Prof. Mohamad Nasir (Menristekdikti) – Mengaji Qur’an, Mengkaji Prestasi

 Wawancara Khusus

Wawancara Khusus

Prof. H. Mohamad Nasir, Ph.D., Ak.

 

Mengaji Qur’an, Mengkaji Prestasi

 

Peningkatan kompetensi dan prestasi tiap insan mahasiswa menjadi hal mutlak. Intropeksi dan refleksi diri, digemakan syahdu oleh Kemristekdikti bersama dengan kajian Qur’an. Harapannya, menempa para penerus bangsa sebagai insan kamil.

 

Kepada Redaktur Pewara Dinamika, Ilham Dary Athallah, di sela-sela rangkaian Nusantara Mengaji yang digelar di UNY pada Kamis (12/07/2018), Menteri Riset , Teknologi, dan Perguruan Tinggi Prof. Mohamad Nasir berkisah tentang beban dan tugas kecendekiaan apa saja yang kini diemban mahasiswa pada usia kemerdekaan Indonesia yang ke-73. Serta bagaimana karakter yang hadir dari syafaat mengaji, dapat menjadi landasan.

 

Bagi Kemristekdikti, apa tantangan mahasiswa hari ini?

 

Ada data makro, dan pendekatan mikro. Secara besar jika kita bicara dan menaruh perhatian pada pendidikan bagi mahasiswa yang kerap disebut penerus bangsa, angka Partisipasi Kasar (APK) Indonesia ini sangat aneh. Dengan jumlah Perguruan Tinggi pada angka 4.529, APK Indonesia berada pada angka 31,5% yang sudah digabung antara Kemristekdikti dengan Kementerian Agama. Jauh tertinggal dari Thailand 51,2%, Singapura 82,7% bahkan Korea dengan APK 98,4%.

 

Padahal jumlah Perguruan Tinggi di negara-negara itu, mungkin lebih sedikit dibanding Indonesia. Dan ini baru sekedar menghitung berapa besar angka warga negara Indonesia berusia kuliah, yang sedang menempuh kuliah. Belum menghitung prestasi serta kontribusi kepada negara sesuai dengan bidangnya masing-masing.

 

Terlebih karena pendidikan tinggi Indonesia masih mengalami banyak tantangan. Mulai dari daya saing, kualifikasi dan kompetensi dosen, peningkatan infrastruktur pendidikan, technology readiness dan lain sebagainya. Dan dngan dampak revolusi industri 4.0 ini, perguruan tinggi harus menyesuaikan. Dan beberapa masalah seperti rasio dosen kedepan akan tidak menjadi masalah, karena kita mulai berpindah ke online. Tapi infrastruktur online nya di perguruan tinggi harus jelas dan memadai, dan perbanyak juga prodi yang berhubungan dengan revolusi industri 4.0

 

Disamping hal-hal makro tersebut, secara mikro, keputusan anak untuk menempuh kuliah atau tidak juga tergantung pada akses literasi, edukasi, bahkan tingkat ekonomi. Program bidikmisi di Indonesia sudah berjalan dengan baik. Sekarang mahasiswa Indonesia yang kurang mampu secara ekonomi, tidak ada kata berhenti kuliah, semua tetap terus kuliah sampai selesai. Walaupun kita tidak bisa memungkiri, tetap ada yang tidak berkuliah dan tiak berprestasi karena batasan-batasan tersebut. Sehingga menjadi penting agar mahasiswa selalu tingkatkan kompetensinya sebagai mahasiswa, ditengah tantangan, peluang, sekaligus lika-liku rintangan yang kita miliki.

 

Mengaji Qur’an, bagi mahasiswa beragama muslim, menjadi salah satu landasan yang esensial untuk mendukung pengembangan kompetensi tersebut.

 

Bagaimana mengaji bisa berkontribusi pada peningkatan kapasitas mahasiswa?

 

Layaknya yang telah saya sampaikan dalam Mauidloh Hasanah (nasihat kebajikan dalam acara pengajian Islam), apabila ada suatu kaum/masyarakat yang sedang berkumpul untuk dzikir /mengingat kepada Alloh, salah satunya adalah membaca Al-Qur’an maka Alloh akan menjanjikan 4 perkara yaitu Allah akan menurunkan rahmat untuk kita semua, para Malaikat akan melindungi mereka, akan diberikan suatu  ketenangan, Allah menyebut mereka kepada makhluk-makhluk yang ada di sisi-Nya.

 

Bagi Kemristekdikti, Menjadi hal yang sangat penting seputar bagaimana selalu berjuang menciptakan kedamaian, dengan berdzikir kepada Allah, dan dengan mambaca Al-Qur’an kita bisa diberikan ketenangan/kedamaian.

 

Kehidupan kita sebagai manusia tujuan utama kita mencari keridhoan Allah, sehingga mencari kedamaian menjadi sangat penting. Hal yang sama, juga demikian bagi para mahasiswa. Bahwa kuliah itu, mencari ilmu. Sehingga mengikuti proses, dan melandaskannya pada niat serta ridho lillahi ta’ala, menjadi mutlak. Terlebih karena era kitaadalah era kompetitif, dan sudah tidak bisa menghindar lagi. Sehingga perlu persiapan dan kerja keras, dan berkah dari Allah SWT karena karakter luhur yang senantiasa kita junjung.

 

Apa karakter luhur yang bisa diwujudkan mahasiswa lewat mengaji?

 

Melalui dzikir kepada Allah, dengan mambaca Al-Qur’an kita bisa diberikan ketenangan dan kedamaian. Hidup didunia ini sebenarnya adalah untuk mencari ibadah, namun tidak sekedar itu harus diperhatikan syariatnya seperti apa dan tuntunannya bagaimana. Bahkan, kehidupan kita sebagai manusia tujuan utama kita mencari keridhoan Allah, sehingga mencari kedamaian menjadi sangat penting.

 

Itulah mengapa misalnya, jangan sampai Perguruan Tinggi menjadi provokator, jangan sampai Perguruan Tinggi sebagaIi pencetak tipuan, jangan sampai menciptakan permusuhan, jangan sampai menjadi provokator dan pencetak hoax.

 

Tugas Perguruan Tinggi adalah menciptakan penerus masa depan bangsa, menciptakan kader intelektual masa depan. Tak sekedar sebagai agen perubahan, tapi agen perubahan menuju hal yang lebih baik. Maka dari itu kita harus selalu jaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Saya yakin, dengan menghatamkan Alquran, dapat memperkuat mental mahasiswa serta meminimalkan gerakan radikalisme di kampus. Termasuk, karakter kebaikan dalam mahasiswa dalam bersikap.

 

Contoh karakter kebaikan yang dapat dipetik mahasiswa?

 

Kita kembali kepada filosofis kembali, mengapa kita mengkhatamkan Al Qur’an. Hadist riwayat Bukhari misalnya, menyebut membaca Al-Ikhlas sebanding dengan sepertiga Quran. Ada yang mengatakan, kalau membaca Al-Ikhlas tiga kali, Al-Falaq sekali, dan An-Nas sekali, itu sudah khatam.

 

Tapi sejatinya, dalam Al Qur’an sudah disarikan dalam surat yaitu surat Al-Fatihah. Ada sifat-sifat Allah, Asmaul Husna, ada Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Sigat rohman, pengasih, dan rohim, penyayang, yang bisa kita teladani. Secara Sulasi Mujarra (kajian kata dasar bahasa arab), ada makna kepasrahan dan menyerahkan diri. Cinta dan kasih.

 

Kalau didalam dirinya mengatakan dia orang islam, tapi selalu membuat kerusakan, maka suri tauladan yang bisa mahasiswa petik dari makna sifat tersebut ya, dia bukan cerminan islam. Bukan cerminan sifat sebagai insan muslim, dan bukan sebagai cendekia muslim yang seharusnya berkontribusi pada peradaban. Maka sering diucapkan dalam kalimat takbir “Allahuakbar,” kita serahkan diri kita.

 

Ini adalah pertanda berpasrah diri. Bukan dan jangan, Allahuakbar tapi mengangkat golok. Maka dalam islam diajarkan islam rahmatialaim, kerahmatan alam, manusia dan lingkungan. Mudah mudahan, dengan kita membaca alquran, kita mendapat syafaat dair alquran tersebut. Nusantara mengaji yang kita jalankan sebagai misi, mudah mudahan dengan membaca alquran,kita mendapatkan syafaat untuk memberikan kedamaian untuk bangsa indonesia. Tidak hanya untuk dan sekedar bagi umat islam, tapi selurah umat di indonesia sebagai satu kesatuan bangsa.

 

Apa hikmah yang bisa dipetik para mahasiswa, dari gelaran Nusantara Mengaji?

 

Intinya dari menyelenggarakan nusantara mengaji, mudah mudahan dalam rangka dies natalis UNY makin maju makin berkembang. Dan kami harapkan bukan hanya mahasiswa yang makin baik, tapi mungkin para dosen yang sudah doktor segera ngurus guru besarnya. Dosen yang sedang sekolah, ya segera selesaikan. Apalagi yang belum, untuk melengkapi landasan karakter lewat pemupukan aqidah seperti agenda ini, kapasitas keilmuan juga perlu.

 

Sehingga dosen itu minimal ya doktor lah, dan meningkatkan kualitasnya selalu sehingga syukur-syukur secara institusi bisa menjadi PTNBH. Kemandirian makin baik, pergerakan makin cepat sesuai kapasitas dan kualitas yang dimilikinya. Ujungnya, mudah mudahan anda ke depan akan menjadi calon pemimpin yang mampu melakukan perubahan di negri ini untuk lebih baik.

No Responses

Leave a Reply