KISAH JAWARA UNY: Hapuskan Bullying dari Bumi Yogyakarta 

 LAPORAN UTAMA

KISAH JAWARA UNY: Hapuskan Bullying dari Bumi Yogyakarta 

 

Melawan perundungan (bullying), telah menjadi idealisme yang mengakar kuat dalam diri Lintang Robbani dan Timnya. Medali Emas Presentasi dan Poster PIMNAS, menjadi ganjaran atas perjuangan mereka merintis aplikasi penangkal perundungan. 

Ramainya kasus perundungan di sekolah hingga menyebabkan dampak secara fisik dan tekanan mental. Bahkan tak jarang layaknya diungkapkan Siti Aminah selaku dosen Psikologi Pendidikan dan Bimbingan yang juga, murid yang dirundung sampai berimplikasi pada kehidupannya seperti depresi. Sehingga menodai fungsi lembaga pendidikan yang sudah selayaknya menjamin kondisi anak berada dalam lingkungan pendidikan. Serta menjamin anak perlindungan dari kekerasan fisik, psikis, kejahatan seksual dan kejahatan lainnya. 

Namun, pada umumnya sekolah belum memberikan solusi atau treatment yang tepat tentang beberapa permasalahan kasus perundungan ini. 

Selain itu, rendahnya pemahaman siswa terkait pergaulan sosial bahkan menganggap perundungan sebagai salah satu cara dalam bergaul membuat tingginya kasus perundungan di sekolah. Akhirnya tanpa sadar membuat korban tersakiti secara fisik, trauma psikis dan bahkan bisa terjadi kematian. 

Ketakutan siswa untuk melaporkan tindakan perundungan yang terjadi juga menjadi penyebab atas terlambatnya penuntasan kasus perundungan di sekolah. Kurang maksimalnya peran Guru BK dalam mengatasi kasus perundungan yang terjadi karena ketidakoptimalan pemanfaatan layanan. Terbatasnya jumlah guru BK yang tidak sebanding dengan jumlah siswa serta terbatasnya waktu untuk pemberian layanan BK pada siswa. 

Padahal, Kota Yogyakarta menduduki peringkat tertinggi dalam kasus bullying atau kekerasan di sekolah. 

“Dari penelitian di tiga kota besar yakni Jakarta, Surabaya, dan Yogyakarta, peringkat tertinggi untuk kasus bullying atau kekerasan fisik maupun psikis di sekolah, yakni di Kota Yogyakarta,” ujar Ketua Forum Guru Pembimbing Psikolog Cabang Bantul, Catur Budianti. 

Banyaknya jumlah sekolah di Kota Yogyakarta yang merupakan kota pelajar, maka banyak pula kekerasan di sekolah. 

“Hal ini kemungkinan disebabkan oleh banyaknya sekolah di Kota Yogyakarta yang merupakan kota pelajar, sehingga kasus kekerasan di sekolah pun lebih banyak dibanding kota lain. Jumlah korban bullying di Yogyakarta paling banyak,” lanjutnya. 

Hal ini menjadi PR/tanggungjawab guru dan semua pihak untuk mengarahkan siswanya/anak agar tidak melakukan bullying. Termasuk bagi Lintang Robbani sebagai mahasiswa Bimbingan dan Konseling, yang kemudian bersama rekan-rekannya memandang perlunya sebuah solusi untuk memudahkan pelaporan tindakan perundungan. Sekaligus, dapat mengoptimalkan pemberian layanan dari Guru BK dalam rangka mengedukasi siswa tentang bahaya perundungan. 

Melalui Program Kreativitas Mahasiswa yang diselenggarakan oleh Kemenristekdikti 2018, mahasiswa UNY yang terdiri dari Lintang Robbani, Muhamad Nur Chozin dan Andri Muhyidin merancang solusi dalam membantu Gerakan Anti-Perundungan berupa aplikasi konseling berbasis Android yang diberi nama “Konselorku”. 

“Ini merupakan idealisme kami, untuk berkontribusi mengembangkan pendidikan di sekolah. Bullying harus dilawan,” tegas Lintang. 

Fitur Meminimalkan Perundungan 

Lintang Robbani menjelaskan, aplikasi berbasis Android tersebut akan disediakan di Google Play Store dan dapat diunduh secara gratis oleh guru maupun siswa SMA untuk dipergunakan sebagai media konseling. Secara khusus untuk melihat kabar terbaru tentang perkembangan aplikasi konselorku dapat diakses pada halaman web https://konselorku.com. 

Lintang Robbani selaku ketua tim memaparkan bahwa aplikasi “KonselorKu” memiliki fitur-fitur yang dapat meminimalkan kasus perundungan di sekolah. Di antaranya adalah fitur Lapor yang memberikan fasilitas kepada siswa untuk dapat melaporkan kejadian perundungan langsung kepada Guru BK nya. 

Kemudian Daftar Guru BK sekolah yang dapat dihubungi secara langsung jika ingin berkonsultasi. Fitur Assestment untuk mendeteksi awal gangguan psikologi atau mental yang dihadapi oleh siswa sebelum melaporkan lebih lanjut. Kemudian terdapat artikel – artikel yang dapat memotivasi siswa dan memberikan pengetahuan tentang perundungan. Secara khusus juga terdapat biodata siswa untuk mempermudah para guru dalam mengenali siswa pelapor. 

“Untuk menggunakan aplikasi ini diperlukan pendaftaran akun terlebih dahulu baik guru maupun siswa, kemudian akan ditampilkan fitur aplikasi yang siap digunakan. Siswa hanya perlu untuk menavigasikan ke fitur apa yang ingin digunakan,” ujar Lintang. 

Fitur dalam aplikasi KonselorKu disesuaikan dengan kebutuhan siswa SMA. Melalui aplikasi ini, siswa akan dimudahkan untuk melaporkan tindakan perundungan yang terjadi, baik yang ia alami maupun yang ia lihat agar dapat segera diatasi sehingga tidak memberatkan mental maupun mengganggu keamanan dalam proses belajar siswa. Dengan aplikasi ini guru BK dapat dengan mudah memberikan fungsi pemahaman pada siswa melalui layanan Bimbingan dan Konseling sehingga seluruh siswa dapat terpantau dan setiap kasus perundungan dapat segera diatasi. 

Lintang menjelaskan, bahwa selain pelaporan perundungan, melalui aplikasi “KonselorKu” siswa dapat dengan mudah melakukan konseling apabila ia memiliki masalah baik akademik maupun non akademik secara online melalui smartphone mereka dan nanti akan ditindaklanjuti dengan konseling tatap muka. 

“KonselorKu” juga dapat membantu Guru BK untuk membantu siswa dalam mengatasi permasalahan yang mengganggu serta mampu berbagi materi untuk membekali ketahanan siswa terkait aspek pribadi, sosial, belajar dan karir dengan media penyajian visual.  

” KonselorKu lahir dari Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian dan Sosial Humaniora UNY dan berhasil lolos didanai Dikti. Harapannya, produk ini tak hanya menjadi inovasi namun juga memudahkan kinerja guru BK serta menjadi media pemberantas tindakan bullying di Sekolah,” tegas Lintang. 

Idealisme tersebut kemudian diperjuangkan Lintang dengan timnya dari hari demi hari, melalui pendanaan PKM yang diberikan Kemristekdikti. Sejak awal perintisan, proposal sekaligus judul penelitian yang ditelurkan Lintang dan kawan-kawannya secara konsisten mencerminkan idealisme yang mereka bahwa. Bahwa produk keluaran dari penelitian itu adalah sebuah aplikasi, yang berfungsi sebagai media e-konseling, mengatasi masalah, langkah kuratif bullying. 

“Dalam prosesnya juga, kita tak hanya berfokus pada korban bullying. namun juga kepada pelaku bullying. Fitur-fitur yang disediakan dalam aplikasi konselorku mewadahi upaya pencegahan hingga pengobatan terjadinya bullying,” tukas Lintang. 

Proses seleksi lanjutan kemudian membawa tim ini menjadi satu dari 15 delegasi yang dinyatakan berhak mewakili UNY ke gelaran Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS). Dengan kategori PKM-Penelitian Sosial Humaniora (PKM-PSH) di kelas kedua. Medali emas dicatatkannya sebagai perolehan presentasi, dengan tambahan medali perak untuk perolehan poster. 

Berhasil didapatkannya dua medali sekaligus tersebut, membuat Lintang Robbani yakin bahwa karyanya bersama tim mampu dikembangkan lebih lanjut.  

“Serta semoga dapat berkontribusi menjadi solusi atas masalah bully, sesuai dengan cita-cita ideal dari penelitian ini. Utamanya kalau kita bicara statistik, menghapus bully di Yogyakarta karena angkanya begitu tinggi,” tukas Lintang. 

One Response

  1. NekomataDecember 28, 2018 at 8:23 amReply

    Ironis. Saya sendiri korban pembullyan di UNY

Leave a Reply