Angklung Melulu, Selalu Angklung

 LAPORAN UTAMA

Angklung sebagai kearifan lokal tak hanya unik. Bagi Susilo Pradoko dan rekan sejawatnya di FBS, nada instrumen itu mengikat telinga. Oleh karenanya, riset tentangnya ditekuni. Agar angklung, melulu berdenting dan lestari.

8 September 2018 nanti, tim angklung besutan Dr. Susilo Pradoko selaku dosen Pendidikan Seni Musik FBS, akan kembali berdenting. Mengeluarkan nada yang menari-nari di telinga, dalam acara Orkestra Musik Angklung Melulu.

Alkisah semua bermula dari keinginan tim Angklung Melulu untuk melakukan pementasan. Pihaknya kemudian berkoordinasi dengan RRI Yogyakarta untuk pinjam ruangan. Tapi ternyata, bukanlah ruangan yang sekedar didapatnya untuk disewa. Tapi juga kesempatan emas.

Ruangan tersebut justru dipersilahkan untuk digunakan secara cuma-cuma. Akan tetapi, Susilo dan UNY mendapat syarat. Orkestranya diajak untuk menjadi pentas seni penggalangan dana. Tampil di panggung amal, sekaligus dibantu publikasinya oleh RRI untuk menggalang dana lebih luas. Semua dana terkumpul akan didedikasikan guna membantu korban bencana Lombok.

“Dan kami tidak sampai berpikir dua kali saat itu. Sudah tidak membayar sewa, diberi kehormatan lagi untuk menjadi pentas amal. Sebuah kehormatan bagi Orkestra Musik Angklung Melulu,” kenang Susilo yang dalam penelitian dan perintisan tim, dilakukan bersama Dr. Ayu Niza Machfauzia, Yunike Juniarti Fitria, dan Francisca Xaveria Diah

Akhirnya, nota kesepahaman dihelat sebagai awal. Ditandatangani pada tanggal 8 September 2018 di Gedung Auditorium Radio Republik Indonesia (RRI) Yogyakarta oleh Rektor UNY, Prof. Dr. Sutrisna Wibawa, M.Pd, dan Kepala RRI Yogyakarta, Drs. Salman. Dan dalam prosesnya, tim angklung berhasil mengumpulkan dana sepuluh juta rupiah. Dana yang sepenuhnya akan disampaikan kepada masyarakat Lombok, melalui Dompet Dhuafa.

“Inilah yang terus dilakukan UNY melalui kerja sama yang dilaksanakan dengan berbagai pihak, salah satunya RRI, selalu berkomitmen untuk membangun Indonesia melalui tugas pokok perguruan tinggi yaitu Pendidikan, Penelitian, serta Pengabdian kepada Masyarakat,” tukas Sutrisna dalam apresiasinya terhadap orkestra msuik angklung melulu. Sekaligus berharap bahwa sesuai namanya, angklung melulu dapat memastikan kelestarian instrumen lokal tersebut melulu terjaga dan makin termasyhur.

Berawal dari Hibah Riset

Orkestra Musik Angklung Melulu bukanlah kegiatan penampilan angklung pertama yang berhasil dibesut tim Susilo cs. Awalnya pada tahun 2017, Angklung Melulu dirintis sebagai sebuah program riset. Tepatnya, menjadi penelitian kelompok seni Sub Skim Seni Musik, yang menjadi bagian dari SKIM Penelitian, Penciptaan, dan Penyajian Seni oleh Ristekdikti.

Pada tahun pertama, Susilo dan tim berfokus dalam bagaimana teknik permainan angklung tuts piano dengan sistem penggerak baling-baling motor elektric dapat dilakukan. Praktisnya, menjadikan angklung tanpa digoyangkan dengan tangan secara manual. Namun, tinggal menyentuh layaknya tuts piano. Angklung akan digoyang dengan penggerak baling-baling motor dinamo elektrik.

Susilo mengibaratkan, pemain angklung tinggal pencet tuts saja kala memainkan piano. Lalu angklung akan berdenting dengan sendirinya.

“Jadi tahun itu kita lakukan penelitian elektrik. Lalu riset pada tahun 2017, juga meneliti model elekton. Dalam artian, satu orang itu bisa memainkan melodi, bass, dan hermoni secara langsung,” kenang Susilo.

Barulah pada tahun 2018, riset kembali dilanjutkan dalam upaya keberlanjutan penelitian dengan jangka waktu tiga tahun. Sistem ide yang menjadi ideal timnya, tetap serupa. Bahwa angklung sudah menjadi benda intangible dunia. Warisan tak benda dunia. Dan begitu dihargai oleh komunitas internasional.

Oleh karenanya, gaya angklung bisa dikembangkan lagi. Dengan sedikit modifikasi dan inovasi, untuk memenuhi perkembangan selera musik. Hasil brainstorming diantara para tim, tercetuslah ide untuk membuat angklung dengan sistem orkestra simfoni. Ide yang bermula dari rutinitas tim Pendidikan Seni Musik, dalam mengisi banyak gelaran orkestra simfoni.

“Kita berpikir karena sering ngisi orkestra simfoni, kenapa angklung tidak bisa dimanfaatkan juga,” tutur Susilo.

Konsekuensi dari pemilihan sistem orkestra simfoni, maka pemilihan nada di angklung akan menjadi berbeda. Jika biasanya angklung hanya berisi not dan berbeda satu nada, misal do re mi fa so la si do, maka angklung orkestra akan berinterval setengah nada. Menjadi kromatik.

“Sehingga ibaratkan biasanya angklung ada tujuh, sekarang jadi dua kali lipatnya,” ungkap Susilo.

Selain berbeda dari jumlah nada yang berakibat pada keragaman angklung, cara bermain orkestra angklung melulu juga berbeda. Pada umumnya, satu orang memegang satu angklung. Namun orkestra sebagai standar pembuatan instrumen dan organisasi musikal antar nada, mendorong setiap pemainnya untuk mampu berkontribusi lebih besar.

Sehingga pemain orkestra, memegang masing-masing satu set angklung yang berisi seluruh tangga nada tersedia. Digabung dengan nada tinggi, total ada 18-20 angklung dalam satu rakitan yang dihadapi setiap pemain orkestra. Setiap perubahan nada, maka sang pemain orkestra harus langsung memindahkan tangannya pada angklung yang tepat.

“Inilah uniknya angklung melulu. Satu anak otomatis secara tidak langsung akan pegang 20 angklung dalam satu set,” ungkap Susilo.

Merekrut Mahasiswa Musik

Riset demi riset atas angklung tersebut, kemudian hendak diujicobakan Susilo bersama tim. Oleh karenanya, mahasiswa musik diajak untuk terlibat sebagai para pemain orkestra. Tak sulit baginya untuk mengajak mahasiswa potensial yang berminat untuk turut serta. Pada saat mengurus KRS atau bertemu di ujung-ujung kampus misalnya, Susilo langsung mengajak para mahasiswa guna bergabung.

“Saya langsung saja, semua yang saya temui dan potensial, termasuk bahkan mahasiswa S2 jurusan tari, saya ajak latihan dan perform angklung. Alhamdulillah banyak yang excited,” kenang Susilo.

Mahasiswa dan tim yang terdiri atas pemain orkestra, dan koreografer tari, secara penuh terbentuk sekitar bulan Juli dan Agustus. Oleh karenanya pada 25 Agustus, angklung melulu untuk pertama kali dipentaskan di Desa Budaya Glondong. Lokasinya tak jauh dari Candi Kalasan.

Pentas itu berlangsung sekitar satu jam. Melantunkan 10 lagu, dibawah bayang-bayang dan latar belakang Candi kalasan. Lengkap dengan disaksikan masyarakat, Koramil, Lurah, serta rembulan yang kala itu menyinari Yogyakarta saat pentas digelar.

“Apresiasinya sangat luar biasa. Nah ketika kita lapor Pak Rektor, beliau menyampaikan bahwa kita didorong untuk tampil dalam penutupan PIMNAS. Itulah kita jadikan ajang unjuk tampil yang kedua kalinya,” tutur Susilo.

Untuk penampilan yang kedua, pentas tak bisa berlangsung selama itu. Karya-karya klasik yang selama ini dimainkan orkestra angklung melulu, dimodifikasi hanya menjadi lima lagu. Memotong kurang lebih separuh dari durasi pementasan menjadi tinggal setengah jam.

Pemilihan lima lagu dalam pementasan di PIMNAS juga mengalami sedikit penyesuaian. Mengadaptasi keberagaman dan kebhinekaan yang senantiasa dijunjung PIMNAS lewat kehadiran perwakilan delegasi dari Aceh hingga Papua, angklung melulu menampilkan Medley Nusantara. Melodi asli tanah air yang dimainkan dengan gaya orkestra, berbahan dasar bambu.

Bekal penampilan yang memukau para delegasi PIMNAS tersebutlah, yang menjadi persiapan matang para anggota tim melulu dalam melakukan pementasan di Radio Republik Indonesia (RRI) Yogyakarta.

“Dengan senang hati kita main disitu (RRI) 10 lagu. Dan dihadiri berbagai tamu undangan lengkap dengan apresiasinya yang luar biasa. Termasuk dari kehadiran dan apresiasi Bapak Rektor,” kenang Susilo.

Pementasan di RRI tersebut diharapkan Susilo takkan menjadi akhir dari kontribusi Pendidikan Seni Musik dalam bidang riset dan pelestarian instrumen tradisional. Ia justru harus menjadi awal, untuk memperkuat musik dan budaya nusantara.

Setelah penelitian dan pengembangan, Susilo juga berharap bahwa modifikasi ini bisa mendorong pemerintah bergerak untuk membagikan angklung kepada masyarakat internasional. Jika angklung terkenal, maka ia bisa menjadi kekuatan budaya tersendiri dan menjadi medium komunikasi internasional. Menjadi soft power yang membuat bangsa Indonesia kian disegani.

” Maksud saya, ini soft power. Bagaimana kekuatan budaya menjadi komunikasi internasional. Lihat Korea, punya K-Pop, lalu begitu disegani. Indonesia dengan angklung maupun potensi Nusantara yang beragam, harus bisa menjadi soft power,” pungkas Susilo menegaskan pentingnya Indonesia memperkuat diri dalam hubungan internasional melalui pemanfaatan kekayaan nusantara.

Author: 

Mahasiswa Universitas Gadjah Mada. Semua tulisan di laman pewaradinamikauny.com, telah diterbitkan di Majalah Pewara Dinamika, Universitas Negeri Yogyakarta. Untuk membaca versi lengkap dari setiap artikel dengan gambar ilustrasi dan infografis, baca versi (.pdf) majalah yang bisa diakses dan diunduh melalui bilah menu "Download Majalah".

No Responses

Leave a Reply