Putra-Putri UNY di Kursi Pelatih, Wasit, dan Volunteer Asian Games

 LAPORAN UTAMA

UNY tak hanya menyumbangkan atlit untuk berlaga di even kebanggaan masyarakat Asia tersebut. Di balik hiruk pikuk, juga ada wasit dan volunteer yang berasal dari Karangmalang.

Berdasarkan data yang berhasil dihimpun Humas Fakultas Ilmu Keolahragaan, Sebanyak 17 mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) berlaga di Asian Games 2018 Jakarta-Palembang yang diselenggarakan pada 18 Agustus – 2 September 2018. Mereka mewakili berbagai cabang olahraga (cabor) yang meliputi atletik, bola voli pantai, panahan, rugby, kurash, dan sepakbola.

Dari 17 atlit tersebut, Rugby menjadi dominasi cabang olahraga yang diperkuat atlit UNY. Total, ada tujuh atlit. Dengan masing-masing empat anak untuk Rugby Putra, serta tiga lainnya untuk cabang olahraga Rugby Putri. Mereka yang memperkuat Timnas Rugby Putra adalah Handika H. W., Yusuf Satri Nugroho, Dionysius Oktavian dan M. Danial Al Fikri, sedangkan tiga atlit FIK UNY lainnya, Tri Sukma Nugraeni, Dian Wahyu Saputri, dan Fevi Susanti, menjadi punggawa Timnas Rugby Putri.

Sedangkan beberapa atlit FIK UNY yang memperkuat Timnas Indonesia pada cabang-cabang olahraga lain, diantaranya adalah Bayu Prasetyo (atletik), Aprilianda Adi Timur (kurash), Liontin Evangelina (balap sepeda),Vera Lestari (sepakbola putri),), Gilang Ramadhan dan Yokabed Purarie Eka (bola voli pantai), Prima Wisnu Wardhana dan Okka Bagus Subekti (panahan), serta Septian David Maulana dan Putu Gede Juni A. (sepakbola putra).

Namun di balik hiruk pikuk tersebut, jejak UNY tak hanya tersebar di jagat helatan kompetisi olahraga terbesar di Asia tersebut dalam bentuk peluh keringat di tengah lapangan hijau. Pada tepi-tepi lapangan, juga ada putra-putri UNY dengan cucuran tenaga yang sama hebatnya dengan para atlit.

Merekalah, pelatih, wasit, dan volunteer kebanggaan Asian Games yang juga datang jauh-jauh dari Karangmalang. Berdasarkan catatan sementara Pewara DInamika UNY, ada satu Kepala Pelatih TImnas Asian Games yang berasal dari UNY: Caly Setiawan, Ph.D. Beliau merupakan dosen aktif di FIK UNY.

Ada juga seorang wasit, atas nama Jantan Pangestu Insani dengan posisi resminya sebagai Assistant Director of Shoot Asian Games. Yang satu ini, adalah mahasiswa aktif Ilmu Keolahragaan angkatan 2017. Sedangkan di bidang kerelawanan (volunteer), ada dua punggawa: Duaji Rahardyan Nursantiko (Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Keolahragaan UNY angkatan 2017), dan Anggie Marthalian (Mahasiswa Pendidikan Olahraga/PJKR UNY angkatan 2016).

Semua diantara mereka tak segan mengobarkan jiwa dan raga. Bersama para atlit, untuk Indonesia!

Dilandasi dari Semangat Perjuangan

Turut terlibat di kompetisi olahraga terbesar Asia tersebut, menurut Anggie, datang dari keinginan untuk memberi uluran tangan. Sebagai pemudi, ia punya energi dan kemampuan untuk membantu sesama. Menjadi relawan Asian Games agar mampu memberikan pelayanan terbaik untuk masyarakat sekitar dan dunia, kemudian jadi pilihannya.

Disana, Anggie mengaku bahwa ia bertemu dengan sesama relawan yang tak kalah hebatnya. Melalui keberagaman budaya, pandangan, dan cara berpikir, anak-anak muda yang dijumpainya mengabdi kepada negara melalui keahliannya masing-masing. Berjuang untuk mempresentasikan Indonesia ke mata dunia.

“Dan itu membuat saya sangat bersyukur. Dipertemukan banyak orang, dan diberi kehormatan oleh negara untuk melaksanakan salah satu tugas negara,” kenang Anggie, yang diungkapkan senada pula oleh Duaji.

Dengan semangat tersebut, para volunteer kemudian memperoleh pelatihan dan penugasan untuk mensukseskan pesta olahraga terbesar se-Asia ini, melalui desk pekerjaan yang ada. Duaji misalnya, ditempatkan sebagai petugas Venue and Environment di Theature Garuda TMMI Jakarta. Sedangkan Anggie, ditempatkan sebagai petugas Departemen Ticketing di Komplek Jakabaring Palembang.

Jantan yang ditugaskan dalam tim official dan wasit sebagai Assistant Director of Shoot, juga menunaikan amanah yang diembannya dengan semangat yang sama. Ia diberikan amanah tersebut karena memiliki lisensi wasit/kepelatihan dan telah aktif dalam kegiatan kepanitiaan kompetisi panah. Sehingga saat menjadi wasit, sebagai official ia selalu berupaya untuk menjunjung tinggi nilai-nilai sportifitas dan kebaikan.

“Profesionalitas tersebut menurut saya akan berkontribusi untuk menjaga nama baik Indonesia,” kenang Jantan.

Menularkan Energi Asia

Dari semangat tersebut, Caly sebagai dosen UNY yang bertugas sebagai kepala pelatih Timnas Panjat Tebing Indonesia di Asian Games memiliki ambisi untuk menularkan energi Asia kepada lebih banyak orang. Salah satu cara yang dilakukan, adalah memastikan tim panjat tebing Indonesia bisa mengikuti kompetisi dengan baik.

Timnas Panjat Tebing putri Indonesia misalnya, atas bimbingan Caly dan kerja keras bersama seluruh tim sukses mempersembahkan medali emas di nomor beregu speed relay Asian Games 2018 di Sport Climbing, Jakabaring Sport City, Palembang.

Saat penyerahan medali pasca final panjat tebing dilangsungkan pada Senin (27/8/2018) malam, Lestari pun membuka rahasia kesuksesan dirinya juga rekan-rekannya. “Kami sangat senang karena diberi kelancaran ketika memanjat. Kami selalu berdoa agar diberi ketenangan. Itu yang selalu kami lakukan bersama tim sebelum tanding. Kemenangan ini untuk Indonesia,” kata Puji usai penyerahan medali.

Fenomena ini yang disebut Caly sebagai salah satu semangat energi Asia yang ingin ditularkan oleh Caly dan tim Panjat Tebing. Tentang bukti bahwa dengan kerja keras semua bisa memperoleh kesuksesan.

“Mereka kan on fire, maka sejatinya Indonesia dan semua diantara kita bisa mencapai apapun kalau kita bekerja keras,” tukas Caly.

Secara keseluruhan Caly juga menyebut anak didiknya sekarang sudah berada di level elite dunia setelah meraih prestasi pada Asian Games 2018. Panjat tebing berhasil menyumbang tiga medali emas, dua perak, dan satu perunggu pada Asian Games 2018.

Torehan ini sudah melebihi target Federasi Panjat Tebing Indonesia yang membidik dua emas. Caly menjelaskan bahwa para atlet panjat tebing yang sudah bergabung dalam pelatnas Asian Games 2018, sudah masuk dalam level elite.

Dengan menjadi atlit dan tim yang diperhitungkan di dunia, semangat yang ingin diusung Caly adalah meningkatkan status dan repurtasi Indonesia di mata dunia. Selain itu, status sebagai elit juga menimbulkan kewajiban besar bagi Indonesia untuk mempertahankan. Caranya, semua pihak harus berkolaborasi agar tingkat performa konsisten.

“Tidak bisa kendor, harus terus, termasuk salah satunya mengikuti kompetisi internasional dan ini harus didukung oleh banyak elemen, baik negara maupun sektor swasta. Selanjutnya, kami akan todong pemerintah karena proses pembinaan kami tidak bisa berhenti sampai di sini,” ujar Caly.

Author: 

Mahasiswa Universitas Gadjah Mada. Semua tulisan di laman pewaradinamikauny.com, telah diterbitkan di Majalah Pewara Dinamika, Universitas Negeri Yogyakarta. Untuk membaca versi lengkap dari setiap artikel dengan gambar ilustrasi dan infografis, baca versi (.pdf) majalah yang bisa diakses dan diunduh melalui bilah menu "Download Majalah".

No Responses

Leave a Reply