Prof. Intan Ahmad (Dirjen Belmawa Kemristekdikti) – Indonesia Lebih Baik!

 Wawancara Khusus

Manfaatkan Kecanggihan Teknologi Agar Indonesia Ini Lebih Baik Lagi

WAWANCARA KHUSUS – Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Ristekdikti, Prof. Intan Ahmad, Ph.D.

 

“Perpustakaan merupakan ikon universitas. Kualitasnya menentukan sejauh mana sebuah universitas itu tanggap dalam merayakan kebebasan berkarya secara ilmiah. Di Era Revolusi Industri 4.0 UNY merespons zaman dengan menyuguhkan digilib. Konsep buku yang semula berbasis cetak dan manual, kini mulai bergeser menjadi digital dan otomatis. Digitalisasi dan otomasi yang diperbincangkan dewasa ini menjadi titik pijak kenapa digilib dibangun. Digilib selesai dibangun di masa kepemimpinan Sutrisna Wibawa. Perencanaannya dikonsep sejak tiga periode rektor sebelumnya: Rochmat Wahab, Sugeng Mardiyono, dan Suyanto. Digilib lahir atas kerja kolektif”

 

Kepada Rony K. Pratama, Redaktur Pewara Dinamika, Intan Ahmad, Dirjen Belmawa, Ristekdikti, mengekspresikan selamat sekaligus menjelaskan tantangan digilib di tengah kontestasi global. Kamis, 8 Maret 2018, Intan mewakili Pemerintah Indonesia meresmikan digilib. Dengan gamblang ia melihat tantangan universitas di hari depan berikut strategi dan siasat menghadapinya.

 

Setelah meresmikan, bagaimana tanggapan bapak atas pembangunan digilib?

Ini proses pembangunan yang baik. Terima kasih atas kolaborasi UNY lintas zaman. Prof Sutrisna, bersama para rektor senior, termasuk Prof. Rochmat Wahab, Prof. Sugeng Mardiyono, dan Prof. Suyanto. Perannya sungguh luar biasa. Tanpa kenal lelah terus mengawal kesuksesan kampus.

 

Digilib dan elearning mendapatkan bantuan dari IDB. Saya ingin menyampaiakan terima kasih dan apresiasi atas kerja sama dari tim. Mulai dari manajer program kemudian sampai fasilitas ini bisa terbangun. Kita memang hidup di abad digital. Orang bisa berhubungan tanpa terikat ruang dan waktu.

 

Orang-orang kebanyakan masih menganggap bahwa belajar harus dengan buku. Ini mempengaruhi cara belajar. Cara belajar kita, kalau mengacu zaman dahulu, zamanya Aristoteles, sekarang memang menggunakan buku. Sekarang cara ini masih dipertahankan. Tapi dulu ilmu itu amat tergantung pada guru. Sekarang guru/dosen jadi faslitator informasi bisa dari segala tempat. Kita memanfaatkan informasi dari seluruh dunia. Semua orang bisa terkoneksi secara digital. Adanya big data harus bisa kita manfaatkan.

 

Misalnya, digilib di UNY ini. Yang bisa dimanfaatkan tidak saja oleh anggota Project 7in1, tapi masyarakat dunia karena terkoneksi dengan jaringan ID LAN. Jaringan ini memang difungsikan pula untuk seminar internasional. Rekan kita di luar negeri bisa terhubung melalui video call atau telekonferensi dengan mudah sekali.

 

Kegiatan level internasional jadi gampang. Seminar mudah dan murah, tidak perlu mendatangkan pembicara asing. Tinggal video saja. Itu sesuatu bagian dari distruption. Manfaatkan kecanggihan teknologi ini agar Indonesia ini lebih baik lagi. Tujuan 7in1 ini akses dan peningkatan mutu. Kemudian ada 102 modul. Paling tidak online course bisa dibagi ke 7in1. Ini kolaborasi berbasis SPADA dan Elearning bareng-bareng lintas kampus.

 

Kalau kualitas bagus bisa diambil juga oleh siapa saja yang ingin mengambil mata kuliah ini. Sehingga mahasiwa UNY bisa mengambil mata kuliah dari UNESA. Kemudian ada sertifikat dan tinggal disampaikan ke UNY sebagai bukti pemenuhan kredit. Bisa juga waktu bersamaan ambil dari luar negeri. Ini sudah biasa di negara maju. Yang penting mutu di kampus sana itu, paling tidak, minimum sama atau lebih baik. Menristekdikti sedang mengupayakan agar memudahkan mahasiswa mengambil mata kuliah secara online.

 

Apa itu SPADA dan Elearning?

Beberapa tahun lalu namanya SPADA (sistem pembelajaran dalam jaringan/online) itu telah ada di Indonesia dan diinisiasi oleh wakil presiden. Sistem ini berkembang terus dan paling tidak ada 51 universitas yang tergabung SPADA.  Untuk online course-nya sebanyak 253. Ditambah 102 modul dari 7in1. Kami merencanakan mata kuliah yang baik dan dikembangkan secara basic science.

 

Kami sedang merencanakan agar ada, semisalnya, kampus berbasis subjek. Contohnya, kalau ada kampus X yang jadi ikon subjek tertentu, maka kampus tersebut menjadi model. Kalau mau belajar Biologi ya di sana. Sehingga nilai A di kampus A mestinya sama di kampus B. Saya sendiri, sebagai dosen, melihat model negara maju bisa kita ambil kurikulum universitas terbaik di dunia. Mungkin kita bisa ambil tapi apa bisa kita deliver? Kan mahasiswa dan lingkungannya beda.

 

Dengan digilib dan online course mudah-mudahan disparitas kualitas bisa dikurangi dan Indonesia bisa lebih baik lagi dalam menghadapi era Revolusi Industri 4.0. Terima kasih atas inisiatif para rektor sehingga proyek 4.0 bisa jalan. Yang dimulai dari UNY ini dapat jadi referensi. Kalau makin banyak yang menggunakan digital course, maka akan meningkatkan kualitas keseluruhan.

 

Bagaimana dengan pembelajaran online?

Dalam pembelajaran online itu saya berpendapat bahwa jangan 100% dulu. Saya masih percaya belajar langsung. Soalnya itu tidak bisa kita peroleh dengan interaksi online. Kita kembangkan konsepnya sehingga blended learning. Oleh karena itu, capaian pembelajaran sesuai dengan apa yang kita butuhkan.

 

Kalau ingin lulusan yang bahasa Inggrisnya jago itu tidak bisa hanya dilengkapi dengan kemampuan kognitif, tapi juga diimbangi bagaimana melatih kepemimpinan, kerja sama, dan empati dengan kegiatan-kegiatan. Yang tidak saja di kelas, tapi juga di luar kelas. Program 7in1 ini awal yang baik sekali apalagi dimulai dari UNY. Semoga jadi icon building yang komplit. Soalnya ada video conference juga sehingga academic atmosfere bisa terbangun baik.

 

Tanggapan tentang Revolusi Industri 4.0 yang diperbincangkan saat ini?

Prof. Natsir menyampaikan berkali-kali bagaimana kita bisa masuk pada era Revolusi Industri 4.0. Kita juga perlu melihat Indonesia ini secara nyata. Disparitas antarkampus jadi sesuatu yang luar baiasa. Bagiamana kita bisa masuk ke revolusi industri 4.0 tapi masalah yang ada pun bisa kita perbaiki.

 

Ini kan jadi dua hal. Nasib lulusan universitas yang jumlahnya ratusan ribu dan keadaan revolusi industri. Apabila kita lengkapi mahasiwa kita dengan berbagai keterampilan yang dibutuhkan, mudah-mudahan bisa kita lukukan. Yang perlu ada adalah fasilitas digital dan di UNY sudah ada.

 

Ini tantangan bagi banyak pihak bagaimana memanfaatkan big data, salah satu produk dari Revolusi Industri 4.0. Ini juga memerlukan satu hal yang harus dilakukan para dosen. Jangan sampai yang mendaptkan info terakhir mahasiswa. Percayalah generasi muda ini lebih pandai. Kalau ingin meningkatkan mutu kita juga harus bisa mengikuti perkembangnan ilmu pengetahuan lainnya.

 

Tantangan pemanfaatan dunia digital oleh kampus?

Dengan luar negeri apakah digilib sudah terkoneksi secara baik? Termasuk di Malaysia maupun Taiwan. Belum siap? Ooo belum siap. Ini persoalan teknis sebetulnya. Di Indonesia jaringannya macam-macam. Saya bisa cerita ini karena saya di ITB pernah mengurusi internet. Kadang ada kawan dosen mengatakan, “Kenapa internet di ruangan saya lambat, katanya di kampus cepat.” Internet cepat atau lambat tergantung umur dari komputer/router yang terkonek di ruangan itu.

 

Jadi, kalau bapak-ibu punya router canggih, kemudian di gedung itu ada komputer lawas, maka akan menghambat kecepatan. Mestinya dengan project 7in1 ini bisa dijaga kecepatannya. Kalau tidak akan mengikuti kecepatan prosesornya yang lama. Walaupun kita sudah punya jaringan fiber optic, kalau masuk ke jenis komputer generansinya beda, ia akan saling berpengaruh.

 

Dengan demikian, masyarakat pengguna digilib bisa memanfaatkan fasilitas di perpus digital ini saja. Tapi beda dengan perpus konvensional. Digilib, selain materi-materi yang dilanggankan, juga bisa mengakses materi di seluruh dunia. Itu yang membedakan. Jadi, tidak terbatas. Di Indonesia difasilitasi ID REN (Indonesia Research and Educaton Network) yang terkoneksi dengan jaringan riset internasional.

 

Untuk Indonesia, melalui 7in1, dikembangkan lebih dari 100 modul matakuliah yang bisa diambil. Tidak saja diperuntukkan untuk anggota 7in1, tapi juga kampus-kampus lain selama mereka memerlukan matakuliah itu. Harapannya matakuliah tersebut bisa dipergunakan untuk memenuhi persyaratan SKS. Ini cara baru pembelajaran.

 

Dengan digilib dan e-learning, fasilitas bisa digunakan, tidak saja untuk pembelajaran, tapi juga untuk seminar internasional. Kalau kita berangkat ke luar negeri/mengundang, kita cukup hadir/menghadirkan lewat telekonferensi. Ini mudah dan murah. Tidak perlu ongkos. Sekarang semua terkoneksi lewat internet. Ini harus dilakukan kalau ingin jadi bangsa yang kompetitif di era digital ini.

 

Harapan besar bapak terhadap digilib apa?

Informasi bisa diakses dari mana saja kembali ke niat pembelajar. Tentu ada policy yang biasa berlaku untuk digilib. Secara teknis tidak sulit mengatur situs-situs yang tidak bisa diakses. Kembali saya imbau, kalau memang untuk belajar, fasilitas digilib ini luar biasa. Nyaman bagi yang ingin fokus. Mengakses informasi yang termasuk layanan digilib bisa dilakukan di mana saja. Bisa diakses dari rumah tapi dia harus punya akses khusus untuk fasilitas UNY. Harapannya bisa menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas pembelajar dan penelitan pendidikan.

 

Selama ini konsep digilib di Indonesia sudah banyak. Kampus-kampus sudah mulai mengembangkan besar-besaran. Nah, di UNY ini secara khusus memang mengembangkan digilib. Selain itu, perpus lama juga masih ada. Pendekatan baru. Kami juga mengapresiasi berbagai kampus karena sudah melaksanakan pengembangan digilib yang luar biasa.

No Responses

Leave a Reply