Mahir Teknologi lewat Pelatihan TIK

 LAPORAN UTAMA

Mahir Teknologi lewat Pelatihan TIK

*Ilham Dary Athallah

 

Dikenalkan sejak mahasiswa baru, pelatihan TIK menjadi syarat menempuh studi dan yudisium. Penekanan kuat UNY agar teknologi dikuasai semua mahasiswa tanpa kecuali.

 

—–

 

Portal daring pembelajaran elektronik UNY tidak kebetulan begitu saja dijuluki sebagai “Be-Smart“. UNY pada tahun 2006 di bawah kepemimpinan Rektor Prof. Sugeng Mardiyono (Alm.) sudah memiliki infrastuktur internet dan komputasi yang lumayan.

 

Tapi, layaknya dikisahkan Herman Dwi Surjono selaku Kepala UPT Pusat Komputer UNY (2006-2016), pembelajaran berbasis teknologi, informasi, dan komunikasi (TIK) masih nihil. Saat itulah UNY memandang bahwa potensi yang luar biasa ini tidak boleh dibiarkan sia-sia.

 

“Pak Rektor bilang, harus dimanfaatkan apa yang kita miliki ini, ‘kan mahal tuhbayar internet,” imbuh Herman.

 

Arahan tersebut menjadi inspirasi Herman dalam merintis e-learning. Di mana harapannya, fasilitas TIK yang ada bisa menjadikan mahasiswa UNY jadi smart. Sejak saat itulah, nama be-smarttercetus. Sebuah portal TIK yang menghendaki mahasiswa UNY menjadi lebih cerdas dengan cara menguasai teknologi.

 

“Pelatihan TIK kemudian jadi bagian tak terpisahkan dalam upaya UNY Be-Smart,” tukas Herman merefleksikan diselenggarakannya pelatihan TIK pada mahasiswa baru, baik dalam Soft Skill, PKKMB, maupun berkelanjutan sampai menjadi syarat yudisium.

 

Pelaksanaan Pelatihan

 

Sebagai  langkah  awal pengembangan  SDM,  setiap mahasiswa  baru UNY  diberikan  pembekalan TIK  termasuk pengenalan  sistem informasi  akademik  dan  e-learning.  Kemampuan tersebut,  diungkapkan oleh Siti Amironah selaku Mantan Kepala Bagian Informasi UNY, perlu  diberikan kepada  mahasiswa baru dengan  harapan sejak  awal  mahasiswa dapat memanfaatkan  TIK  untuk mendukung  segenap  aktivitas akademik  untuk menunjang  keberhasilan  belajarnya.

 

Terlebih UNY saat  ini  secara sungguh-sungguh  sedang berupaya  menuju kampus  dengan  layanan digital.  Dalam  rangka mewujudkan  kampus  dengan layanan  digital  tersebut, UNY  telah  menerapkan berbagai  layanan administrasi dan akademik secara online.

 

“Ini kan sesuai dengan program UNY menjadi Universitas Kependidikan Kelas Dunia (UKKD). Kita sediakan fasilitasnya, kita ajarkan cara pakainya,” ungkap Siti.

 

Pelatihan TIK, diimbuhkan Rahmatul Irfan selaku Kepala Divisi Pelatihan TIK UNY, bertujuan untuk membekali mahasiswa dengan pengetahuan dan keterampilan teknologi. Oleh karena itu, ada tiga bagian utama yang menjadi fokus dalam pelatihan, yaitu tentang Layanan TIK UNY, Etika TIK dan Penulisan Karya Ilmiah, dan Layanan Perpustakaan UNY Berbasis TIK.

 

“Materi ditekankan pada penggunaan aplikasi internet sebagai media pembelajaran onlinedan sistem informasi pendukung pembelajaran. Tanpa meninggalkan aspek-aspek peraturan akademik yang harus dipahami oleh mahasiswa baru,” ungkap Rahmatul di Laboratorium Komputer Basement Digital Library, Selasa (03/09).

 

Pelatihan dimulai lewat pembinaan TIK secara daring. Saat ini sampai dengan hari H praktik dan ujian pelatihan di laboratorium, yang mana akan dimulai pada Sabtu (07/09), mahasiswa diarahkan mempelajari materi di portal daring Be-Smart. Di dalam portal tersebut, sudah ada kuliah onlineseputar pelatihan TIK UNY.

 

Harapannya, ketika hari H pelaksanaan mahasiswa sudah memiliki bekal dasar. Tinggal datang ke lokasi pembekalan, yaitu LIMUNY, Digital Library, Laboratorium Admisi, dan Laboratorium Fisnet dengan pertanyaan kritis dan tugas yang telah dikerjakan.

 

“Ada video dosen dan penjelasan proktor. Tinggal klik saja dan kerjakan tugasnya,” imbuh Siswanto selaku Staf Ahli Wakil Rektor I UNY.

 

Diselipkan dalam Studium Generale

 

Pembekalan teori TIK juga telah disisipkan dalam rangkaian PKKMB. Tepatnya pada hari pertama lewat ceramah langsung oleh Margana selaku Wakil Rektor I bersama dengan Herman Dwi Surjono.

 

“Jadi, mulai 7 September 2019 tinggal praktik dan pelatihan,” imbuh Siswanto.

 

Materi yang dikenalkan dalam teori TIK tidak selalu berupa pengetahuan berat dan rumit. Informasi praktis yang dibutuhkan mahasiswa juga disajikan.

 

Salah satu informasi praktis tersebut adalah jangkauan dan titik hotspot wifiUNY. Pembekalan teori dan buku panduan yang disediakan universitas pada mahasiswa baru telah memuat ada berapa titik hotspotdan di mana saja mereka berada.

 

“Total ada 181 titik strategis, kotak wifinya itu di situ. Coverage100% wilayah kampus bisa akses wifi. Lokasi titiknya juga kita cantumkan dalam buku dan disampaikan di pembekalan. Misal, di FIS itu ada 10 titik wifi. Makin dekat, sinyal makin kuat dan kencang ‘kan. Ini info dibutuhkan banget sama mahasiswa,” ungkap Siswanto.

 

Cara login wifidan menggunakan emailuniversitas juga dijelaskan dalam materi TIK.

 

“Itu hanya sampel. Masih banyak lagi yang diajarkan dalam panduan TIK. Sampai yang agak serius seperti cara mengakses Sistem Informasi Akademik (Siakad), cara yudisium juga disediakan,” imbuh Siswanto.

 

Etika Pemanfaatan TIK

 

Etika dan budaya akademik di perguruan tinggi selalu dijunjung tinggi, khususnya dalam penggunaan perangkat TIK. Oleh karena itu, berkirim pesan melalui Whatsappataupun Emailjuga menjadi materi yang diajarkan dalam pelatihan TIK.

 

“Fenomena saat ini di masyarakat, berlangsung berbagai kasus pemanfaatan TIK secara serampangan dengan tidak memperhatikan kaidah dan norma yang ada, seperti maraknya plagiasi, upload gambar/video/informasi tidak beretika, short message sent(SMS) dengan kata-kata kurang sopan, pesan yang tidak benar, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, etika perlu juga dikenalkan,” ujar Siswanto.

 

Dalam pembekalan TIK pada Senin (27/08), Herman menjelaskan bahwa sering kali mahasiswa mengirimkan SMSkepada dosen dengan bahasa yang kurang sopan. Misalnya, menggunakan bahasa “alay” yang seringkali digunakan remaja jaman sekarang. Atau menggunakan singkatan yang tidak lazim “Disingkat dengan coz. Iya disingkat dengan ysaja. Btw, otw,dll. Sering itu,” ungkap Herman.

 

Beberapa masalah lain juga SMS dengan bahasa memerintah ataupun tanpa identitas. “Misalnya: Bu… saya sudah dikampus, mau minta tanda tangan Ibu.. atau Bapak bisa menemui saya di jurusan sekarang. Saya pernah lhodapat pesan begitu,” kenang Herman.

 

Dengan penyampaian kesalahan dalam pengiriman pesan tersebut, Herman sekaligus menyelipkan pengetahuan atas apa yang perlu diperhatikan dalam menggunakan teknologi. Misalnya, memulai pesan dengan sapaan salam, mengenalkan identitas, dan menuliskan keperluan dengan singkat dan jelas.

 

“Sehingga, kemahiran teknologi civitas UNY komplit. Teknisnya mahir, etikanya juga oke,” pungkas Herman.

No Responses

Leave a Reply