Asyifatul Madinah, Saintis Jelita dari Biologi

 SOSOK

Sebagai model dan bintang layar kaca, paras mahasiswi Biologi UNY Angkatan 2013 ini terpampang di sinema religi hingga baliho di Bandara Soekarno Hatta. Menghadirkan pariwara dan pesan-pesan baik bagi pemirsa nusantara.

Sinema religi Pintu Berkah yang tayang pada penghujung 2017 lalu, membawakan pesat sarat makna lewat sosok Asyifatul Madinah. Sarah, demikian nama sapaannya dalam sinetron tersebut, digambarkan sebagai gadis desa sederhana yang merantau dan sukses di ibukota.

 

Namun tiba-tiba saja, ia harus pulang kampung dan bertemu ibu serta Abi sebagai kakaknya. Disana, sosok Sarah dengan sang kakak dinampakkan kontras. Sarah dengan gelimang hartanya justru angkuh dan lupa kewajibannya menyayangi orang tua, sedangkan Abi dengan segala kesederhanaannya tulus merawat sang ibu.

 

Tak lama setelah pertemuan tersebut, sang ibu dikisahkan sakit. Karir Sarah juga tiba-tiba hancur dan ia menjadi gelandangan. Dalam saat-saat berat itulah, diirngi dengan lagu sendu yang khas diputar dalam latar belakang sinetron bernuansa sedih, sang ibu menegaskan bahwa kejadian yang sedang dihadapinya sebagai cobaan dan azab dari Allah. Juga sebagai peringatan agar ia tak besar diri kala memperoleh kebahagiaan duniawi, dengan selalu bersikap tawadlu dan hormat kepada orang tua.

 

“Sarah janji bu, akan selalu jadi anak berbakti untuk ibu,” demikian ungkap Syifa, sapaan aslinya, sembari berlutut kepada sang ibu dalam sinetron.

 

Sinema Pintu Berkah tersebut, adalah satu dari sekian banyak aksi peran yang dilakukan Syifa di layar kaca. Peran sebagai tokoh antagonis yang membawa pesan untuk kembali ke jalan kebaikan, juga pernah dilakoni Syifa lewat adegan tersambar petir.

 

Sedangkan sebagai tokoh baik, ia pernah menjadi sosok dermawan dalam acara Bedah Rumah ketika memberi rumah baru secara cuma-cuma kepada seorang buruh tani musiman di daerah Kampung Baru Tangerang. Juga dalam acara horor Jejak Paranormal ANTV, beberapa sinetron lain, video klip musik dan iklan singkat, hingga sebagai model dalam baliho dan tugas kedutaan sebagai Putri Pariwisata Indonesia DIY 2016.

 

Dalam setiap peran tersebut, terselip pesan-pesan baik dari Syifa untuk para pemirsa di penjuru nusantara. Tak terkecuali pesan pribadi tentang profesionalitas yang senantiasa dilakoninya. Karena sepanjang kiprahnya tersebut, ia juga berhasil menuntaskan studi sebagai saintis jebolan Jurusan Biologi FMIPA. Melakukan praktikum dan penelitian sains, sembari terus mengasah bakatnya dalam dunia modelling.

 

“Jalani dan maksimalkan apa yang kamu pilih, meluangkan waktu untuk menggali potensi yang ada, karena semua orang pasti punya potensi untuk digali. Membuka relasi dan jangan menutup diri,” ungkap Syifa memaknai profesionalisme sebagai pesan yang bisa dipetik dari kiprahnya.

 

Modelling dan Jogja

 

Jauh sebelum kesehariannya menjadi model sembari menjalani kuliah, Syifa telah menekuni dunia ini sejak duduk di kelas dua SMA. Tinggal di Purbalingga, Syifa memulai asah bakatnya tersebut lewat mengikuti catwalk hingga kegiatan foto. Berawal dari ajakan dan kepercayaan yang diberikan seorang desainer, ia memandang profesinya sebagai hobi sekaligus sebuah kehormatan. Karena bisa memperoleh penghasilan sekaligus tampil dan membawa pesan kepada masyarakat.

 

“Om Tarto (desainer asal Purbalingga), memberikan kepercayaan pada Aku untuk pertama kali. Catwalk pakai kebaya yang ia desain. Sebuah kehormatan karena dianggap berperawakan baik dan bertalenta, disitulah pertama kali aku masuk ke dunia modelling,” kenang Syifa.

 

Ketika menginjak kelas tiga SMA, Syifa sudah memiliki bayangan untuk melakukan studi lanjut. Ia ingin kuliah di Jogja. Orang tua Syifa juga memberi kepercayaan pada Syifa untuk memilih apapun program studi yang dikehendakinya. Pilihan kemudian dijatuhkan pada Biologi FMIPA UNY, yang dipilih Syifa sebagai opsi pertama dalam ujian SBMPTN.

 

“Aku pilih (Biologi FMIPA UNY), dan itu baru bilang kepada orang tua setelah diterima. Sempat dibujuk untuk kuliah di Jakarta saja, karena Aku asli Tangerang dan tidak punya keluarga di Jogja. Tapi Aku kekeuh,” kenang Syifa.

 

Di Jogja, Syifa akhirnya tinggal di indekos. Sempat homesick karena perlu adaptasi dengan lingkungan baru, dua semester awal dihabiskannya penuh untuk kegiatan di kampus. Mulai dari praktikum, perkuliahan, hingga menekuni fokus kajian kupu-kupu di jurusan bertajuk BSO Arwana UNY.

 

Seiring waktu, perkenalannya dengan kegiatan event di Jogja membuatnya terdorong untuk menekuni kembali dunia modelling. Di semester tiga, ia telah rutin menjadi MC dan kegiatan foto. Hari yang biasa ia pilih untuk kegiatan tersebut adalah Senin, Kamis, Sabtu dan Minggu.

 

“Aku pilih hari-hari itu supaya hari lain bisa tetap full fokus studi. Karena makin lama, karena aktif di event, sering tiap hari diajak. Padahal awalnya hanya seminggu sekali dua kali,” kenang Syifa.

 

Putri Pariwisata Indonesia DIY

 

Di tahun 2016, Syifa menggebrak karirnya dengan menjajal ajang kontes kecantikan. Ia mengikuti kompetisi Putri Pariwisata Indonesia, yang mana menobatkannya sebagai perwakilan Provinsi DIY.

 

Langkah untuk memperoleh title tersebut tidaklah mudah. Bermula dari audisi di RRI Jogja, ratusan peserta diseleksi lewat catwalk, wawancara, dan penugasan hingga tiga bulan lamanya. Ditengah kesibukan kompetisi, Syifa juga harus melakoni kewajiban Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Kulonprogo.

 

“Disana susah sinyal, padahal saya diberitahukan terpilih sebagai perwakilan DIY via email dan harus ada persiapan penugasan hanya dalam waktu dua minggu,” kenang Syifa.

 

Beruntung bagi Syifa, perjalanan kompetisi menuju tingkat nasional dipermudah dengan fleksibilitas yang diperoleh dari tim KKN serta kampus. Bersama dosen tata busana UNY Afif Ghurub Bestari, ia memperoleh pelatihan dan kostum untuk digunakan kala unjuk kebolehan di tingkat nasional. Beliau juga menyediakan konsep dan sumbang pemikiran untuk pelaksanaan peragaan.

 

Rektor UNY saat itu, Prof. Rochmat Wahab, juga disebutnya sangat konstruktif memberi semangat dan membantu perizinan. Dari persiapan-persiapan tersebutlah Syifa berhasil menjalani babak lanjut kompetisi tersebut yang digelar di DKI Jakarta. Selama tiga minggu, kompetisi tersebut diisi dengan pemberian materi seputar pariwisata, uji komunikasi, public speaking, hingga unjuk kebolehan atas brain, beauty, dan behaviour.

 

“Alhamdulillah segalanya dilancarkan. Termasuk di sela-sela karantina dan kesibukan sehari-hari ketika ngejob di Jakarta, aku juga masih bikin laporan. Di atas jam 11 malam biasanya,” ujar Syifa yang pasca tuntasnya kompetisi tersebut memperoleh banyak permintaan pekerjaan di Jakarta. Termasuk ambil peran dalam sinema religi dan tayangan lain di televisi.

 

Berjuang Meneliti

 

Kesibukan membagi waktu antara kuliah dan pekerjaan, kemudian berlanjut dalam proses pengerjaan skripsi. Walaupun sudah berkarir mapan, Syifa mengungkapkan masih berkomitmen penuh untuk menuntaskan studi. Hal tersebut ia siasati dengan mengambil obyek penelitian skripsi di Jakarta berupa Hutan Bakau Pantai Indah Kapuk.

 

Di hutan bakau tersebut, Syifa harus masuk ke rawa-rawa untuk mengukur diameter pohon dan aneka data primer terkait habitat bakau tersebut. Termasuk harus menyelam dan berkecimpung di dalam lumpur untuk waktu yang agak panjang, karena luas hutan yang mencapai 90 hektar.

 

“Itu luas banget dan aku dibantu tiga teman dari UIN (Syarif Hidayatullah) Jakarta. Mulai dari ngeplot, identifikasi hewan dan tumbuhan apa saja disitu, sampai ukurannya. Memahami isi hutan,” kenang Syifa.

 

Atas perjuangannya meneliti, Syifa mengaku bangga berhasil menuntaskan skripsi sekaligus studinya dalam yudisium yang digelar FMIPA UNY pada penghujung Oktober lalu. Selepas wisuda November lalu, Syifa berfokus penuh dalam kegiatan entertainment yang selama ini telah ia lakoni.

 

Namun hal tersebut takkan berlangsung lama. Tahun 2019, ia berencana untuk melanjutkan studi S2. Kali ini di Jakarta, karena ia ingin lebih mudah menjalani mobilitas atas pekerjaannya yang semakin banyak di ibukota.

 

“Ingin ambil studi manajemen,sambil punya cita-cita membesarkan usaha jual beli lukisan yang sedang aku coba rintis. Mohon doanya ya,” pinta Syifa kepada seluruh pembaca Pewara Dinamika.


 

Profil:

Tempat Tanggal Lahir: Purbalingga, 29 November 1994

 

Latar Belakang Pendidikan:
SMA 1 Purbalingga

S1 Biologi FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta, 2013-2018.

 

 

No Responses

Leave a Reply