Merayakan Maklumat 5 September di Auditorum UNY

 LAPORAN UTAMA

Merayakan Maklumat 5 September di Auditorum UNY

 

Tanggal 5 September bukanlah hari biasa. Penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa kepada Ngarsa Dalem yang digelar hari itu bertepatan dengan momen bergabungnya Yogya dengan Indonesia.

 

 

Tak banyak agenda dalam penganugerahan Doktor Honoris Causa pada Kamis (05/09) tersebut. Dimulai dengan kedatangan Sri Sultan, persembahan tarian dan musik tradisional, serta orasi ilmiah dibawakan olehnya selaku Promovendus. Tidak lupa pada awal dan akhir acara, terdapat nyanyian lagu kebangsaan, himne UNY, penyematan gelar, dan sambutan dari Rektor UNY selaku pimpinan universitas.

 

Walaupun tak banyak, momen itu, layaknya diungkapkan GKR Mangkubumi selaku Putri Pertama Sri Sultan, bersifat cukup sakral. Kesakralan hadir karena pada tanggal yang sama di 74 tahun lampau, adalah momen bersejarah bergabungnya Yogyakarta ke Indonesia. Oleh karenanya, apa yang terjadi hari ini adalah bukti bahwa generasi penerus tetap berupaya mengisi kemerdekaan dengan sebaik-baiknya.

 

“Karakter yang dididik dengan baik dan laku yang baik juga cara tepat mengisi kemerdekaan. Perjuangan kita berbeda dan tidak lagi angkat senjata,” ungkap GKR Mangkubumi pascaacara.

 

Sengaja Diagendakan 5 September

 

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono  X kini resmi bergelar Doktor Honoris Causa bidang Manajemen Pendidikan Karakter Berbasis Budaya. Gelar itu diberikan UNY pada Kamis (05/09).

 

Pemberian gelar terebut bertepatan dengan peringatan bergabungnya Kasultanan Yogyakarta ke Republik Indonesia sesuai maklumat Sultan HB IX pada 5 September 1945. Sultan mengaku tanggal istimewa tersebut ditentukan oleh Rektor UNY Sutrisna Wibawa.

 

“Yang menentukan (tanggalnya) Pak Rektor, bukan saya,” ujar Sultan usai diwisuda di Auditorium UNY, Sleman, DIY.

 

Sri Sultan HB X menjelaskan pendidikan karakter berbasis budaya sudah lama diterapkan di Yogyakarta, baik melalui aktivitas pembelajaran maupun kegiatan sekolah. Meskipun demikian, Sri Sultan mengakui belum semua guru bisa mengimplementasikan hal ini. Di Keraton Yogyakarta, imbuhnya, Pendidikan Karakter Berbasis Budaya sudah diterapkan. Melalui Pawiyatan, Taman Siswa, dan lain sebagainya.

 

“Penelitian berbasis budaya itu sudah diterapkan. Hanya persoalannya seberapa jauh guru ini bisa mengimplementasikannya. Tentu tidak mudah. Serta tadi saya jelaskan, di Keraton juga ada pendidikan melalui Pawiyatan, Tamsis juga ada, pendidikan Barata ada, versi Muhammadiyah ada. Ini keunggulan-keunggulan bisa jadi model. Ditambah dalam konteks-konteks potensi budaya lokal,” kata Sultan.

 

Sementara itu, Sutrisna juga menjelaskan tanggal 5 September dipilih karena makna bergabungnya Yogyakarta ke NKRI bisa memacu semangat persatuan dan kesatuan.

“Kami ingin memberi makna bahwa tanggal 5 (September) ini, bagaimana Yogya jadi bagian dari NKRI. Ini semangat ke-Indonesia-an,” ujar Sutrisna.

 

Menjadi Momen Sakral

 

Maklumat 5 September sendiri, layaknya diungkapkan Sri Sultan, merupakan momentum besar. Karena memperingati integrasi atau bergabungnya Yogyakarta ke pangkuan negara Indonesia pada 5 September 1945. Peristiwa ini menjadi memiliki makna lebih mendalam dari segi sejarah maupun dunia pendidikan.

 

Menurut Sri Sultan, penentuan waktu pemberian gelar doktor dan momentum ini diagendakan agar bertepatan dengan hari Peringatan ke-74 Amanat 5 September 1945. Hari itu menjadi titik awal bergabungnya Yogyakarta ke pangkuan Republik Indonesia.

 

“Dokumen bersejarah dengan tinta emas di masa “Republik Yogya” yang patut kita kenang dan hargai oleh seluruh bangsa Indonesia,” kata Sri Sultan.

 

Momentum dua peristiwa pemberian gelar doktor dan peringatan Yogyakarta bergabung ke Indonesia menjadi sangat spesial. Karena itu, Sri Sultan menyempatkan diri untuk mengajak para guru besar dan tamu undangan dalam pidato ilmiah tersebut memanjatkan doa dengan membacakan surat Alfatihahuntuk mendiang Presiden Soekarno, Sri Sultan HB IX, dan Sri Paku Alam VIII.

 

“Hadirin, mari kita melafalkan ummul kitab, surat Alfatihan, agar para syuhada(Presiden Soekarno, Sri Sultan HB IX, dan Paku Alam VIII) senantiasa memeroleh husnul khatimah. Kita tundukkan kepala untuk melafalkan Alfatihah,” ajak Sultan.

 

Suasana hening selama pembacaan surat Alfatihahsekitar dua menit. Gerakan bibit mulutnya menandakan Sri Sultan sedang melafalkan surat Alfatihah. Hal ini, layaknya diungkapkan GKR Mangkubumi selaku putri pertama Sultan, merupakan momen istimewa sekaligus sakral. Tidak dalam banyak kesempatan ungkapnya, Ngarsa Dalemmemimpin langsung pembacaan ummul qur’an.

 

“Ini memang momen sakral,” ungkapnya singkat.

 

Mengisi Kemerdekaan

 

Dengan diselenggarakan tepat pada Maklumat 5 September, Sutrisna menekankan bahwa apa yang dilakukan dan diteladankan Sri Sultan dapat menjadi pelajaran bagi para pengambil kebijakan lainnya. Sri Sultan HB X dinilai memiliki perhatian lebih dalam mengumandangkan nilai Pendidikan Karakter Berbasis Budaya melalui berbagai kebijakan, pidato, dan peraturan gubernur. Selain itu, salah satu pertimbangan pemberian gelar kehormatan ini juga berkaitan dengan jabatan Sri Sultan sebagai Gubernur DIY yang memiliki fungsi membuat kebijakan dan mengelola pemerintahan.

 

Hal ini sesuai dalam apa yang disampaikan Sri Sultan pada prosesi penganugerahan, dimana dituturkan bahwa modal awal dan utama pendidikan khas ke-Jogja-an berangkat dari realitas kebudayaan yang hidup (living culture). Hal tersebut berkembang dari dulu, kini, dan nanti dengan didukung sinergi tiga aktor utama yakni kraton/kaprajan, kampus, dan kampung (3K).

 

Sri Sultan HB X menambahkan bahwa landasan ideal pendidikan khas ke-Jogja-an adalah hamemayu hayuning bawanadan sangkan paraning dumadi. Filosofi tersebut sesuai dengan makna asas pendidikan sepanjang hayat (long life education). Kedua nilai harmoni yang  senantiasa harus selalu dijaga.

 

“Saya mengharapkenPendidikan Karakter Berbasis Budaya membuka kemungkinan Indonesia bukan hanya menjadi sekadar “Macan Asia”, tetapi “Garuda Dunia” yang mampu melanglang jagat kemajuan bangsa-bangsa lain,” pungkas Sultan.

No Responses

Leave a Reply