, julukan akrab untuk Dr. Kuswarsantyo, layaknya sedang memainkan wayang orang pada Hari Pendidikan Nasional 2 Mei lalu. 4.483 penari diarahkannya bersama untuk menari di Kompleks Lapangan Hoki UNY. Ia berdiri di baris pertama, berdampingan dengan Prof. Sutrisna Wibawa selaku Rektor UNY bersama dengan para pimpinan.

Namun, gerakan 4.483 penari tersebut tak dipaksakannya dengan kayu dan penggerak ala dalang. Semua berlangsung begitu luwes dengan hati dan latihan rutin. Lewat kesukarelaan dan semangat nguri-nguri kebudayaan Jawa. Inilah yang disebutnya menjadi salah satu kunci, kesuksesan Festival Jathilan yang dikreasikan oleh UNY.

“UNY hari ini (2 Mei) mencatatkan sejarah lewat Festival Jathilan. Terima kasih Bapak Rektor, para pimpinan, seluruh penari yang tidak bisa saya sebut satu persatu,” ungkap Kuswarsantyo selepas festival Jathilan tersebut.

 

Paling, Pertama, Unik, dan Langka

Sukses Jathilan melanjutan gegap gempita konser Maliq & D’Essential yang bertiket IPK pada Rabu (01/05) malam. Sukses ini disebut Sri Widayati selaku Executive Manager MURI DIY memiliki dua hal unik. Yang pertama, tari jathilan kreasi baru ini diikuti oleh 4.483, jauh dari rekor sebelumnya maupun target UNY yang mengundang 3.500 penari. Dan kedua, diselenggarakan sekaligus dengan Lomba Jathilan Hari Pendidikan Nasional lewat busana dan koreografi yang seunik mungkin untuk tiap-tiap peserta.

“Sehingga, gelaran tari jathilan yang digelar UNY telah memenuhi kriteria yang ditetapkan Muri yaitu Paling, Pertama, Unik dan Langka (PPUL). Bahkan, pesertanya melebihi rencana awal,” ungkap Sri.

Rekor tercatat di Muri sebagai rekor ke 8.995. Muri menganugerahkan piagam penghargaannya kepada penyelenggara dan pemerakarsa jathilan tersebut yaitu UNY.

“Dengan ini kami mengesahkan Tari Jathilan Kreasi Baru Peserta Terbanyak yang digelar UNY tercatat di Museum Rekor Indonesia,” kata Sri.

Sri mengungkapkan, ini bukan merupakan rekor yang pertama dicatat UNY. Bahkan, rekor Tari Jathilan Kreasi Baru Peserta Terbanyak menjadi rekor ketujuh yang dicatatkan UNY.

Ada Rekor Membaca Serentak Peserta Terbanyak (2005), Pembuatan Lincak atau Kursi Bambu Terpanjang (2006), dan Menulis Surat pada Kain Terpanjang untuk Presiden (2006).

Lalu, Penulisan Cerita Menggunakan Huruf Braile Peserta Terbanyak (2007), Membuat Wayang dari Gulungan Mie Instan 13 Meter (2013), dan Prof Sugiyono Penulis Buku Metode Penelitian Terbanyak (2018).

 

Latihan Panjang

Untuk menghadirkan penari dengan jumlah tersebut, UNY membuka pendaftaran penari festival Jathilan secara online. Civitas akademik UNY, komunitas, penari profesional, hingga masyarakat umum, disebutnya tinggal membuka website festunyjathil.uny.ac.id melalui gawai masing-masing.

Mereka yang berminat bisa langsung mendaftar di website tersebut. Proses pendaftaran pun disebut Sutrisna relatif mudah. Hanya perlu mengisi blangko biodata sebagai persyarataan, yang memakan waktu tak lebih dari lima menit.

Setelah tuntas mengisi persyaratan, para pendaftar secara resmi terdaftar sebagai peserta festival. Mereka langsung bisa mempelajari gerakan jathilan untuk festival, secara online melalui video tutorial yang sudah diupload Panitia Dies Natalis UNY ke Youtube.

“Mereka juga akan diundang setiap Jumat pagi di halaman rektorat UNY untuk mengikuti pelatihan jathilan. Festival ini terbuka agar semua bisa ikut dan bergembira,” imbuh Dr. Sugiharsono selaku Dekan FE.

Koreografi yang digunakan pada saat menari bersama, dibuat langsung oleh UNY dan Kuswarsantyo. Aransemen pengiring Jathilan mengacu pada pakem Jathilan tetapi dengan modifikasi.

“Termasuk aransemen musiknya juga baru ini adalah konsep pengembangan jathilan tradisi,” ucapnya.

Sutrisna Wibawa sebagai Rektor UNY pun ikut merasa bangga atas pencapaian tersebut. Apalagi menurutnya, jathilan merupakan tari tradisional Jawa tertua yang memiliki nilai seni dan edukasi yang tinggi, terutama nilai kepahlawanan, lantaran Jathilan merupakan tari keprajuritan.

“Sesuai dengan para civitas akademika UNY, yang siap menjadi para prajurit yang mengembangkan ilmu pengetahuan di NKRI,” pungkas Sutrisna usai acara di lapangan barat GOR UNY.

No Responses

Leave a Reply