Home Wawancara Khusus Ir. Joko Driyono (VIce President PSSI) – BERANI BERMIMPI, BERANI BERPRESTASI

Ir. Joko Driyono (VIce President PSSI) – BERANI BERMIMPI, BERANI BERPRESTASI

110
0

Berani Bermimpi, Berani Berprestasi

Keberanian bermimpi menjadi pijakan kokoh atas pencapaian gemilang. Guna merengkuh prestasi, semangat mahasiswa masa kini harus sama hebatnya dengan para pendiri bangsa saat mendeklarasikan sumpah pemuda.

 

Kepada Redaktur Pewara Dinamika, Ilham Dary Athallah, Joko Driyono di sela-sela Studium General Dies Natalis FIK UNY dalam kapasitasnya sebagai Vice President Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI), merefleksikan pengalamannya memayungi talenta-talenta atlit muda. Pengalaman tersebut dibedah untuk menunjukkan bahwa mahasiswa punya potensi guna berprestasi bagi bangsanya. Dengan meneladani sumpah pemuda, mahasiswa diharapkan berani bermimpi dan punya semangat juang tinggi.

 

—-

 

Bagaimana mahasiswa selayaknya memaknai peringatan dan sumpah pemuda?

 

Peringatan hari besar, hakikatnya tak hanya memperingati fenomena dan lintasan sejarahnya. Tapi juga semangat yang ada di dalam peringatan tersebut. Bagi saya, sumpah pemuda menunjukkan bahwa selama ada kemauan, bangsa ini bisa melakukan yang tak terduga. Dengan semangat untuk bersatu dan berjuang, bangsa ini bisa mendobrak penjajah.

 

Impossible we did! (Dengan semangat, Indonesia bisa melakukan hal yang mustahil: merdeka). And shall within the same courage, impossible we do! (Dan dengan semangat yang sama, kita akan bisa untuk kembali melakukan hal yang mustahil

 

Apa hal-hal “impossible” yang harus dikejar Indonesia saat ini?

 

Apapun. Bahkan yang tidak terbayangkan sebelumnya, termasuk di bidang olahraga. Prestasi dalam Asian Games misalnya, baik Asian Games ataupun Asian Para Games yang mana Indonesia berhasil menduduki peringkat ke lima. Semangat kita untuk sukses penyelenggaraan dan sukses prestasi, membawa kita pada prestasi tersebut.

 

Barangkali kalau Asian Games kita sesukses ini, lengkap dengan Tim Nasional Sepakbola juara, orang-orang malah bisa lupa tahun 2019 akan ada pemilu atau tidak.

 

Terkait dengan sepakbola misalnya, pada kesempatan terpisah, beberapa kali presiden menyampaikan atensinya pada sepakbola. Yang kita di PSSI menangkapnya, bahwa Presiden meyakini jika sepakbola dan khususnya timnas ini menangan (selalu menang), sebenarnya separuh masalah negeri ini selesai. Rakyat akan bahagia dan semua warga negara hidup damai dan rukun.

 

Nah untuk menyukseskan prestasi sepakbola tersebut, maka urusan untuk menyukseskannya tak sekedar seputar olahraga. Ada generasi muda yang harus disiapkan dan dihantarkan, sehingga terbukti telah berhasil menjuarai AFF U-16 kemarin dan menjadi yang terbaik di Asia Tenggara.

 

Harus ada penataan dan persiapan atas peraturan, wasit, dan pelatih, agar pertandingan harus berkualitas. Guna menjamin tingkat persaingan dalam pertandingan, ia kemudian harus dikembangkan menjadi kompetisi. Kompetisi lokal, regional, hingga global.

 

Penataan ini tidak mudah, namun bukan berarti tidak mungkin selama kita memiliki bahwa menuntaskan problematika sepakbola, adalah visi bersama dan pekerjaan bersama. Dengan kerjasama UNY dan PSSI yang begitu baik, saya punya keyakinan bahwa sepakbola kampus dan ada dalam pesawat yang sama, take off bersama, landing bersama, untuk komitmen indonesia lebih baik.

 

Apakah mahasiswa bisa ikut kontribusi untuk menuntaskan masalah bangsa?

 

Pasti bisa. Dalam bidang sepakbola sebagai pengalaman dan ekspertis yang sedang saya tekuni dan mungkin jadi pembelajaran untuk rekan-rekan mahasiswa, ruang untuk kontribusinya saja begitu luas.

 

Sepakbola selama ini, esensi serta penukaran keterampilannya dilakukan melalui kompetisi. Maknanya secara umum dianggap sebagai keberhasilan lawan. Tetapi dalam konteks sosiologis dan budaya, menerjemahkan mengalahkan lawan tidak hanya mengejar satu kemenangan dalam satu pertandingan. Sepakbola bisa jadi penderitaan, karena ketika satu tim angkat tropi, yang lainnya menangisi.

 

Tapi sepakbola bisa membahagiakan, ketika ia didefinisikan dalam berbagai dimensi. Meningkatkan disiplin, respect, fair play, itu esensi sepakbola. Tidak sekedar aspek score. Dan ini butuh keturutsertaan segenap masyarakat Indonesia, tak terkecuali mahasiswa dan muda-muda yang selayaknya melek terkait prinsip ini.

 

Menelaah bagaimana caranya menang, juga punya pergulatannya tersendiri. Determinan untuk menang menjadi sangat kompleks, sehingga muncullah ilmu baru yang disebut Sport Science. Mengkuantifikasikan sepakbola serta analisisnya, sehingga membuat cabang olahraga ini menjadi lebih terukur, terintegrasi, dan tujuan akhirnya: terprediksi. Betapa pentingnya sport science dengan segmen luas yang meluiputinya.

 

Pada program sport science itu, dirumuskan tentang program latiha, program gizi, serta analisa statistik yang sangat spesifik. Misalnya, bagaimana sepakbola harus menjaring membuat network sedemian rupa 11 orang punya intelegensia seragam dan mencapai goal sama.

 

Tidak cukup punya kondisi fisik strong, tapi intelegensi yang 90% pekerjaanya tidak bersentuhan dengan bola. Untuk berlari, berpikir, bocking space, antisipatsi, dll. Mahasiswa dengan ilmu sport sciencenya, bisa tackle isu ini. Atau bahkan jadi atlitnya.

 

Ini baru bidang sepakbola, belum bidang lain. Selalu ada ruang untuk kontribusi. Lebih lagi karena mahasiswa punya pemikiran yang luas. Kemampuan fisiknya di usia yang masih muda, juga tak diragukan. Oleh karena itu, mahasiswa bisa versatile (lincah). Bisa berkontribusi dimanapun ada permasalahan. Dimanapun bangsa membutuhkan

 

Cara mahasiswa untuk berkontribusi?

 

Pelatih terkenal Eropa Pep Guardiola pernah bilang kala masih menukangi Barcelona: mind control all. Olahraga sepakbola, serta masalah-masalah dalam kehidupan, telah membuktikan kerja tim sebagai solusinya. Artinya, kemampuan individu walaupun penting, tidaklah segalanya.

 

Intelegensia adalah faktor yang membentuk diri. Membentuk tindakan dan aktivitas fisik yang disokong dengan kemampuan fisik kita. Sehingga walaupun kemampuan fisik kita tak sehebat Ronaldo misalnya, dengan kerja tim yang baik, maka ia akan menjadi hal baik. Menjadi hal yang optimal. Karena mind is a good thing.

 

Inilah yang harus diingat betul oleh mahasiswa kita dalam berkontribusi. Tidak boleh sekedar menggantungkan pada ego dan kemampuan individu. Masalah bangsa terlalu besar untuk diselesaikan seorang diri. Jadilah diri, dan jadikan kemampuan intelegensiamu untuk menggerakkan bangsa ini bersama ke arah yang lebih baik.

 

Untuk menggerakkan tersebut, kembali pada apa yang saya tekankan di awal, hati kita harus tergerak lebih dahulu. Without dreams, you have no wings. Ini quote dari Pep Guardiola (Pelatih Manchester City). Semangat untuk bermimpi, dan berusaha dengan segala asa untuk menggapainya.

 

Inilah kontribusi yang paripurna. Di bidang apapun, selama dengan kesungguhan hati. Dan inilah, semangat sumpah pemuda!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here