Pendidikan Karakter Berbasis Budaya: Sebuah Orasi Ilmiah

 LAPORAN UTAMA

Pendidikan Karakter Berbasis Budaya: Sebuah Orasi Ilmiah

 

Di hadapan civitas akademik UNY, Sri Sultan Hamengkubuwono X selaku Promovendus menyampaikan orasinya. Menjabarkan urgensi pendidikan karakter bagi pembangunan bangsa dan bagaimana Yogyakarta telah mempraktikkannya.

 

—-

 

Dalam artikel ini, Pewara Dinamika hendak merangkum intisari dari orasi tersebut. Dibawakan Sri Sultan di Auditorium UNY, 5 September 2019. Berikut orasinya:

 

Assalamualaikum wr. wb. […]

Yang terhormat Menristekdikti, Rektor dan Wakil Rektor UNY, […], beserta tamu undangan dan kerabat kraton.

 

[…] Rapat Penganugerahan Doktor Honoris Causa oleh Unversitas Negeri Yogyakarta pada hari ini. Memang bukan secara kebetula, bahwa momentum ini diagendakan agar bertepatan dengan hari Peringatan Ke-74 Amanat 5 September 1945 yang menjadi titik awal bergabungnya Yogyakarta ke pangkuan Republik Indonesia. Dokumen bersejarah tertulis dengan tinta emas di masa “Republik Yogya” yang patut kita kenang dan hargai oleh seluruh bangsa Indonesia. […]

 

Keputusaan penting di bidang akademik ini (menganugerahkan gelar Doktor Honoris Causa) telah melalui kajian secara cermat dan mendalam atas semua materi karya tulis saya yang sangat mungkin sudah ditelaaah oleh Tim Seleksi. Terhadap substansi materi yang tertuang dalam buku, jurnal nasional, orasi ilmiah, pidato kunci, sarasehan, artikel, paparan atau pidato sambutan, dan opini yang pernah saya sampaikan, baik selaku Gubernur DIY atau pun Sultan Ngayogyakarta Hadiningrat, sesuai Naskah Akademik UNY yang tak terpisahkan dari berita acara dimaksud.

 

Karena posisi itu berawal dari seorang Sultan, di mana berdasarkan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2012 tentang KeIstimewaaan DIY, mendalilkan Sultan yang bertahta juga melekat jabatan Gubernur DIY, maka Promovendus memilih standing positiondalam kapasitas cihnaningpribadiseorang Sultan. Dalam posisi dan kapasitas itulah, Promovendus akan menyampaikan Pidato Penganugerahan Gelar Doctor Honoris Causa ini dengan judul: “Pendidikan Karakter Berbasis Budaya”.

 

Merumuskan Pendidikan Karakter

 

[…] Kita memaklumi bagaimana sulitnya pemerintah mencari konsep Pendidikan Karakter sebagai kurikulum di sekolah yang pas. Sudah ditempuh dengan Pendidikan Budi Pekerti, Pendidikan Karakter, atau bahkan melalui Pendidikan Agama, didukung sebelumnya dengan rekomendasi dari hasil serangkaian seminar, semiloka, simposium, sarasehan, dan bentuk-bentuk forum nasional lainnya, rasanya semuanya tak juga kunjung mampu menjalankan fungsi Pendidikan Nasional secara optimal. Setidaknya, jika diukur dari hasil penilaian outputlulusannya dalam hal peningkatan kualitas karakternya.

 

[…] Depdiknas menginstruksikan kepada sekolah-sekolah untuk menanamkan beberapa karakter pembangun mental dan bangsa (character and nation building) bagi subjek didik.

 

Secara kurikuler, telah dilakukan berbagai upaya untuk menjadikan pendidikan lebih bermakna bagi individu, tidak sekadar memberi pengetahuan (kognitif), tetapi juga menyentuh tataran afektif dan psikomotorik melalui mata pelajaran Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, Ilmu Pengetahuan Sosial, Bahasa Indonesia, dan Olahraga.

 

Namun, harus diakui, semua itu belum mampu mewadahi pengembangan karakter secara dinamis dan adaptif terhadap pesatnya perubahan. Implementasinya tidak bisa berjalan optimal, setidaknya oleh sebab dua hal.

 

Pertama, kurang terampilnya para guru menyelipkan Pendidikan Karakter dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, Pendidikan Karakter perlu direformulasi dan direoperasionalkan melalui transformasi budaya dan kehidupan satuan pendidikan.

 

Kedua, sekolah terlalu fokus mengejar target akademik, khususnya agar lulus UN. Implikasinya, kurang diajarkan aspek kecakapan hidup (soft skills) yang non-akademik sehingga sebagai unsur utama Pendidikan Karakter justru terabaikan.

 

[…] Kesimpulannya, basis keunggulan individu, produk, organisasi, daerah, bahkan bangsa pun nyata-nyata dan tak bisa lain ialah manusia-manusia unggul juga, baik spiritualitas, intelektualitas, dan etos kerjanya. Lalu, apa rahasianya? Samuel Huntington dalam Culture Matters memberi jawaban tegas: budaya! Budaya yang bertumbuh ialah kerja keras, disiplin, berhemat, menabung, dan mengutamakan pendidikan. Itulah akar-akar tunggang pohon keunggulan yang kita cari-cari itu:spirit of excellence. Memang spirit itu perlu diberi darah, saraf, otot, dan daging agar menjadi tubuh. Artinya menjadikannya sebuah budaya. Sekaranglah saatnya untuk bangkit bersama dalam Gerakan Kebudayaan untuk memberikan makna nyata “Renaisans Indonesia“ menuju peradaban yang maju dan bermartabat.

 

Pendidikan Berbasis Kearifan Lokal sebagai Solusi

 

Kurikulum Muatan Lokal disusun berdasarkan kebutuhan daerah yang sesuai lingkungan alam, sosial, budaya, dan ekonomi lokal, serta kebutuhan pembangunan daerah dalam mata ajar yang berdiri sendiri. Misalnya, materi ekstra-kurikulernya seni budaya tari tradisi. Ia tidak hanya sekadar kosmetik karena keunikan dan eksotismenya agar suasana meriah, meski ini pun juga langkah baik. Seharusnya, seni tari itu diambil filosofinya, bentuk artistiknya, kemudian dikelola dan diartikulasikan ke dalam muatan pendidikan modern yang relevan, agar terjadi mutualisme yang memberhasilkan proses pembelajaran.

 

Dulu orangtua atau guru mengajar berhitung dengan menyanyikan angka-angkanya. Tembangnya mudah, indah, dan membentuk ingatan kolektif subjek didik sehingga mengesankan sampai tua. Sekarang sudah ditinggalkan, dianggap tidak efisien. Mengapa tidak diambil dasar-dasar psikologi pengajarannya dan diterapkan dalam bentuk, corak, dan ruh baru?

 

Ketika itu anak-anak hidup penuh permainan tradisional. […] Sekarang dikurangi karena dianggap membuang buang waktu agar bisa ikut les untuk berkompetisi. Apakah tidak bisa permainan-permainan cerdas tradisional itu dikemas kembali untuk membantu proses pembelajaran karakter? Saya berharap, dalam situasi yang normal seperti sekarang ini, hendaknya permainan tradisional yang mengajarkan kesahajaan dan kebersamaan itu dikenalkan kepada anak-anak kita kembali. […]

 

Yang penting, nilai nilai kebudayaan lokal itu dilestarikan, dikembangkan, dan dilahirkan kembali dalam rupa-rupa baru yang kontekstual-lokal. Ibarat lukisan, perpaduan yang benar antara pendidikan modern dan budaya lokal menyatu seperti pigura dan gambarnya. […]

 

Menggunakan Karakter Masing-Masing Daerah

 

Alhamdulillah, saya memperoleh banyak kesempatan untuk melakukan perjalanan mengitari Nusantara yang kebetulan dihuni oleh transmigran Jawa yang perlu ditengok tentang keadaannya. Dari sana, saya bisa menemukan budaya-budaya beberapa etnik. Bahkan, ada dua etnik yang meminta untuk menjembatani pertikaian mereka. Secara internal antaretnik Maluku sendiri dan yang kedua perbedaan visi antara Jakarta dengan Papua tentang Papua ke depan di masa pemerintahan Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. […]

 

Biasanya dengan pendekatan kebudayaan melalui tradisi dan primordialisme, pertikaian yang berpotensi eskalatif dan meningkat menjadi konflik berkepanjangan bisa diredam. Agar kita sebagai bangsa bisa sama-sama memasuki tahap kedua dan ketiga versi van Peursen, menuju tataran fungsional atau setidaknya ontologis. […]

 

Untuk itu, Pendidikan Karakter yang bercorak masing-masing budaya daerah dapat menjadi solusi. […] Yogyakarta memiliki Pendidikan Khas Kejogjaan. […]. Jika konsepnya dapat direkomendasi untuk disetujui oleh Mendiknas RI, implikasinya Pendidikan Khas Kejogjaan sebagai bentuk inovasi daerah bisa diterapkan di provinsi lain dengan kekhasan budayanya masing-masing. Maka, nantinya akan bermunculan beragam Pendidikan Khas Bugis, Minang, Melayu, Aceh atau etnik lain yang memang sesuai dengn ekosistem budaya setempat. Dan inilah sesungguhnya wujud nyata kekayaan Kebhinnekatunggalikaan Indonesia yang kasat mata sekaligus untuk memperkuat identitas bangsa Indonesia. […] Khusus untuk Yogyakarta, Promovendus dalam kedudukannya selaku Gubernur DIY berniat membentuk Tim Ahli Pendidikan yang dianggarkan dari Danais.

 

Wasana kata, semoga Tuhan Yang Maha Kuasa berkenan melimpahkan berkah serta rahmat-Nya, sehingga gelar yang tersandang ini mampu Promovendus gunakan bagi sebesar-besar kepentingan dunia pendidikan. Untuk itu, mohon doa restunya agar selalu diberi keteguhan sikap batin, moralitas, dan kearifan dalam mengamalkan ilmu di tengah-tengah masyarakat-bangsa dan masyarakat antarbangsa, khususnya di bidang Pendidikan Karakter.

No Responses

Leave a Reply