Wawancara Khusus

Yudi Latief, Ph.D.

” kalau ada guru dan dosen radikal, lebih baik tidak usah mengajar.”

Radikalisme tak dimungkinkan muncul secara tiba-tiba. Pada setiap insan, Yudi Latief percaya bahwa radikalisme butuh proses pertumbuhan yang panjang. Lewat paparan indoktrinasi, literasi, hingga proses pendidikan. Sehingga pendidik, kemudian tak hanya bertugas untuk menyuapi ilmu eksak. Tapi juga menjadi “bidan” Pancasila kepada setiap putra-putri bangsa, dimanapun mereka bertugas.

Kepada Redaktur Pewara Dinamika, Ilham Dary Athallah, Yudi kemudian berkisah bagaimana para guru tersebut dapat berfungsi sebagai garis terdepan bangsa dalam memperteguh Pancasila kepada para generasi penerus. Rekrutmen hingga proses mendidik calon guru di kampus Lembaga Pendidikan Tinggi Keguruan (LPTK) layaknya UNY, juga disorotnya sebagai pilar penting untuk mempersiapkan para bidan Pancasila. Guna mempersiapkan mereka di “medan perang” ideologis.

 

Bagaimana pada dasarnya ideologi radikal dapat berkembang pada sebagian orang?

 

Radikalisme tidak sekali jadi, ia hadir dari proses pertumbuhan yang panjang. Bahkan nyaris, tidak ada kelompok masyarakat yang menganggap dirinya anti pancasila. Terlepas dari memang ada organisasi radikal yang menyatakan perang kepada Pancasila. Namun hampir semua menyebut (dirinya percaya pada) pancasila, walau memiliki tafsirnya beda-beda. Ada yang cita rasa syariah, dll. Tapi imajinasinya (tetap) pancasla.

 

Itulah secercah kabar baik. Memang didalam dunia rutinitas terang benderang, bintang itu tidak pernah kelihatan. Cahaya bintang, justru hanya kelihatan saat gelap malam. Sehingga momen-momen seperti ini, ketika kita melihat ada radikalisme, tuntunan dan kesadaran atas Pancasila ini justru semakin kita hayati dan pikirkan kebenarnya. Masyarakat mulai membicarakan dan ingat kembali pada Pancasila, dan itu baik.

 

Sehingga dalam studi-studi, kerap bermunculan fakta bahwa orang pada mulanya tidak pernah terpikir ingin menjadi radikal. Bahkan tidak terpikir menjadi radikal, ketika kita mungkin telah menyebut mereka berpemikiran radikal. Insan-insan tersebut terpengaruh lingkungan, misalnya paparan indoktrinasi dalam pengajian tertentu yang mengikuti satu track tafsir dan menegasikan tafsir lainnya. Begitu pula dengan literasi maupun proses komunikasi yang mungkin hanya sempit pada satu sudut pandang, dikungkung lingkaran tertutup. Lama-lama, hasilnya insan tersebut mengalami pengerasan. Akhirnya makin eksklusif, makin radikal kan?

 

Sejak kapan proses pertumbuhan ideologi tersebut berlangsung pada suatu insan?

 

Radikalisme sudah dan selalu ada dalam lintas sejarah. Dan ia bisa tumbuh kapanpun, dalam usia berapapun. Orang bisa saja beranjak tua dahulu lalu terpapar radikalisme dari pengajian maupun media sosial yang ia gandrungi. Tapi anak-anak, dan mahasiswa, juga sangat rentan di pusaran medan perang ideologis yang makin hari makin pelik ini.

 

Pemberitaan akhir-akhir ini membuat kita mengetahui bahwa ada satu dua dosen dan guru yang bahkan juga terlibat dalam radikalisasi. Padahal Pancasila sebagai landasan negara paripurna kita, harusnya dihadirkan dan mampu terhadir dengan keberagaman yang ada di masyarakat. Termasuk keberagaman dalam cara berpikir.

” Jika semua pendidik menjalankan tugasnya sebagai bidan Pancasila dengan baik, tak hanya dengan ceramah tapi juga teladan karakter, tidak akan ada radikalisme di Indonesia “

Bagaimana kemudian cara untuk mencegah tumbuhnya radikalisme sejak dini tersebut?

 

Pendidik harus sadar tugasnya untuk mendidik, dan memahami bahwa hakikat menjadi guru adalah menjadi bidan. Melahirkan sesosok insan penerus bangsa yang bukan hanya sehat secara lahiriyah dalam bentuk kecerdasan ilmu eksak, tapi juga sehat lahir batin berlandaskan religiusitas dan pancasila. Karena Pendidikan, Education, itu berasal dari kata kerja to educate. Artinya: mengeluarkan potensi. Radikalisme jelas menutup potensi itu.

 

Namun, menekankan Pendidikan Pancasila bukan berarti hanya dengan cara simbolis. Apalagi hanya mengandalkan mata kuliah PPKN atau MKWU (Mata Kuliah Wajib Umum, diselenggarakan di Universitas layaknya Pendidikan Kewarganegaraan dan Pancasila). Boleh jadi Pancasila itu nanti dihafal aksiologinya, misalnya implementasi pancasila yang memiliki 36 butir lalu dikembangkan jadi 45 butir. Tapi kalau hanya hafalan, tidak memenuhi aspek filsafat ontologi dan epistemologinya, percuma. Itu lagi-lagi bukan educate.

 

Ia (Pendidikan Pancasila) harus berlangsung dengan menumbuhkan habit yang mendorong anak didik pada intuisi sosial. Reaktualisasi pemahaman pancasila yang demikian misalnya dapat dilakukan dengan cara desain pembelajaran yang harus memberikan ruang orang beda agama dan etnis untuk duduk bareng.

 

Bahkan kalau perlu, hidup dengan keberagaman itu perlu dibiasakan. Misal kalau mahasiswa, diminta untuk live in. Mereka tinggal di keluarga dengan latar belakang sosio-ekonomi, termasuk suku agama dan ras, yang berbeda dengan mahasiswa tersebut. Kalau anak-anak, kita ajak jalan-jalan dan mengenal kelompok yang beragam. Misal mempelajari sila pertama, maka ajaklah putra-putri penerus bangsa itu berkunjung ke berbagai komunitas agama. Sehingga tak perlu menampilkan teori atau abstrak yang susah dicerna anak-anak.

 

Perilaku keberagaman akan menampilkan teladan. Biarkan mereka mewawancara dan mencerna sejarah hidup keteladanan tersebut. Jumpakan untuk ketemu dengan pahlawan dan idola mereka, untuk menambatkan efek sugesti kuat bahwa keberagaman dalam bingkai Pancasila itu indah. Dari situ, proses interchange berlangsung dan ujungnya mengenalkan identitas kolektif. Sebaliknya, ketidakkenalan karena ketiadaan proses tersebutlah yang selama ini menjadi pangkal kebencian.

 

Bagaimana prospek kemampuan sistem pendidikan Indonesia dalam melaksanakan ekspektasi pendidikan Pancasila tersebut?

 

Ini memang agak menantang untuk sekolah dasar. Karena kemampuan finansial maupun SDM yang terbatas, biasanya satu wali kelas mengajar berbagai mata pelajaran. Nyaris sehari penuh siswa bertemu guru yang sama. Di lingkungan yang homogen layaknya masyarakat suatu desa pada umumnya memiliki agama serupa, terlebih lagi proses pembelajaran satu arah oleh guru kepada murid, (pembelajaran) bisa dimanfaatkan menjadi indoktrinasi jika pengajarnya tidak teguh pada Pancasila.

 

Tapi kita tidak boleh menyerah. Badan Pembinaan Ideologi Pancasila senantiasa berkomitmen menekankan kalau anak-anak ini menjalankan Pancasila, kalian bisa maju dan berprestasi. Baik secara pribadi, ataupun kolektif. Tiap tahun BPIP memberi penghargaan pada insan berprestasi agar menjadi ikon mengkampanyekan Pancasila. Menjadi duta untuk mengenalkan bahwa keberagamanlah yang menjadikan kita berprestasi. Atlit bulu tangkis ganda campuran misal, satu cowok Islam, satu cewek kristen, tetap bisa duet maut dan mengibarkan panji-panji merah putih kita di kancah dunia. Masih banyak lainnya, dan kita kenalkan lewat program keliling institusi pendidikan bertajuk “Pancasila Inspirasi Prestasi”

 

Bagaimana memastikan pendidik Indonesia berkarakter dan mengajarkan Pancasila?

 

Saya pribadi pada dasarnya yakin, bahwa sebenarnya lebih banyak guru Indonesia yang baik dan Pancasilais. Dan jika semua guru, dosen, dan pendidik menjalankan tugasnya sebagai bidan Pancasila dengan baik, tak hanya dengan ceramah tapi juga teladan karakter, tidak akan ada radikalisme di Indonesia. Tapi kalau ada guru dan dosen radikal, lebih baik tidak usah mengajar.

 

Untuk memastikan hal tersebut, kelembagaan kemudian menjadi penting. Pancasila ini harus diturunkan dalam institusi tidak hanya politik, tapi juga ekonomi dan budaya, Ini memerlukan riset tersendiri dari pusat studi pancasila, dan keteladanan karena ia justru menyampaikan pesan lebih banyak dibanding bicara berbusa-busa. Mekanisme rekrutmen guru juga selama ini telah berlangsung dengan baik. Misalnya, kemampuan kewarganegaraan ketika ada CPNS. Tidak perlu sampai seperti era sebelumnya dimana kita menekankan screening sampai latar belakang dan silsilah keluarga. Justru jadi alat politik kan di masa itu?

 

Yang penting keteladanan dan pendidikan pancasila yang berkelanjutan saja. Ketika kelak mereka mengajar, bertemu masyarakat, merekalah sebenarnya hulu mata air pancasila karena ideologi itu digali Soekarno dari nilai-nilai yang telah ada di bumi pertiwi sejak lama. Kalau Pancasila ini kering, ya para guru harus terlibat mengaktifkan sumur itu kembali, turut menggali lebih dalam, pada diri tiap-tiap insan generasi penerus.

 

Terkait dengan rekrutmen guru, bagaimana kemudian Pendidikan Keguruan layaknya UNY dapat berperan?

 

Mengaktifkan sumur tersebut juga seharusnya sudah bisa berlangsung sejak teman-teman UNY masih dalam tahap KKN dan KKL. Mengelola desa binaan secara kontinu, karena UNY yang kekuatannya di bidang keguruan itu memang tugasnya melahirkan para bidan Pancasila tadi. Ia menjadi pilar penting bersama dengan seluruh stakeholder dan elemen fundamental lainnya, untuk memastikan bahwa proses pendidikan pancasila hadir dengan sesungguhnya di masyarakat. Walaupun harus diingat, sebagai bidan pancasila, tugas kita ini ya membantu kelahiran. Bukan melahirkan, apalagi keminter dan menegasikan yang lain. Tugas kita adalah menggali pancasila dan memastikan keberlangsungannya sepanjang hayat.

 

Sehingga keberhasilan pendidikan Pancasila di kampus keguruan, menjadi vital untuk membuka potensi anak-anak bangsa. Ruang-ruang keberagaman harus dibuka sejak dari kampus. Kemampuan pedagogik yang dipupuk di UNY, akan memastikan bahwa mereka kelak akan melakukan proses edukasi dengan baik. UNY dan semua kampus di negeri ini, sudah pasti berkomitmen untuk itu. Mari kita eksekusi bersama!

 

 

 

 

Tempat Tanggal Lahir: Sukabumi, 26 Agustus 1954

 

Latar Belakang Pendidikan:

S1 Ilmu Komunikasi, Universitas Padjajaran (1990)

S2 Sosiologi Politik, Australian National University (1999)

S3 Sosiologi Politik dan Komunikasi, Australian National University (2004)

 

Jabatan:

Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (1993-sekarang)

Wakil Rektor, Kepala PSIK/PSID Universitas Paramadina (2005-2007)

Kepala UKP-PIP/Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (2017-2018)

Dosen Universitas Negeri Yogyakarta (2018-sekarang)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here