Prof. Edi Purwanta (Wakil Rektor II), Membangun Sarpras, Mengokohkan Prestasi

 Wawancara Khusus

Wawancara Khusus – Prof. Dr. Edi Purwanta, M.Pd.

Membangun Sarpras, Mengokohkan Prestasi

Deru pembangunan Digital Library telah tuntas. Tapi ia hanyalah awal dari pembangunan sarana dan prasarana di UNY di tahun 2018. Sekitar 70 Miliar hendak digelontorkan tahun ini. Targetnya, menyokong kokohnya prestasi sekaligus kinerja tiap cendekia kampus ini.

 

———-

 

Kepada Pewara Dinamika, Prof. Edi Purwanta kemudian berkisah tentang bagaimana pembangunan sarana dan prasarana (Sarpras) dirumuskan dan diejawantahkan dengan karya nyata di UNY. Sekaligus merefleksikan tantangan apa saja yang menghadang sepanjang jalan pembangunan di setiap sudut kampus, yang tak boleh menjadi alasan bagi segenap civitas kampus untuk menyerah karena tujuan luhur gedung-gedung tersebut nantinya.

 

Seperti apa target pembangunan Sarpras UNY di tahun 2018?

 

Hari ini (8 Maret 2018, Soft Launching Digital Library UNY), kita sudah punya gedung (Digital Library) yang akan menjadi sumbu kecendekiaan dalam kerangka World Class University. Gedung ini nantinya bukan hanya akan menyediakan akses teknologi informasi yang mumpuni bagi civitas, tapi juga akses jurnal yang lebih inklusif sekaligus kapasitas yang lebih baik dalam menyediakan digitalisasi skripsi, tesis, disertasi maupun penyediaan literatur berbasis daring lainnya.

 

Sehingga target pembangunan Sarpras UNY di tahun 2018, pada dasarnya adalah berangkat dari potensi dan kapasitas sarpras yang sudah kita miliki layaknya Digital Library ini untuk terus mengokohkan prestasi. Seiring dengan pembangunan fisik yang kita akan terus helat. Pelaksanaan pembangunan IDB yang kita terus pantau progressnya agar selesai sekitar Agustus-September 2018 ini, juga nantinya akan diiringi fasilitas yang lebih komplit layaknya apa yang ada dalam laboratorium.

 

Jadi di luar, boleh jadi yang kelihatan adalah mendirikan gedung. Tapi sebenarnya yang hendak kita bangun dengan kokoh lewat pengembangan sarpras, adalah peningkatan kinerja seluruh sivitas; baik mahasiswa maupun dosen. Dimana peningkatan itu, berarti memacu capaian berbasis Tridharma Perguruan Tinggi. Membangun sarpras yang bermanfaat untuk proses pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan, serta pengabdian kepada masyarakat.

 

Bagaimana kemudian pembangunan fasilitas laboratorium bisa berkontribusi pada prestasi?

 

Pertanyaan ini seharusnya perlu dibalik: bagaimana bisa coba, pembangunan fasilitas laboratorium tidak berkontribusi pada prestasi. Pasti berkontribusi! Bahkan bagi saya, perkuliahan tanpa laboratorium tidak akan jadi, dan tidak akan berjalan dengan baik.

 

Pengembangan keilmuan akan didukung secara sangat baik dengan adanya laboratorium, karena kemampuannya menghadirkan produksi pengetahuan melalui riset. Proses pembelajaran juga pastinya akan lebih bagus, karena laboratorium juga menjadi sarana utama pembelajaran. Laboratorium kemudian layak menjadi fokus pembangunan sarpras di UNY, ditengah ruang kuliah yang Insya Allah kita sudah rasa cukup.

 

Selain itu, pengembangan laboratorium yang baik juga dapat mendukung prestasi mahasiswa dalam kompetisi. Misalnya, Laboratorium Teknik Mesin dan Otomotif baru yang nantinya akan menjadi satu dari 13 gedung hasil proyek IDB. Mahasiswa ikut lomba mobil layaknya Garuda UNY, atau kompetisi apapun, bisa meningkat dengan fasilitas yang akomodatif dan mumpuni. Bengkel Otomotif Fakultas Teknik maupun Kompleks Aula Fakultas Teknik yang selama ini dijadikan basecamp para Garuda UNY inipun, saya yakin bisa makin mantap dengan dukungan laboratorium baru.

 

Selain target Prestasi, bagaimana Sarpras berkontribusi untuk mewujudkan misi-misi UNY lainnya?

 

Selalu kontributif dan memang menjadi basis dalam setiap pengambilan keputusan kita. Misalnya upaya untuk menjadi Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH), kita lakukan dengan cara mengembangkan aset yang menghasilkan pendapatan (income generating). UNY saat ini telah cukup mengembangkan diri untuk menjadi leading dalam pembinaan maupun penyelenggaraan pendidikan keguruan. Maka kita bangun pusat tes, selenggarakan secara lebih intensif Pendidikan Profesi Guru baik yang mandiri dan bersubsidi, ataupun program-program yang mengejawantahkan potensi tersebut. Saat ini, sudah mulai digarap untuk mencari alternatif.

 

Untuk lokasi pembangunan sarpras, akan terfokus di kampus mana?

 

Keempat kampus, semuanya! Karena semuanya punya kebutuhan masing-masing, dan menjadi tugas kita untuk mengembangkan, walaupun kita dalam semua pembangunan, punya keinginan untuk memesan gaya bangunan yang berbasis unity, kepraktisan, sembari tetap mempertahankan karakter dan corak Yogyakarta.

 

Rinciannya, (Kampus) Karangmalang akan menerima fasilitas 13 gedung IDB yang mayoritasnya memang laboratorium, dan akan menjadi komitmen kita untuk mengembangkan fasilitas maupun utilitasnya untuk mengokohkan prestasi. Termasuk gedung parkir yang menjadi substitut atas Digital Library yang berdiri di bekas lahan parkir, serta fasilitas penghijauan dan tata ruang lainnya.

 

Kampus UPP 1 (Kampus Mandala) dan Kampus UPP 2 (Kampus Bantul), juga akan terus dikembangkan dari segi sarpras sesuai kebutuhan dan potensinya. Sedangkan Kampus UPP 3 UNY (Kampus Wates), ini yang menjadi salah satu concern utama kami untuk pengembangan sarpras. Kehendak untuk mengembangkan Vokasi di Kulonprogo dengan segala potensi dan dinamika yang ada di dalamnya, menjadi alasan atas hal tersebut. Sehingga tak ada kata lain, kecuali maju terus! Agar seiring waktu bertahap menyiapkan fasilitas mumpuni, dan mampu memindahkan D3 secara bertahap ke Wates.

 

Bagaimana trajektori pengembangan Kampus Wates di tahun ini?

 

Sesuai upaya kami mengembangkan Vokasi di Kulonprogo, saat ini kami dalam tahapan audiensi dan diskusi intensif dengan Pemerintah Kabupaten Kulonprogo untuk penyediaan tanah. Selama ini kan kita telah memiliki tanah sekitar 4-5 hektar, tapi belum tentu mencukupi sehingga kita secara bertahap hendak menambah luasan tanah juga seiring dengan pengembangan fasilitas laboratorium. Baru ketika semuanya sudah siap dan berkembang, kita pindahkan secara bertahap mana yang sudah dirasa siap.

 

Sejauh ini, tanggapan Pemerintah Daerah cukup positif. Walaupun tidak bisa dinafikan bahwa kebutuhan kita atas penyediaan tanah itu memang menjadi problematika yang unik dan dinamis. Di satu sisi, luasan tanah yang kita hendak beli belum ada. Tapi di sisi yang lain, status kepemilikian tanah dan rencana tata ruang yang memang memiliki dinamikanya tersendiri menjadi tantangan bagi kami.

 

Misalnya kemarin Kabupaten sempat ada wacana kita akan memperoleh tanah 40 hektar. Namun, tanah milik pemerintah atau yang berstatus Sultan Ground (SG) hanya sekitar 20 hektar. Sisanya milik penduduk, yang kepemilikannya beragam. Kita bisa saja dan ingin bernegosiasi dengan penduduk, tapi kerap kali, kita terhambat aturan yang menegaskan bahwa harga tanah haruslah ditentukan oleh appraisal dan sesuai dengan harga satuan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan dan turunannya.

 

Padahal, warga pasti pinginnya tanah dijual agak mahal. Apalagi tahu, yang beli UNY, yang beli negara, dan nanti daerah ini (Wates) akan makin ramai dengan adanya ekspansi UNY. Seperti NYIA (Bandara Kulonprogo) itu kan, sampai akhirnya konsiyasi karena memang diputuskan sebagai proyek strategis nasional.

 

Lalu bagaimana menjembatani tantangan pengadaan tanah untuk Kampus Wates?

 

Problematika tanah sedemikian rupa, masih kita coba jembatani dengan cara dialog maupun aksi aksi dalam tataran perencanaan. Sementara ini kita mewacanakan pembangunan kampus yang terpisah dengan Kampus Wates existing, karena kita ingin luas. Keinginan kita untuk tanah yang luas ini, juga terkait dengan tujuan besar UNY. Pemeringkatan Green metric dan kepentingan kampus di bidang penghijauan misalnya, juga bisa sangat berkembang ditengah kepemilikan luasan kampus yang bisa menjadi basis kita menjadi Green Campus.

 

Untuk itulah, di daerah sekitar utara Kampus Wates, Pak Bambang (Bambang Saptono M.Si, Ketua Pengelola Kampus Wates), terus bernegosiasi untuk memperjuangkan pengadaan tanah bagi UNY. Kalau tanah kas desa, nanti bisa tukar guling. Sedangkan kalau tanah penduduk, ya tetap diperhitungkan, walau memang tidak mudah.

 

Tapi intinya,  kita sebagai pelaksana tugas pembangunan ini selalu semangat. Dan begitu juga selayaknya seluruh civitas UNY untuk turut mendukung maupun berkontribusi dalam mewujudkan sarpras sebagai sarana berprestasi!

 

Bagaimana cara civitas UNY turut berkontribusi dalam pengembangan Sarpras?

 

Sederhana, namun perlu selalu diingat: manfaatkan sesuai fungsinya dan ikut pelihara! Mulai dari sekedar matikan kran air setelah dipakai, hingga tidak merusak tembok maupun alat komputer misalnya. Ini juga termasuk mengimplementasikan dalam tataran konkrit, atas nilai karakter yang terus ditekankan leluhur kita dalam filsafat jawa: Mulat Sarira Hangrasa Wani (kenalilah dirimu dan bersikaplah berani), Rumangsa Melu Handarbeni (merasa ikut memiliki), dan Wajib Melu Hangrungkebi (wajib ikut mempertahankan). Kalau mau jadi cendekia sejati sesuai dengan jargon UNY, ya menurut saya ini (menjaga sarpras) adalah kawah candradimukanya!


Profil

Klaten, 5 November 1960

 

Latar Belakang Pendidikan:

1983, S1 Bimbingan dan Konseling, IKIP Yogyakarta

1993, S2 Bimbingan dan Konseling Sekolah, IKIP Malang

2011, S3 Bimbingan dan Konseling, Universitas Negeri Malang

 

Jabatan:

Dosen Jurusan Pendidikan Luar Biasa, FIP UNY (1984-sekarang)

Wakil Dekan 2 FIP UNY 1999 – 2007

Kepala Pusat Pengembangan Profesi Pendidik, Tenaga Kependidikan, dan Non-Kependidikan (P4TKN) LPPMP UNY 2012 – 2014

Ketua Badan Pengelolaan dan Pengembangan Usaha (BPPU) 2014 – 2016

Wakil Rektor II UNY (2016-sekarang)

 

 

No Responses

Leave a Reply