Prof. Ajat Sudrajat (Dekan FIS UNY) – Mudik, Kembali ke “Udik”

 Wawancara Khusus

Wawancara Khusus

Prof. Dr. Ajat Sudrajat, M.Ag.

 

Mudik berarti mengampung. Menuju kampung halaman, tempat hati tiap insan urban bertambat. Lebaran kemudian menjadi momentum. Mengokohkan ikatan pada sejarah, dan saudara sedarah yang telah membesarkannya.

 

——-

 

Kepada Redaktur Pewara Dinamika, Ilham Dary Athallah, Prof. Ajat Sudrajat kemudian bertutur atas kontemplasinya berkenaan filosofi mudik. Bagaimana ia dilakukan dalam variasi temporal yang suci, idul fitri, juga terefleksikan lewat penguatan ukhuwah, silaturahim, sekaligus menjadi momentum pemerataan ekonomi kebangsaan yang berkeadilan.

 

Secara historis, bagaimana fenomena “mudik” ini sebenarnya muncul?

 

Dalam bahasa Melayu ada kata ‘udik’. Kadang-kadang ada olok-olok yang dilontarkan seseorang dengan menggunakan kata tersebut. Misal dalam bahasa Sunda: ‘ sia mah udik pisan’, artinya “kamu itu kampungan sekali’. Padahal, kata udik ini seyogyanya bukan olok-olok. Frasa kata bersifat netral. Kita saja, yang kerap mengasosiakannya dengan makna secara subjektif.

 

Jadi istilah ‘mudik’, dengan tambahan huruf ‘m’,  bisa diartikan seseorang  atau sekelompok orang yang ‘mengampung’. Atau secara umum ‘ seseorang atau sekelompok orang yang kembali atau menuju kampung halaman’.

 

Tradisi mudik ini merupakan akibat dari mobilisasi orang-orang ‘udik’ (kampung) ke tempat lain di luar kampung aslinya. Mobilisasi bisa dikarenakan banyak hal, dan ke tempat manapun. Bisa saja sebenarnya, ke kampung lain. Namun secara filosofis, ia berpindah. Tercerabut raganya dari tempat asal, namun hati tetap tertambat disana. Itulah yang dikokohkan kembali lewat fenomena mudik.

 

Sejak kapan, fenomena mudik muncul?

 

Tak ada catatan historis pasti untuk itu. Tapi yang pasti, manusia sebagai makhluk sosial adalah makhluk yang mobile. Manusia pertama di bumi ini, Adam dan Hawa yang diturunkan di surga, juga awalnya berkelana hingga bersua di Jabal Rahmah. Keturunannya menyebar ke penjuru dunia. Sedangkan bangsa kita sendiri, telah termasyhur sebagai bangsa pelaut.

 

Dalam kaitannya dengan kebahasaan tadi, Dalam pergaulan masyarakat Betawi terdapat kata “mudik” yang berlawanan dengan kata “milir”. Bila mudik berarti pulang, maka milir berarti pergi.

 

Kata “milir” merupakan turunan dari “belilir” yang berarti: pergi ke Utara. Dulu, tempat usaha banyak berada di wilayah Utara – lihat sejarah Batavia dan Sunda Kelapa. Ada pula pendapat mengatakan mudik merupakan tradisi primordial masyarakat petani Jawa. Mereka sudah mengenal tradisi ini bahkan jauh sebelum Kerajaan Majapahit berdiri.

 

Biasanya tujuan pulang kampung untuk membersihkan pekuburan dan doa bersama kepada dewa-dewa di kahyangan untuk memohon keselamatan kampung halamannya yang rutin dilakukan sekali dalam setahun. Tradisi ‘nyekar’ masih terlihat hingga kini. Kebiasaan membersihkan dan berdoa bersama di pekuburan sanak keluarga sewaktu pulang kampung masih banyak ditemukan di daerah Jawa. Karena itulah kata “mudik” bermakna: Selatan.

 

Semua latar belakang pengartian tersebut dapat kita refleksikan, bahwa mudik sudah ada sejak zaman lampau. Tercermin dari bagaimana bahasa kita telah menyimbolkan dan penyebutannya.

 

Apa yang menjadi penyebab mudik terjadi?

 

Dalam scope yang lebih kecil, perkawinan dengan orang di luar kampung dan daerahnya, bisa menjadi contoh  contoh. Juga, karena mencari pekerjaan, sehingga mengharuskan pindah dari tempat kelahirannya. Masih ada sejumlah penyebab lain, sehingga seseorang harus meninggalkan kampung halamannya. Oleh karena itu, mudik menjadi fenomena dan budaya massal.

 

Pihak lain, mungkin merasakan hal yang berbeda sebagai penyebab perpindahan. Ada alasan pernikahan antar suku, antar wilayah, kan sudah sering terjadi. Jawa-sunda, jawa-sumatera, terlepas dari latar belakang historis maupun perbedaan geografis, juga kerap kita saksikan.

 

Lalu, kenapa mudik terkesan lebih masif baru-baru ini?

 

Sudah sejak lama ada kebiasaan untuk bertempat aslinya yang disebut udik itu keluar dari kampung. Hanya saja sifat massal, dan baru kelihatan sekarang secara lebih besar, karena tingkat perekonomian yang makin maju. Ssehingga siapapun ingin bekerja di kota besar. Kantong-kantong perekonomian juga makin banyak, sekaligus makin terpusat.

 

Untuk urusan sekolah, juga kerap demikian. Banyak sekarang dengan meningkatnya kemampuan ekonomi sekaligus semangat sekolah, anak berani merantau. Bukan hanya semasa kuliah, tapi setingkat SLTP (SMP) dan SLTA (SMA), juga banyak kita saksikan anak-anak bersekolah misalnya ke Jogja. Kalau zaman saya dulu, masih jarang seperti itu.

 

Walaupun saya orang kampung, lahir dan menempuh SMA Ciamis, juga sudah berani nekat untuk sekolah keluar kota. Sekolah perguruan tinggi di jogja, dan tidak pulang lagi. Istripun dibawa ke jogja, sembari cari rezeki dan mengabdi disini. Makanya sekarang sudah massal karena mobilitas tinggi dari satu tempat ke tempat lain sehingga ada keperluan. Kembali ke kampung sekaligus mengingkatkan hubungan persaudaraan diantara sekian banyak keluarga kembali ke tempat realitf singkat. Hubungan kekeluargaan dikuatkan dengan sodara-sodara yang barangkali jauh dari tempat tinggalnya, kembali ke kampung.

 

Sehingga tradisi itu kan sudah terjadi sejak lama. Dan kemudian saat tertentu, kembali menengok kampung. Lebaran kemudian jadi waktu cocok untuk menengok. Ukhuwah sekaligus silaturahim, terjaga lewat momen ini.

 

Apakah mudik selalu dilakukan masyarakat sejak dahulu pada momen idul fitri?

 

Inilah uniknya Indonesia, dimana perjalanan asimilasi budaya dan agama kemudian menempatkan mudik dalam variasi temporal hari umat suci islam tersebut. Ini bisa kita tilik lagi secara variasi spasial, karena walaupun mengadopsi bahasa Arab, namun event “halal bil halal” hanya popular di Indonesia. Menurut Masdar Farid Mas’udi, tahun 1948 “halal bil halal” ini diinisiasi oleh KH. Wahab Chasbullah dengan alasan; Pertama “thalabu halal bi thariqin halal” yaitu mencari penyelesaian masalah atau mencari keharmonisan hubungan dengan cara mengampuni kesalahan. Ke-dua “halal yujza’u bi halal” yaitu pembebasan kesalahan dibalas pula dengan pembebasan kesalahan dengan cara saling memaafkan.

 

Meminta maaf pada hari-hari biasa, dirasakan berat atau aneh oleh sebagian orang, baik karena rasa gengsi atau khawatir menimbulkan sinisme dari orang lain. Forum lebaran mendekonstruksi itu semua, bahwa secara tradisi semua orang harus meminta maaf sekaligus memafkan kesalahan orang lain. Yang tidak melakukan perbuatan meminta maaf dan memaafkan justru dianggap deviant behavior (perilaku menyimpang) atau aneh oleh masyarakat.

 

Halal bil halal dengan mengundang kerabat atau extended families pada waktu dan tempat yang sama dalam masyarakat Jawa juga biasa diadakan dalam momen mudik lebaran. Kekerabatan pada masyarakat Jawa dapat menjadi media untuk membangun atau memperkokoh identitas anggota-anggotanya. Termasuk, memperkokoh ekonomi bangsa lewat distribusi uang ke daerah.

 

Caranya?

 

Aktivitas mikroekonomi tiap rumah tangga itu dalam melakukan konsumsi. Niatnya memang banyak keluarga sekalian piknik semisal. Karena momennya tepat. Silaturahmi sudah terlaksana baik. Ada kebersamaan diantara mereka. Yuk sekalian jalan. Kita barangkali jarang.  Momen kebersamaan sehinga bisa refreshing bersama, yang selama ini penat di kerjaan. Ada kebersamaa yang kuat diantara keluarga besar. Tapi hasil dari penguatan kebersamaan tersebut, kita berwisata ke suatu tempat, berujung pada pendapatan bagi penyedia jasa wisata, makanan, dan lain sebagainya.

 

Disini laissez faire ala ilmu ekonomi dapat direfleksikan. Transaksi berbasis keuntungan individu, hasilnya dinikmati sebagai kenikmatan kolektif. Momentum pemerataan ekonomi kebangsaan yang berkeadilan melalui momentum redistribusi pendapatanyang selama ini hanya terpusat di kota-kota besar.

 

Apa hikmah yang dapat dipetik warga UNY dari pengalamannya mudik?

 

Sudah refreshing, sudah bersua keluarga, dan sudah kembali ke fitri. Sehingga ketika kembali dengan semnagat baru, sesuai juga dengan kondisi kita ketika masuk di bulan syawal. Semangat baru, orientasi baru, prestasi baru. Dengan kata lain, ada gairah, energi yang bisa memperbaharui UNY sesuai dengan citacita yang ingin kita bangun bersama-sama. Menuju UNY yang lebih baik dan menjadikan institusi kebanggaan kita sebagai world class university.

 

 

 

Tempat Tanggal Lahir             : Ciamis, 21 Maret 1962

Latar Belakang Pendidikan     :

S1 Perbandingan Agama IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 1988

S2 Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 1995

S3 Pascasarja UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2009

Jabatan:

Dosen Prodi Sejarah FIS UNY, 1990-sekarang

Dosen Pascasarjana UNY, 2009-sekarang

Guru Besar Pendidikan Agama Islam UNY, 2011-sekarang

Dekan FIS UNY, 2015-sekarang

 

 

 

No Responses

Leave a Reply