Jangan Mau Kalah dengan Samsung!

 LAPORAN UTAMA

Memperpendek masa studi bagi setiap mahasiswa, bagi Prof. Sutrisna Wibawa bukan sekedar perkara menggenjot pencapaian akademik para mahasiswa dengan lebih optimal agar dapat segera mengaplikasikan ilmunya bagi kemajuan bangsa. Dalam sentilan candanya di media sosial, sang rektor juga mengungapkan bahwa hal tersebut adalah upaya pembuktian diri agar tak kalah dari produsen teknologi terkemuka Samsung.

Karena jika kini Samsung telah merilis handphone versi S8 dan terus mengeluarkan serial “S” terbaru tiap tahunnya, maka mahasiswa UNY yang belum tuntas juga menempuh studi S1 nya bertahun-tahun selayaknya mengintropeksi diri. “Samsung saja udah S8, masa kamu S1 pun belum lulus?,” demikian tulis Sutrisna yang disambut riuh netizen di Instagram maupun Facebook pribadinya pada Juni 2017 lalu.

Dari sentilan itu, Sutrisna sebagai nakhoda UNY tak hanya hendak menggelorakan semangat mahasiswa untuk menuntaskan studinya dengan penuh gairah keilmuan. Tapi juga menjadikan fasilitasi percepatan studimenjadi salah satu program prioritas universitas di tahun 2018, agar menghantarkan setiap mahasiswa mencapai puncak kesuksesannya di kampus: diwisuda, dan menuntaskan pencarian ilmu pengetahuan sesuai jenjang.

Membanggakan Orang Tua Dirumah

Wisuda keempat UNY yang digelar pada penghujung November tahun lalu, menunjukkan bahwa rata-rata mahasswa UNY menempuh studi dengan lama yang masih relatif panjang dibanding apa yang selama ini ditargetkan universitas dan menjadi standar ideal masing-masing jenjang.  3,21 tahun untuk program Diploma 3, yang idealnya diungkapkan oleh Sutrisna ditempuh dalam waktu tiga tahun. 4,48 tahun untuk program Sarjana Strata 1, yang idealnya ditempuh dalam waktu empat tahun. Serta 2,45 tahun untuk program Magister dan 3,77 untuk program Doktoral, yang idealnya ditempuh dalam masa studi masing-masing dua dan tiga setengah tahun.

Walaupun belum terpenuhinya target ideal tersebut diiringi dengan peningkatan rerata IP lulusan, dimana D3 memperoleh rata-rata 3,37, S1 sebesar 3,55, S2 sebesar 3,72, dan S3 sebesar 3,77, hasil tersebut diungkapkan oleh Sutrina selayaknya membuat segenap civitas UNY merefleksikan diri. Karena tantangan dunia kerja di abad 21, menuntut semua yang terlibat didalamnya selalu sigap atas perubahan di dunia yang saling berkaitan, khususnya globalisasi dan perkembangan sains dan teknologi.

“Sehingga penting bagi mahasiswa untuk membuktikan diri menjadi cekatan, dengan cara mewujudkan wisudawan memiliki kemampuan berfikir kritis dan pemecahan masalah, kreatif dan inovatif, kemampuan komunikasi dan kolaborasi yang baik, fleksibilitas dan adaptasi yang tinggi, berinisiatif dan penguatan tujuan hidup, kemampuan berinteraksi sosial dan komunikasi antar budaya, produktif, dan memiliki jiwa kepemimpinan yang tinggi. Itu semua bisa dibuktikan dengan kiprah selama studi di UNY,” ungkap Sutrisna dalam sambutan rektor pada wisuda UNY, Sabtu (25/11/2017).

Pengembangan kecakapan hidup dan karakter sejak dalam kampus tersebut, tambah Wakil Rektor III UNY Prof. Sumaryanto, dapat diwujudkan serta ditunjukkan dengan empat hal. Yang pertama, kuliah dengan cepat selesai. Kedua, kuliah dengan IPK tinggi. Ketiga, studi lanjut, bekerja, maupun mengembangkan kapabilitas diri sesuai kompetensi, minat, dan juga pendapatannya. Dan keempat, memiliki masa tunggu yang rendah ketika kelak lulus dan hendak bekerja atau berkuliah kembali.

“Makanya wajib mahasiswa merencanakan karir dan berjuang kuliah dengan cepat selesai. Sehingga keempat pelaksanaan itu, nantinya akan membuat mahasiswa supaya tidak gelagapan kalau menjawab pertanyaan klasik yang sering ditanyakan: Kapan Lulus, Kerja Dimana, Kapan Nyusul? Kalau jawabnya bisa tegas dan yakin kan, anda sebagai mahasiswa juga bangga, orang tua anda bangga!,” ungkap Sumaryanto.

Transformasi Studi

Untuk mewujudkan hal tersebut, Wakil Rektor I UNY Prof. Margana mengungapkan bahwa pihak akademik universitas mengupayakan percepatan lewat segala jalur mulai dari hulu, distribusi, hingga hilir. Di hulu, UNY mendorong dan memfasilitasi setiap program studi untuk menyusun kurikulum dan program pembelajaran yang padat dan komprehensif. Dengan demikian, setiap SKS yang dibebankan pada mahasiswa untuk pembelajaran dapat benar-benar digunakan secara maksimal serta mewujudkan mahasiswa yang mampu lulus cepat sekaligus memiliki kemampuan akademik optimal.

Dorongan dan fasilitasi setiap program studi tersebut kemudian diimplementasikan juga dalam bentuk otonomi bagi masing-masing fakultas dan program studi untuk menentukan hari-hari apa saja entitas tersebut akan menyelenggarakan studi. Secara sederhana, hal tersebut dapat diartikan sebagai kewenangan bagi Prodi untuk menyelenggarakan kelas di luar jadwal pakem lima hari kerja. Fakultas Teknik misalnya, juga menggelar kuliah di hari Sabtu seiring dengan masih  dibangunnya gedung baru IDB.

“Jadi bukan berarti kalau cepat, pelajarannya kita kurangi. Justru kita padatkan dan prodi punya otonomi untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan agar pembelajaran dapat berlangsung optimal dan komprehensif,” ungkap Margana.

Penyediaan di hulu juga dilakukan UNY dengan cara menyediakan akses langganan jurnal maupun perpustakaan elektronik sehingga mampu mempermudah kebutuhan para mahasiswa dalam mencari rujukan. Ditengah kenyataan bahwa mahasiswa pada saat ini cukup aktif mengunjungi perpustakaan hanya di kala pengerjaan tugas akhir maupun kebutuhan publikasi internasional yang telah disyaratkan UNY untuk mahasiswa S3, fasilitas tersebut juga dapat bermanfaat untuk mengembangkan cakrawala yang dimiliki mahasiswa.

“Jadi tidak benar anggapan bahwa studi makin mudah atau maknanya terkikis karena tuntutan cepat lulus. Standar kita tetap tinggi, dan kita dorong kapabilitas mahasiswa untuk memenuhi itu dengan penyediaan fasilitas yang sekaligus mendukung program publikasi internasional yang digalakkan oleh Pak Rektor,” ungkap Margana.

Dalam segi distribusi, UNY ungkap Margana juga telah menyelenggarakan sistem pembimbingan tugas akhir berbasis online dan akan mengintensifkan hal tersebut di tahun 2018. Dalam sistem tersebut, mahasiswa dan dosen dapat saling berkomunikasi layaknya fitur chatting di media sosial, dan dapat secara real time melakukan revisi dokumen layaknya aplikasi Google Docs. Alih-alih membuat janji bertemu antara mahasiswa dengan dosen, sistem yang terintegrasi dalam portal Siakad tersebut menyediakan fitur upload dokumen bagi mahasiswa untuk langsung mengumpulkan hasil tugas akhirnya kapan saja.

“Dan hal tersebut juga tetap kita dampingi dengan pertemuan tatap muka antara dosen pembimbing akademik dengan siswa, sehingga online dan tatap muka saling melengkapi,” ujar Margana.

Sedangkan di hilir, akselerasi untuk mendorong mahasiswa segera menuntaskan tugas akhir berlangsung dengan cara pemberian motivasi melalui pertemuan maupun sarana komunikasi populer layaknya whatsapp. Dosen pembimbing akademik maupun pembimbing skripsi pada umumnya memiliki grup whatsapp dengan anak didiknya, sehingga bisa berkomunikasi dan berhubungan dekat. Hal tersebut kemudian diperkuat dengan adanya email rutin dari sistem akademik UNY kepada para mahasiswa, untuk mengingatkan batas masa studi mereka dengan sistem early warning.

“Saya selalu ingatkan para Kajur dan Kaprodi. Dan saya yakin di UNY ini, semua mahasiswa pasti dianggap oleh dosen layaknya anak sendiri,” pungkas Margana yakin.

Author: 

Mahasiswa Universitas Gadjah Mada. Semua tulisan di laman pewaradinamikauny.com, telah diterbitkan di Majalah Pewara Dinamika, Universitas Negeri Yogyakarta. Untuk membaca versi lengkap dari setiap artikel dengan gambar ilustrasi dan infografis, baca versi (.pdf) majalah yang bisa diakses dan diunduh melalui bilah menu "Download Majalah".

No Responses

Leave a Reply