Naraswari Ayu Alami, Pesona Dari Madiun

 SOSOK

SOSOK –¬†Naraswari Ayu Alami

Telah bersinar di Madiun dan Jawa Timur, Naras memilih menahan keterlibatannya di Puteri Indonesia 2018. Dekapan UNY yang begitu nyaman, membuatnya ingin menuntaskan terlebih dulu studinya di Sastra Inggris.

Media sosial awal tahun ini sempat riuh. Tak lain dan tak bukan, karena gelaran Puteri Indonesia 2018 mulai mengemuka. Nama-nama gadis tercantik negeri dengan penguasaan komplit atas kecerdasan dan budaya asalnya digadang-gadang untuk maju. Naraswari Ayu Alami, perempuan kelahiran Madiun, 1 Juli 1995 yang telah menjuarai Mbakyu Kota Madiun 2012, masuk dalam 10 Besar Raka-Riki Jawa Timur, serta aktif dalam kegiatan modelling serta MC, menjadi salah satunya.

 

Tapi munculnya keriuhan tersebut, justru membuat Naras terganggu. Hiruk pikuk di media sosial tak hanya memunculkan dukungan bagi Naras untuk maju, namun sekaligus caci maki dan memojokkan Naras, karena memandangnya berseberangan dengan jagoan Puteri Indonesia yang sedang mereka dukung. Padahal, Naras ingin terlebih dulu menuntaskan apa yang selalu diminta oleh Drs. Bambang Supriyadi, sang ayah, sejak pertama kali Naras menginjakkan kaki di kampus Karangmalang: fokus kuliah. Sehingga mematikan dan puasa media sosial hingga tiga minggu sejak gosip tersebut muncul, dilakukan Naras agar tak terganggu keramaian maya.

 

“Jadi jujur saja, yang menyebut nama saya itu memang hanya gosip, tapi memang ada sedikit niat saya (untuk ikut Putri Indonesia). Tapi Naras inginnya selesaikan dulu kuliah, toh kalau memang ikut dan rejekinya kebuka, sudah ada Allah yang mengatur,” ungkap Naras. April 2018 kala tim Pewara Dinamika bertemu dengan Naras, ia sedang menuntaskan janji itu lewat perintisan karya skripsinya dengan hati. Serta tetap mengabdikan kelihaiannya di atas panggung lewat kegiatan membawakan acara maupun menjadi bintang iklan di sela-sela pembuatan skripsi yang berjudul Symbols and Their Significances in Ibsen’s Lady From The Sea: A New Criticism Approach.

 

Kartini “Klegen”

 

Walaupun kerap disebut orang sebagai gadis yang relatif garang, Naras mengisahkan bahwa pertama kali dirinya melenggok lembut di atas panggung dimulai pada saat ia ditodong mengikuti kegiatan Kartini-Kartono di SDN 1 Klegen. 21 April, pada tahun 2000an, menjadi saksi ia berjalan dan melambai kepada teman-teman SD dengan pakaian rasukan dan kain jarik/sinjang bermotif tradisional. Seperti teman-teman SDnya, Naras melakukan kewajiban tersebut dengan enggan dan berharap 21 April segera tuntas. Tapi apesnya, ia menang. Dan keapesan tersebut justru berkah yang menjadi pintu masuk Naras atas kegiatan modelling yang ia lakukan di kemudian hari.

 

“Walaupun SD sempat vakum sebentar, tapi sejak kartini itu saya mulai berkecimpung di dunia sebagai model dan duta wisata,” kenang Naras.

 

Kepercayaan diri seiring waktu tumbuh dalam diri Naras. Modelling kemudian menjelma sebagai hobi, karena mampu menghasilkan kemenangan dan juga uang saku tambahan yang bisa ia gunakan untuk jajan maupun kebutuhan tambahan. Naras mencoba menjadi mandiri dan tak memberatkan orang tua. Hingga akhirnya, menjadi serius dan profesional hingga aktif sebagai bintang iklan maupun model untuk brand tertentu.

 

Pada saat menginjak bangku putih abu-abu di SMAN 2 Kota Madiun, apa yang berlangsung saat SD kemudian berulang. Naras yang kala itu duduk sebagai siswi kelas 1 SMA, kembali ditodong untuk mewakili pemilihan duta wisata kota. Pemaksaan yang kemudian disanggupinya karena tak berani dengan sang guru SMA. Pemilihan duta wisata kota itu, bertajuk Mas-Mbakyu Madiun 2012. Dan nyaris sama dengan kisah waktu kegiatan Kartini-Kartono SD, Naras berhasil menyabet gelar juara pada ajang tersebut.

 

“Alhamdulillah ternyata diamanahi juara 1. Walaupun dipaksa, akhirnya ikutlah. Mana berani dengan guru,” kenang Naras sembari terkekeh.

 

Sejak saat itu, kiprah Naras dalam bidang modelling semakin meroket. Kompetisi demi kompetisi diikutinya di penjuru Jawa Timur, seiring dengan pundi-pundi uang yang diperolehnya dengan menjadi bintang iklan maupun MC dalam pagelaran tertentu. Salah satu kompetisi tertinggi yang pernah dijajakinya adalah Raka Riki Jawa Timur 2013 yang menjadi kelanjutan jenjang dari lomba Mas-Mbakyu Madiun yang ia ikuti sebelumnya. Kegiatan mulai dari pementasan, tanya jawab, hingga penggemblengan intensif dalam karantina ia lakoni dengan sepenuh hati. Walaupun secara prinsip, Naras sudah berbisik kepada hatinya sendiri untuk menerima segala hasil dalam lomba tersebut dengan lapang dada.

 

Alasan atas hal tersebut, karena terkait dengan statusnya dalam lomba tersebut sebagai peserta paling muda. Ia masih duduk di kelas 2SMA. Sedangkan Raka Riki Jawa Timur, terbuka untuk segala jenjang pendidikan. Termasuk bagi mereka yang sedang menginjak bangku kuliah maupun telah bekerja. Asalkan di bawah umur sekitar 20an tahun, semua bisa mengikuti perlombaan tersebut dengan meniti jenjang kompetisi di tingkat kabupaten kota masing-masing. Sehingga hasil peringkat 10 besar yang ia dapatkan waktu itu, cukup disyukuri sebagai kerja keras yang ia telah lakukan selama ini.

 

“Bahkan bisa dibilang waktu itu saya adalah peserta paling muda karena yang lain dari segi jam terbang lebih tinggi dari saya dan rata-rata sarjana atau bahkan kerja dan orang profesional di dunia pageant. Ya udah Naras jalanin aja dengan lapang dada. Nothing to lose, ya,” ungkapnya.

 

Walaupun demikian, kerja keras yang dilakukan Naras tersebut mengorbankan sesuatu. Di sekolah, dirinya seakan hanya ada di buku presensi dan alpa dalam wujud rupa. Ia lebih sering melalangbuana ke Surabaya maupun keliling Jawa Timur alih-alih belajar di bangku kelas. Bahkan dalam catatan buku presensi, Naras ingat betul bahwa ia hanya masuk sekitar satu-dua hari setiap minggunya.

 

Ujian Tengah Semester pun pernah dilakoninya dalam bentuk daring seiring banyaknya ujian lain yang ia ikuti dengan cara susulan. Terkadang ia kerjakan di sela-sela istirahat makan siang pada harinya yang begitu padat, dan pernah sekali bahkan mengerjakan ujian di atas bus maupun di dalam ruang rias ketika sedang memasang konde dan sanggul.

 

Walaupun sekolahnya sangat mendukung apa yang ditekuni Naras tersebut, tetap ada rasa bersalah dalam diri Naras sekeluarga. Hasil pembelajarannya di sekolah pun tak maksimal, karena Naras terbukti kerap harus ikut remedial karena tidak belajar. Oleh karena itu, ketika ia diterima di Universitas Airlangga maupun Universitas Brawijaya dalam seleksi SNMPTN Rapor maupun tulis, ayahnya merasa kurang ikhlas. Khawatir jika sang putri masih dekat dengan pekerjaan maupun teman-temannya di bidang modelling, sehingga akan jarang sekolah seperti di bangku SMA.

 

“Jadilah saya masuk UNY, mendaftar Sastra Inggris lewat jalur prestasi. Walaupun saya tidak terlalu suka sastra, saya yakin kemampuan Bahasa Inggris akan sangat perlu. Alhamdulillah, Papa Mama sangat mendukung,” ungkap Naras atas rezeki tak terduga di Karangmalang.

 

Tetap Bersinar di Yogyakarta

 

Kepindahannya ke Yogyakarta kemudian mengubah banyak aspek kehidupan Naras layaknya yang diharapkan oleh kedua orangtuanya. Ketiadaan teman di bidang modelling maupun saudara, membuat Naras menjadi anak rantau yang harus memulai segala sesuatu dari nol. Dan sesuai harapan kedua orangtuanya: Menjadi lebih rajin ada di bangku kuliah dibanding ketika ia SMA. Untuk memastikan dan mendampinginya, Widowati, sang ibunda, bahkan mengambil cuti bersama ayah Naras selama tiga hari untuk menunggu sang putri yang sedang mengikuti ospek.

 

“Karena sempat homesick yang lumayan lama. Kan maksudnya anak rantau baru, temennya belum banyak, jadi sempet ngerasa sepi sendiri. Tapi seiring berjalannya waktu ya bisalah. Karena di kampus acaranya banyak dan aku ikut juga,” terang Naras.

 

Dari keturutsertaan dalam acara-acara kampus, Naras kemudian aktif sebagai MC dalam beberapa kegiatan intra kampus maupun di sekitaran Yogyakarta. Kegiatan yang pertama kali dilakoninya, adalah menjadi MC dalam Pelepasan Wisuda yang terwujud berkat ajakan dari Dr. Widyastuti Purbani, yang ketika itu masih menjabat sebagai Dekan Fakultas Bahasa dan Seni UNY. Dalam wisuda tersebut, Naras dipasangkan dengan seorang MC yang juga asli Jawa Timur.

 

Kecocokan di antara mereka berdua di atas panggung, kemudian membawa Naras dalam aktivitas memandu acara secara lebih intens di Yogyakarta lewat event organizer tertentu. Termasuk dalam beberapa kesempatan memandu acara yang dihadiri Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sultan Hamengkubuwono X, misalnya dalam Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) ke-29, serta Jambore Nasional Asosiasi Kelompok UPPKS (Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera).

 

“Tentu dengan tetap menjaga diri. Sudah jauh-jauh ke Yogya, kuliah tetap prioritas nomor satu,” ungkapnya yang kemudian menjadi pertimbangan ketika menolak maju dalam Puteri Indonesia 2018. Walaupun setelah lulus, Naras juga mempunyai sedikit impian untuk meniti karir kembali di bidang tersebut dengan menjadi wakil Jawa Timur. Selama belajar dengan tekun dan mengasah bakat dari panggung ke panggung, Naras juga yakin bahwa semua orang bisa menjadi MC. Bahkan, jauh lebih hebat dari dirinya.

 

“Itu pesan saya pada seluruh sivitas dan anak muda. Saya banyak bertemu teman, di pelatihan MC maupun di kehidupan. Bakat luar biasa, tapi masih ragu ke panggung. Intinya, kalau ngelihat aku dulu, flashback, nekat saja. Pasti bisa,” pungkas Naras.

 

No Responses

Leave a Reply