Deni Hardianto (Dosen UNY) – Bergerak Demi UNY

 Wawancara Khusus

Sebagai Presiden BEM UNY 2004, Deni bisa demo hingga tiga kali seminggu. Mengawal isu Pemilu hingga kenaikan Biaya Operasional Pendidikan (BOP). Belasan tahun berselang, kini ia mengawal Jurusan Teknologi Pendidikan UNY. Menggapai asa World Class University, dengan semangat pemuda yang sama hebatnya.

Kepada Pewara Dinamika di ruangannya, Deni bercerita tentang bagaimana semangat sumpah pemuda hadir di kala ia memimpin BEM. Serta bagaimana semangat itu harus tercermin dalam diri mahasiswa dan seluruh civitas UNY masa kini, dalam menyampaikan aspirasi dan mendukung UNY menjadi World Class University.

 

Bagaimana suasana dan semangat politik kampus saat Pak Deni menjadi Presiden BEM di Tahun 2004?

 

2004 itu tahun yang sangat padat. Namun suasana dan semangat politik tetap terpupuk sangat konstruktif, karena banyak dari kita yang terlibat aktivisme itu sudah terpupuk sejak lama. Prinsipnya mengalir saja, dan maksimal sesuai porsinya.

 

Dalam kasus saya hingga akhirnya diberi amanah sebagai Ketua BEM, sejak saya menjadi mahasiswa UNY di tahun 2000 memang saya sudah aktif terlibat dalam kepanitiaan mahasiswa. Ikut saja waktu itu, mulai dari Seksi Dokumentasi yang bertugas memotret kegiatan OSPEK Fakultas, maju sebagai Ketua BEM Fakultas di tahun 2002, hingga mencalonkan diri dan terpilih sebagai Presiden Mahasiswa di tahun 2004.

 

Hikmah dari kegiatan aktivisme yang mengalir itu, membuat banyak diantara kita selalu berpikir dingin namun tetap tajam dalam menanggapi fenomena.

 

Apa kondisi yang membentuk iklim pergerakan mahasiswa di tahun tersebut?

 

2004 itu belum terlalu jauh dari 1998. Jadi iklim pergerakan mahasiswa di kampus masih dipengaruhi masa-masa itu. Merintis, atraktif, dan demonstratif.

 

Namun bedanya, saat itu konteks demonstrasi juga sudah berubah. Tidak lagi sporadis, dan kita sudah mengenal mana yang isu lokal dan mana yang isu nasional. Ini terkait lagi dengan begitu padatnya tahun 2004, dan begitu banyaknya isu yang membutuhkan pengawalan mahasiswa di tahun tersebut. Kalau saya hitung-hitung, demo itu seminggu bahkan bisa tiga kali.

 

Strategi dan tenaga kita atur dan alokasikan dengan baik, agar kita bisa menyalurkan semaksimal mungkin pada isu-isu strategis yang ada.

 

Apa saja isu yang menjadi sorotan BEM di Tahun 2004?

 

Banyak isu. Namun ada dua isu sorotan, satu isu nasional dan satu isu lokal.

 

Di nasional, isu tersebut adalah terkait Pemilihan Umum. Suasana saat itu cukup dinamis karena untuk pertama kalinya, Indonesia menggelar Pemilihan Presiden secara langsung. Calonnya bukan cuma dua orang seperti saat ini, ada lima!

 

Sedangkan di skala lokal, kami sebagai mahasiswa UNY ada isu Bantuan Operasional Pendidikan (BOP). Prof Suyanto selaku rektor pada saat itu memiliki kebijakan untuk meningkatkan biaya yang jadi kewajiban mahasiswa untuk dibayar setiap tahunnya.

 

Bagaimana cara BEM di saat itu dalam menyoroti isu-isu?

 

Kita menyampaikan ide dan gagasan. Lewat komunikasi, beropini, dan banyak medium lainnya. Itu selalu menjadi poin utama, aksi dan demonstrasi adalah fasilitas last resort. Pilihan paling terakhir, dan kadang memang menjadi gebyarnya.

 

Misal dalam menyoroti isu BOP, kami sempat berkirim surat dengan Prof Suyanto tentang mengapa kita menolak kenaikan BOP. Semua ini dalam konteks kita belajar. Ketika saya turun aksi diluar ya itu bagian dari belajar berdemokrasi. Kita sampaikan ide, gagasan dari perspektif mahasiswa. Ketika aksi pun tidak serta merta eksporadis. Ketika belum ini juga baru kita aksi. Tidak ada niat sama sekali. Kita sampaikan ide gagasan kita.

 

Lalu bagaimana perbandingan suasana aktivisme kampus tahun 2004 dengan masa kini?

 

Era dan zamannya beda, dan medium saat ini juga bermacam-macam untuk menyebarkan gagasan. Saya terkadang gemas dengan mahasiswa hari ini. Mestinya mahasiswa dengan adanya isu-isu nasional, bisa memberikan ide, pemikiran, dan perspektifnya yang original. Jangan sekedar ikut pendapat mainstream.

 

Caranya?

Saya kira seharusnya mahasiswa sekarang punya langkah gerak sendiri. Asal bisa terus berkontribusi kepada mahasiswa sekarang, sebagai pihak yang diwakilinya. Kontribusi dalam artian bisa dalam bentuk tenaga, pikiran, gagasan, dan ide. Kontribusi dengan caraberikan apa yang terbaik. Bukan dalam kerangkanya itu kerangka membangun. Kerangka yang konstruktif. Kita mengkritisi dari sisi apapun boleh, tapi dalam perspektif yang membangun.

 

Ambil contoh saja, harga BBM naik. Isu ini kan sudah ada sejak zaman saya berkuliah. Wong pada tahun 2005, kenaikan terbesar BBM itu terjadi pas masa itu karena langsung naik dari awalnya 2.000an menjadi 4.500. Hampir 100%.

 

Tapi hingga saat ini, harga BBM naik, kok pemikiran mahasiswa idenya itu-itu saja. Kenaikan BBM menyulitkan rakyat kecil. Apakah tidak bisa kita kaji konteks lain, misalnya bagaimana kenaikan BBM dan pengurangan subsidi itu bisa berperan pada pembangunan infrastuktur? Atau bagaimana ekonomi bisa menggeliat di perbatasan karena adanya BBM satu harga.

 

Satu stance unik yang bisa diambil BEM, harusnya bisa menyerap aspirasi mahasiswa. Misal bila harga BBM naik, seberapa besar sih hal tersebut mengubah daya beli mahasiswa. Misal dengan harga BBM Premium seliter 6.000 saat ini, mahasiswa dengan uang saku 600 ribu sebulan bisa beli 10 liter bensin dan 50 porsi ayam geprek Bu Rum @10 ribuan.

 

Jika harga BBM Premium naik menjadi 7.000, maka mahasiswa hanya bisa beli 8 liter, dan 40 porsi ayam geprek Bu Rum karena harganya bisa jadi naik sekitar 12 ribu. BBM naik membuat harga ayam naik, harga beras naik, dan akhirnya menurunkan daya beli mahasiswa.

 

Saya tidak tahu apakah ide dan gagasan semacam ini, sudah ada atau belum. Mungkin saya yang kurang membaca dan menyaksikan, atau memang hal tersebut tidak terekspos di media. Jika sudah ada, hal ini harus terus ditingkatkan. Pesan dan gagasan terobosan dari mahasiswa, untuk bangsa.

 

Dalam posisi bapak sebagai Sekretaris Jurusan saat ini, bagaimana strategi menerapkan semangat serupa seperti saat menjadi Presiden Mahasiswa?

 

UNY punya asa untuk menggapai kualitas World Class University. Sebagai bagian dari akademisi universitas saat ini, kita semua memang harus terus berpadu dan berinovasi. Mahasiswa juga dapat terlibat melalui penyampaian aspirasi dan mendukung pengembangan UNY.

 

Caranya bagi seluruh civitas, termasuk mahasiswa, spirit sumpah pemuda harus ada dan kita maknai. Sumpah pemuda punya filosofi menjadikan kita satu, sehingga hal yang kontraproduktif seperti memecah belah lewat SARA dan sikap anti pancasila, harus kita hindari sebagai civitas. Ini untuk mengembangkan kapasitas akademik dan citra UNY.

 

Ketika Jong Java, Jong Sumatera, dan banyak muda-mudi daerah berkumpul dalam sumpah semuda, mereka berkumpul dengan spirit awal yang berbeda-beda. Namun semangat yang sama, untuk bersatu dan memerdekakan Indonesia.

UNY dalam pandangan saya punya semangat itu. Spirit dan latar belakang tiap mahasiswanya bisa jadi beragam, tapi berkumpul jadi satu disini untuk menjadi pendidik yang mencerdaskan bangsa. Di UNY, kita bisa berbeda-beda tapi berkumpul dan punya satu harapan dan tujuan: untuk membangun bangsa lewat pendidikan.

Tempat Tanggal Lahir: Pagar Alam, 5 Juni 1981

Latar Belakang Pendidikan:

S1 Teknologi Pendidikan UNY, 2000

S2 Teknologi Pendidikan UNS, 2009

 

Jabatan

Dosen FIP UNY (2005-sekarang)

Sekretaris Jurusan Teknologi Pendidikan UNY (2012-sekarang)

Author: 

Mahasiswa Universitas Gadjah Mada. Semua tulisan di laman pewaradinamikauny.com, telah diterbitkan di Majalah Pewara Dinamika, Universitas Negeri Yogyakarta. Untuk membaca versi lengkap dari setiap artikel dengan gambar ilustrasi dan infografis, baca versi (.pdf) majalah yang bisa diakses dan diunduh melalui bilah menu "Download Majalah".

No Responses

Leave a Reply