OKTOBER 2017 – Menjadi Dewasa di Media Sosial Menurut Sultan

 LAPORAN UTAMA

“Raja Yogya bicara soal peran dan implikasi media sosial. UNY menjadi tuan rumah. Dampak positif dan negatif Medsos diulas kritis”

SUASANA Ruang Sidang Utama (RSU) Rektorat UNY siang itu tampak khidmat. Raja Yogyakarta, Sultan Hamengkubuwana (HB) ke-10, hadir memberi seminar. Sultan duduk di samping kiri Rektor UNY, Sutrisna Wibawa. Selain rektor dan HB-IX, seminar bertajuk Tunjukan Jogjamu untuk Indonesia tanggal 4 Oktober 2017 itu disampaikan Mochtar Riady dan Pratama D. Persada.

 

Media sosial merupakan keniscayaan abad ke-21. Sultan memaparkan secara fenomenologis dampak pesatnya perkembangan teknologi informasi. Implikasinya, menurut Sultan, “Membuat kehidupan manusia menjadi tak berjarak. Ini bisa dilihat dari berbagai aspek kehidupan.” Fenomena ujaran kebencian dan hoaks dianggap Sultan sebagai dampak negatif yang tak bisa dihindari.

 

“Bukan berarti media sosial harus dikambinggitamkan dan dijauhi, meski kekacuan itu terjadi karenanya,” ungkap Sultan. Pemilik nama asli B.R. Mas Herjuno Darpito ini menawarkan pandangan baru. Menurutnya, fenomena ujaran kebencian dan hoaks bisa dimanfaatkan sebagai sebuah proses pendewasaan. “Kesadaran ini harus dirasakan dan dialami agar bisa melangkah maju.” katanya.

 

Sultan menganggap hoaks, bahasa buruk, dan ujaran kebencian di media sosial sangat pahit. Sekalipun tak mengenakan, Sultan memaklumi hal itu. Karena tiap orang, di era ini, bebas mengekspresikan suasana pikiran dan hatinya. Meskipun semuanya itu harus dilandasai sikap hormat dan tanggung jawab. “Tapi itulah proses pendewasaan kita sebagai bangsa,” ungkapnya.

 

Eksklusivisme dianggap Sultan justru mengambat proses pendewasaan. Karenanya, menurut Sultan, “Kedewasaan tidak bisa diraih bila hanya menutup diri dan mengalamatkan media sosial sebagai sumber beragam masalah. Jadi, harus terbuka dari itu agar lebih dewasa.”

 

Sebagai orang nomor satu di Yogyakarta Sultan berharap agar media sosial digunakan secara dewasa. “Dengan pengembangan budaya teknologi  dan mengedapankan kebersamaan yang telah lama dimiliki warga Yogya, teknologi dapat dijadikan alat untuk memenuhi tantangan generasi-generasi penerus bangsa.”

 

Pemanfaat secara maksimal dan penuh tanggung jawab dianggap Sultan sebagai kunci utama. Ia melihat potensi itu di masa depan. Terutama penyebaran informasi di media sosial dalam rangka desiminasi ilmu pengetahuan. “Ketimbang saling menyalahkan,” lanjut Sultan, “sebaiknya kita terus membuka ruang dengan mengedepankan nilai-nilai yang luhur dalam memanfaatkan teknologi.”

 

Senada dengan Sultan, Sutrisna, memandang teknologi informasi merupakan syarat mutlak kemajuan sebuah bangsa. Rektor sekaligus profesor filsafat Jawa itu beragumen bahwa penggunaan teknologi semestinya harus tetap dilandasi nilai-nilai Pancasila. Perspektif demikian dikuatkan Sutrisna agar setiap pengembangan teknologi harus didasarkan atas pertimbangan moral.

 

“Pengembangan di situ harus tidak bebas nilai. Kalau mengembangkan nuklir tidak pakai moral ia bisa dijadikan bom yang berakibat buruk bagi tatanan. Nuklir yang demikian sangat berbahaya. Namun, bisa kita jadikan alat agar bermanfaat. Misalnya untuk alat kesehatan dan pembangkit listrik” tutup Sutrisna.

No Responses

Leave a Reply