Home LAPORAN UTAMA UNY Selangkah Menuju Vokasi

UNY Selangkah Menuju Vokasi

76
0

“Sekolah vokasi hendak dibesut UNY dalam rangka merespons positif era Revolusi Industri 4.0. Mengintegrasikan semua elemen kunci utama. Komitmen ini setarikan napas dengan wacana pembangunan manusia Presiden Jokowi”

Melalui Nawacita besutan Joko Widodo dan Jusuf Kalla, pembangunan tiap sektor menjadi prioritas kepemimpinannya. Pendidikan vokasi termasuk titik fokus yang digenjot. Tanpa vokasi yang berpusar pada pendidikan keterampilan manusia, pembangunan yang diwacanakan Jokowi niscaya kering-kerontang kemanusiaan. Betapapun di balik pembangunan itu dirayakan, manusia tetap menjadi penggerak utama keberhasilannya.

Paristiyanti Nurwardani, Direktur Pembelajaran Kemenristekdikti, mengatakan salah satu program pemerintah untuk meningkatkan kualitas vokasi akan berdampak pada kualitas guru vokasi yang mumpuni. Pendidikan vokasi sebagai laboratorium didaktis pencetak guru ini ditekankan Paristiyanti. “Untuk mencetak siswa yang dapat memiliki kemampuan kompetensi tinggi, maka gurunya harus memiliki kompetensi yang lebih baik dari siswanya.”

Calon guru vokasi wajib mengikuti uji kompetensi. “Nanti, setelah melalui tes, mereka akan mendapatkan sertifikat. Diharapkan ini menjadi bukti kalau calon guru vokasi lebih unggul dari siswa yang akan diajarnya,” jelasnya. Paristiyanti menitikberatkan pada kompetensi sebagai komponen penting yang harus dimiliki calon guru.

Jenjang diploma didorong agar menerapkan model pembelajaran tipe 3-2-1. Menurutnya, komposisi pendidikan vokasi mesti melewati tiga semester perkuliahan, dua semester magang di dunia usaha maupun industri (DUDI), dan satu semester kembali ke kelas. Yang terakhir ini, lanjutnya, bersifat pemantapan setelah mengalami beberapa tahap sebelumnya.

“Yang jelas lulusan diploma harus memiliki uji kompetensi yang lebih tinggi dari lulusan SLTA, terutama mereka yang diperuntukkan menjadi guru,” ucapnya, sebagaimana dilansir Majalah Ristekdikti Edisi Revitalisasi Vokasi. Ia menambahkan kalau perguruan tinggi yang menyediakan sekolah vokasi harus pula mengejawantahkan Standar Nasional Perguruan Tinggi (SNPT) dan memenuhi Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). Setarikan napas dengan harapan pemerintah, UNY bergegas merumuskan sekolah vokasi. Ini komitmen Sutrisna Wibawa yang dipegang erat selama menjabat.

Respons Positif

Fasih Radiana, mahasiswi angkatan 2013 D-3 Prodi Tata Rias dan Kecantikan, FT, UNY, tersenyum merekah siang itu. Ia baru saja mendengar kabar almamaternya hendak membuka sekolah vokasi. Meskipun masih simpang-siur, kabar itu melegakannya. Fasih mengakui nasib mahasiswa D-3 masih terombang-ambing. Antara dituntut menguasai kecakapan praktis dan minimnya peralatan lapangan. “Padahal sekolah vokasi itu lebih kepada ilmu terapan. Jadi, banyak praktik,” kata Mapres D-3 UNY itu.

Menurut Fasih, kebutuhan kerja harus disokong para lulusan D-3. Tapi kenyataannya justru tak ada bedanya mahasiswa vokasi dengan S-1. Usai lulus, mereka berlomba mendapatkan pekerjaan di tempat sama. Regulasi persaingan kerja menyetarakan mereka. Bahkan, ironinya, lulusan S-1 dianggap lebih unggul ketimbang D-3. Jamak pula kerabat Fasih yang mencibir pilihannya di jenjang diploma. Stigma itu tak mengubah komitmen Fasih.

“Sekolah vokasi, menurutku, ada nilai tambah,” ungkapnya. Ia berhadap kepada UNY agar pendidikan vokasi mempunyai citra baik di masyarakat. Ungkapan itu menandakan khalayak masih memandang S-1 sebagai tujuan utama, sedangkan D-3 adalah alternatif terakhir. Menurut Fasih, tugas UNY akan berat karena selain membangun sistem dan kualitas, ia harus menyetip pandangan negatif ihwal sekolah vokasi.

Banyak mahasiswa D-3 sudah bekerja meski belum diwisuda. Kenyataan ini dialami Fasih. Semasa masih kuliah, ia sering mendapatkan pekerjaan. Merias, body painting, bahkan pembicara demo rias, telah Fasih lalui dengan senang hati. “Kalau di vokasi kita bisa lebih terampil dan mempunyai kecakapan dalam bidang yang digeluti,” tuturnya. Keunggulan itu membuat Fasih percaya diri di dunia kerja. Apalagi tak sekadar kemahiran tata rias, tetapi juga pengetahuan ilmiah mengenainya.

Walau Fasih harus belajar ekstra, baik teori maupun praktik, ia teradang cemas. “Tidak ada kata semakin besar semester, maka bisa pulang lebih pagi. Yang ada justru sampai malam,” keluhnya. Porsi pembelajaran yang ia rasakan sangat menguras waktu dan pikiran. Terlebih D-3 hanya diberi waktu tiga tahun. Tantangan tersebut membuat Fasih terbiasa, walaupun ia masih mengharapkan pemadatan kurikulum. “Supaya mahasiswa D-3 tidak terlalu terforsir, tapi tetap diberi mata kuliah yang relevan dan berkualitas,” harapnya.

Bayangan Fasih, petama-tama, tatkala mendengar akan dibangunnya sekolah vokasi adalah fasilitas yang menunjang pembelajaran. Imajinasi itu ia kemukakan karena Fasih beberapa kali mengeluh minimnya peralatan rias. Demi mengisi kekosongan itu Fasih dan mahasiswa Fakultas Teknik (FT) lain harus mengeluarkan duit. “Keperluan itu tidak murah. Nah, masalah kami di situ (finansial). Apalagi kami masih mahasiswa yang belum berpenghasilan,” ujarnya.

Suatu ketika Fasih pernah gagal fokus, “Sangat sering saya ikut kuliah di kelas yang berisi 40 mahasiswa. Akhirnya, kebanyakan dari mereka mengantuk, lebih-lebih kelasnya pengap. Kata-kata dosen buyar semua.” Kondisi tersebut di luar standar umum. Bila tak segera diperbaiki, menurut Fasih, orientasi materi mustahil tersampaikan dengan baik. “Kelasnya saja tidak kondusif. Bagaimana mahasiswa bisa nyaman belajar?”

Memantapkan Strategi

Di bawah kepemimpinan Rektor UNY wacana sekolah vokasi itu hendak direalisasikan. “Rencananya akan kami sentralkan di Kulon Progo,” katanya, pekan ketiga bulan Mei lalu tahun 2017. Sutrisna berencana memenuhi kebutuhan industri dengan menyiapkan sarjana diploma yang siap menyambut Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Terobosan visioner itu diapresiasi oleh mahasiswa D-3 UNY.

 

Angin segar datang dari media massa. Gagasan Sutrisna itu diberi tempat seluas-luasnya oleh Koran Bernas. Putut Wirjawan, Pimpred Bernas, mendukung upaya rektor itu melalui penyosialisasian sekolah vokasi ke masyarakat. “Saya melihat bahwa UNY menempati peran strategis dalam membangun SDM dan profesional. Terutama calon mahasiswa yang akan menempuh pendidikan vokasi,” paparnya.

 

Putut menambahkan kedudukan UNY di Yogyakarta yang sangat strategis bagi atmosfer pembelajaran. “Apalagi Indonesia dulu dibangun dari Yogyakarta. Kita ingat Soekarno dan Hatta pernah memindahkan ibu kota Indonesia di Yogyakarta. Jadi, kita harus mengulang semangat itu,” tegasnya. Ia berharap agar terjalinnya sinergi antarelemen: UNY, masyarakat, dan media. Tanpa ketiga komponen itu, menurut Putut, “Tujuan luhur akan susah dicapai.”

 

Senada dengan Putut, Octo Lampito, Ketua Dewan Kehormatan PWI Yogyakarta, melihat upaya UNY untuk mendirikan sekolah vokasi itu akan mengentaskan kemiskinan di DIY. “Bayangan saya, Jogja itu daerah termiskin di Jawa, namun usia harapan hidupnya juga tinggi. Kita bisa berharap banyak dari sekolah vokasi itu,” katanya.

 

Octo memberikan lima poin mata kuliah untuk dipertimbangkan lebih lanjut: negosiasi, kerja tim, kepemimpinan, pemecahan masalah, serta etos kerja dan karakter. “Kalau melihat statistik, tenaga kerja kita, menurut BPS, 62% ke bawah itu lulusan SMP. Jadi, untuk mengatasinya, mereka perlu dididik lima butir tadi.”

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here