Dari Green Campus sampai Cyber Campus

 LAPORAN UTAMA

Pandemi mengajarkan banyak hal pada manusia, mulai dari merawat alam hingga tuntutan untuk selalu menyelaraskan diri dengan perkembangan zaman.

umput itu, kalau tidak terpaksa, tidak pernah saya matikan. Kami paling sedih jika ada pohon yang ditebang,” ungkap Rektor UNY Prof. Dr. Sumaryanto, M.Kes., AIFO saat diwawancarai di kantornya pada Rabu (17/2). Menurut mantan Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) tersebut, dengan adanya banyak tumbuhan, secara fisiologis suplai oksigen di lingkungan akan terjaga sehingga kinerja metabolisme tubuh akan berjalan dengan baik.

Di bawah tampuk kepemimpinan Sumaryanto, UNY berkomitmen menjadi green campus. “Tumbuhan apapun pasti memiliki fungsi. Maka ketika ada yang ditebang karena membahayakan, kita harus mengganti dengan menanam lebih banyak,” imbuh sang rektor.

Wacana terkait green campus sebenarnya bukan hal baru, UNY telah memiliki dasar hukum yang mengatur topik ini sejak 2017. Salah satu basis legalnya adalah Peraturan Rektor Nomor 20 Tahun 2017 tentang Kampus Hijau UNY. Adanya pandemi Covid-19 kian memperkuat kesadaran bahwa ekosistem alam harus tetap dijaga demi kemaslahatan umat manusia.

Selama masa pandemi, FIK memanfaatkan momen tersebut untuk melakukan penghijauan kampus. “Fakultas Ilmu Keolahragaan tadinya tidak terlalu banyak pohon, tapi sekarang silakan datang ke sana. Ijo royo-royo,” terang Sumaryanto.

Berlomba-lomba Merawat Ekosistem Alami Kiprah UNY dalam menjaga ekosistem alami kampus dibuktikan lewat keikutsertaannya dalam UI GreenMetric, sebuah pemeringkatan perguruan tinggi yang berkomitmen dalam pengelolaan lingkungan hidup berkelanjutan. Hingga 2020, UI GreenMetric telah diikuti 912 universitas dari 84 negara di dunia.

Penilaian UI GreenMetric 2020 didasarkan pada tiga pilar, yakni lingkungan hidup, ekonomi, dan sosial. Beberapa indikator penilaian yang digunakan adalah keadaan dan infrastruktur kampus (15%), energi dan perubahan iklim (21%), pengelolaan sampah (18%), penggunaan air (10%), transportasi (18%), serta pendidikan dan riset (18%).

Di level nasional, UNY secara berturut-turut menempati peringkat 31, 21, 26, dan 19 mulai dari tahun 2016 hingga 2019. Sedangkan dalam pemeringkatan tahun 2020 yang baru diumumkan pada 7 Desember 2020, UNY menempati ranking 28 nasional, 161 di region Asia, serta peringkat 356 dunia.

Menggagas Cyber Campus Pandemi Covid-19 membawa dampak langsung dalam dunia pendidikan. Sejak Maret 2020, UNY resmi memberlakukan pembelajaran jarak jauh sebagai bentuk partisipasi dalam mengurangi penyebaran virus tersebut. Sebagai adaptasi, proses perkuliahan di UNY memanfaatkan berbagai platform edu-tech mulai dari Be-Smart, Google Meet, Google Classroom, Edmodo, Zoom, serta segudang teknologi lainnya. “Awalnya pasti kaget belajar daring, tapi lama-lama sudah terbiasa,” ungkap Hasnan Hafid, mahasiswa Sastra Indonesia 2017, Jumat (20/2). Ia mengakui bahwa ada banyak kendala dalam mengikuti perkuliahan daring. “Ribetnya harus pakai laptop kalau mau mengikuti pembelajaran dengan lancar, padahal nggak semua mahasiswa punya laptop,” terang Hasnan. Apa yang menjadi kendala Hasnan kini tengah direspon dengan salah satu Program Unggulan UNY 2021. Tahun ini, kampus yang berpusat di Karangmalang tersebut punya program cyber campus di mana salah satu misinya adalah mengembangkan sistem berbasis mobile.

Ini sangat relevan dengan realitas di lapangan, mengingat pengguna smartphone lebih banyak ketimbang pengguna laptop. Menilik riset HootSuite bertajuk Digital 2020, pengguna mobile internet di Indonesia mencapai angka 171 juta jiwa, 98 persen dari total pengguna internet. Selain membangun sistem berbasis mobile, tahun ini UNY juga akan melakukan pengembangan big data. Upaya tersebut dilakukan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UNY dengan membentuk SIM IT LPPM. Layanan tersebut berfungsi sebagai penyedia data real time untuk mendukung big data, pemeringkatan, akreditasi, dan fungsi positif lainnya.

No Responses

Leave a Reply