Pemilwa Daring: Solusi Demokrasi di Tengah Pandemi?

 SURAT PEMBACA

DILAKSANAKAN di tengah situasi pandemi Covid-19, pemilihan mahasiswa (pemilwa) tahun 2020 menjadi sebuah demokrasi dengan tantangan baru. Pemilihan umum yang diperuntukkan bagi mahasiswa dilaksanakan setiap tahun menjelang akhir periode kepengurusan dalam sebuah organisasi seperti BEM, DPM, dan HIMA.

Oleh A. GILANG PRAMANA Mahasiswa PBSI UNY

Di tahun 2020 ini ada warna baru dalam pelaksanaan pemilwa di UNY. Melihat situasi pandemi yang belum juga membaik hingga pertengahan bulan Desember tahun 2020, maka pemilwa daring dijadikan alternatif bagi Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk melaksanakan pesta demokrasi mahasiswa ini.

Apabila menilik tahun sebelumnya yang notabene sudah dilaksanakan menggunakan komputer dan sudah terintegrasi dengan sistem pusat, tampaknya hal tersebut bisa sedikit menjadi gambaran untuk pelaksanaan pemilwa tahun ini. Hal dasar yang membedakan adalah pemilih tidak berada di Tempat Pemungutan Suara (TPS) seperti biasanya. TPS berpindah menjadi ruang maya dalam dunia digital. Keadaan ini akan menjadi tantangan tersendiri bagi KPU dalam melaksanakan demokrasi yang ada.

Pemilwa daring ini bisa menjadi solusi asalkan selama proses dari prapemilwa hingga pascapemilwa bisa dijalankan dengan baik. Salah satu yang menjadi tantangannya adalah menyediakan forum online untuk debat pasangan calon (paslon). Pada situasi seperti sekarang, pilihannya adalah mengadakan debat paslon dengan media seperti zoom, google meet, atau live streaming youtube. Kendalanya, penonton debat tidak bisa melihat debat sebagaimana saat dilaksanakan secara langsung. Kendala seperti akses sinyal dan keterbatasan sosialisasi pemilwa juga menjadi poin tersendiri yang harus diperhatikan KPU.

Adanya pemilwa ini adalah untuk memilih bakal pemimpin di periode selanjutnya. Sangat disayangkan apabila mahasiswa memilih tetapi tidak mengetahui siapa yang mereka pilih. Saya sendiri melihat beberapa KPU di UNY, baik di tingkat fakultas ataupun jurusan masih memperpanjang masa pendaftaran paslon untuk maju mencalonkan diri sebagai ketua dan wakil ketua di sebuah organisasi. Entah hal ini terjadi karena kurangnya sosialisasi di tengah situasi pandemi atau entah dari mahasiswa sendiri belum ada yang berani. Tentu ini menjadi sebuah tanda tanya tersendiri.

Harapannya, pemilwa tahun ini bisa tetap menciptakan pemimpin yang memang memiliki kapasitas yang mumpuni meskipun dalam pemilihannya dilaksanakan secara daring. Demokrasi di lingkup universitas adalah manifestasi mahasiswa itu sendiri untuk menjadi pemimpin hari ini dan pemimpin di masa yang akan datang

No Responses

Leave a Reply