Analekta Bincang Syawal, Dari Pendidikan ke Spiritual-Sosial

 LAPORAN UTAMA

“Yudi Latif membabar filosofi fitri di bulan syawal. Momen religius dia ungkap secara akademik-ilmiah. Persoalan pendidikan hingga sangkan paran tak luput diulas”

 

Pagi itu Auditorium UNY tampak ramai. Mobil beraneka warna dan bermacam merek memanjang rapi tepat di selatan tower. Di sekeliling ikon tertinggi di kampus pendidikan Karangmalang itu juga dipenuhi kendaraan beroda empat. Padahal, Yogya, 22 Juni 2018, masih relatif sepi. Jamak mahasiswa masih di kampung halaman. Kegiatan kantor, sebaliknya, mulai bergeliat. Meskipun hari pertama masuk, di bulan Syawal, acap kali diisi ritual tahunan bernama syawalan.

 

UNY mengisi syawalan, sebagaimana dilaksanakan pada tahun-tahun sebelumnya, bukan sebatas jabat tangan dan tuturan permohonan maaf. Syawalan, bagi UNY, juga dirayakan secara akademik. Mengundang seorang tokoh untuk bicara di podium, diminta membincang filosofi lebaran, dan diakhiri dengan tanya-jawab personal adalah ciri khas kegiatan perguruan tinggi—semacam kuliah umum bernuansa religi.

 

Kesempatan hangat itu jatuh di tangan Yudi Latif. Ia telah dikontak panitia untuk mengisi ceramah syawalan. Rekam jejaknya tak sekadar urusan Pancasila, tapi juga dimensi religiositas. Posisi ini diemban Yudi jauh sebelum ia dikenal sebagai peneliti sekaligus penggiat Pancasila. Ia pernah berkecimpung di jagat religi dalam koridor akademik sejak mengajar di Universitas Paramadina. Sebuah kampus yang kerap disematkan pada cendekiawan muslim senior, Nurcholish Madjid.

 

“Saya merasa terenyuh sekaligus merasa rikuh. Karena UNY ini seperti menarik saya ke dunia spiritual. Berkali-kali saya diundang di UNY untuk bicara soal-soal keagaman. Suatu topik atau subyek yang sudah lama saya tinggalkan sebenarnya,” ungkap Yudi, Ketua UKP-KIP, dengan nada rendah hati. Ceramah berdurasi 47 menit itu banyak disampaikan Yudi secara renyah, komunikatif, dan ilmiah.

 

Panitia membentangkan tema bertajuk Meningkatkan Ukhuwah untuk UNY Unggul. Merespons cakupan tema itu Yudi mengawali ceramah dengan pembagian dimensi manusia. Tiga aspek itu meliputi basyar (biologis), an naas (sosial), dan insan (spiritual). Trikotomi demikian diungkap Yudi dalam rangka memotret pencapaian kudus manusia di hari Idul FItri.

 

Masalah pendidikan di Indonesia berpusar pada tiga dimensi itu. Menyorot aspek sosial, menurut Yudi, merupakan akar dari problem pendidikan kontemporer. Krisis dimensi sosial dianggap penting diulas. “Untuk itu kita memerlukan jaringan kebersamaan. Salah satunya adalah menekankan budaya kreatif. Tapi tetap memperhatikan tiga dimensi tadi,” katanya.

 

Lebih lanjut, pendidikan, bagi Yudi, mesti memperhatikan aspek biologis. “Kalau aspek ini terpenuhi maka membangun dimensi insaniah dapat terwujud. Yang paling penting pula ia harus memperhatikan dimensi humanitas dan kepekaan nurani. Jika semua itu dimaksimalkan dimensi an naas dengan silaturahmi berbagi kasih dan rezeki dapat tercapai. Nah, ini yang saya sebut sebagai pulang kampung halaman,” tuturnya.

 

Yudi mengutip hadis mengenai tiap manusia terlahir fitrah. Pada posisi fitrah ini ia memberi penekanan betapa pendidikan sudah selayaknya diarahkan menuju kesucian. Menolak teori tabula rasa karena dianggap usang, Yudi, kemudian menjelaskan tugas pendidikan agar tak terjebak pada situasi doktriner. Pendidikan, menurutnya, harus berangkat dari asumsi untuk menebalkan potensi lahiriah manusia.

 

“Kalau Ki Hadjar Dewantara menyebut fitrah ini sebagai suatu bawaan kodrati manusia. Secara biologis manusia kan sudah membawa DNA yang mencerminkan sifat-sifat tertentu. Semacam goresan-goresan atau sketsa-sketsa bawaan,” ujarnya. Yudi memberi gambaran praktis kalau pendidikan era kini mesti menebalkan sketsa-sketsa bawaan yang positif. “Sedangkan garis-garis negatif yang menjadi bawaan harus dikaburkan, dihilangkan, kalau bisa dihapuskan pula.”

 

Sepanjang ceramahnya di hadapan ratusan dosen dan pegawai UNY, Yudi, lulusan s-3 Australian National University, banyak menarasikan konsep ramadan sebagai penempaan diri dan syawal sebagai musim semi. Menjadi manusia yang suci, kata Yudi, adalah orientasi Idul Fitri. Proses ini dianggapnya sebagai seorang pemenang yang telah melewati dan mengalami kawah candradimuka bulan puasa.

 

Ihwal kesucian manusia pada momen Idul Fitri disinggung Rektor UNY, Sutrisna Wibawa. Ia menganalogikan makna utama bulan syawal adalah kembali suci seperti bayi yang baru dilahirkan. Orang nomor satu di UNY itu mengharapkan agar acara syawalan menjadi pengingat bersama: kembali suci, di hari fitri, tentu dilalui setelah menjalankan ramadan. Itupun atas hak prerogratif ampunan Tuhan. “Harapannya setelah lebaran kita bisa merekatkan kembali ukhuwah antarkolega dan meningkatkan kinerja agar UNY makin unggul,” jelasnya.

No Responses

Leave a Reply