Babak baru pembangunan fisik dihela demi menyambut universitas kelas dunia. Jerih payah para pimpinan UNY membuahkan hasil setelah lobi puluhan kali.

SUTRISNA Wibawa bisa bernapas lega. Memperjuangkan dana Islamic Development Bank (IDB), sejak tahun 2016, berbuah manis tiga tahun terakhir. Tatkala masih menjabat Pembantu Rektor II, masa kepemimpinan mendiang Sugeng Mardiyono, pada tahun 2006, ia bolak-balik Jakarta melobi Kemdikbud dan Bappenas. Sutrisna landasi ikhtiar itu sebagai semangat pembangunan dan pengembangan menuju kampus dunia.

“Pada mulanya penyusunan proposal tahun 2006,” kenang Slamet Widodo, Direktur Eksekutif IDB UNY. Ia kini melanjutkan perjuangan Sutrisna sejak 2015. Sebelum bernama IDB, proyek pengembangan itu bernama The Support of Development Higher Education in Indonesia. Selain UNY, menurut Slamet, ada enam kampus yang juga mengusulkan proyek. “Usulan itu bersifat individual,” katanya.

Ketimbang UNESA, UNY dua tahun lebih dini mengusulkan progam. “Yang terakhir itu Universitas Lambung Mangkurat sekitar 2009/2010,” tuturnya. Kendati demikian, pemarafan UNY termasuk paling belakang. Sekitar tujuh tahun dan melalui revisi proposal untuk diteruskan ke Kemdikbud, Kemenkeu, dan Bappenas.

Syahdan, pada 2013, ketika masa penantian itu, tim IDB bertandang ke UNY. Mereka menilai dan mempertimbangkan apakah cetak biru di UNY layak dilaksanakan. “Hingga akhirnya, awal 2014, proyek IDB dimulai,” kenang Slamet. Keputusan itu membawa angin segar bagi UNY, meski prosesnya menghabiskan kurang dari setengah dekade.

Usai peletakan batu pertama Laboratorium Musik dan Tari, FBS, pada 6 Agustus 2014, kucuran bantuan IDB direalisasikan. Gedung tersebut selesai dibangun dan diresmikan pada 18 September 2015. Bangunan berlantai empat itu merupakan gedung pendidikan yang masuk ke dalam proyek IDB 7 in 1. Selain menggunakan dana IDB, Laboratorium Musik dan Tari ini mendapatkan bantuan dari Government of Indonesia (GOI).

Sukses pendirian gedung pertama, UNY hendak melanjutkan pembangunan fisik lain. Walaupun bangunan lama telah diratakan sejak akhir tahun lalu, pembangunan masih menunggu pihak Kemenristekdikti. Pekan kedua Juli 2017, tujuh universitas—UNY, UNESA, UNG, UNSRAT, UNTAN, UNLAM, dan UNSYIAH—diundang ke Senayan.

Semua perguruan tinggi itu diparaf IDB, kecuali UNSYIAH karena telah mendapatkan Saudi Fund and Development (SFD). “SFD itu bilateral. Tapi kalau kita ini (IDB) multilateral. Artinya, IDB sebagai lembaga keuangan Islam berkerja sama dengan pemerintahan Indonesia,” ujar Slamet.

Intan Ahmad, Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, menyampaikan bahwa komitmen merupakan kunci utama keberhasilan proyek besar ini. “Selain dukungan IDB dan SFD, civitas akademica serta pimpinan kampus turut ambil andil dalam implementasi 7 in 1,” tegasnya. Menurutnya, pada 2017, sebanyak 184.267 mahasiswa dan 8013 staf pengajar juga mendapatkan manfaat dari helatan jangka panjang itu.

Kilas Balik

R

AJA Arab Saudi, Faisal bin Abdulaziz Al Saud, mendukung Organisastion of Islamic Cooperation (OIC) mulai tahun 1975. Kebutuhan global yang semakin mendesak, baik dari dimensi pendidikan, sosial, ekonomi, dan kebudayaan, OIC—melalui kebijakan Kementerian Keuangan Arab Saudi—membentuk IDB di Jeddah pada 1973 sebagai antitesis terhadap keperluan itu. Karenanya, IDB adalah organisasi induk OIC.

Dilihat dari statuta, IDB merupakan lembaga multilateral. “Jadi, saham terbesar memang dari negara-negara Timur Tengah. Tapi Indonesia juga salah satu pemilik saham,” papar Slamet. Dilansir dari laman isdb.org sepuluh dari anggota IDB, Indonesia (per-Agustus 2015) menempati peringkat terakhir dengan 2,93 % paid-up capital.

Bentuk bantuan IDB adalah pinjaman untuk program produktif seputar pembangunan pendidikan, sosial, dan ekonomi. “Dana IDB itu loan. Itu pinjaman. APBN, sumber dalam negeri, tidak cukup membiayai pengembangan negara. Oleh karenanya, sumber dana bantuan pembangunan UNY itu kami pinjamkan dari IDB,” tutur Sutrisna.

Dilihat dari persetujuan tertulis, IDB itu mengutamakan pembangunan fisik. “Sebesar 65% dari total proyek itu berorientasi fisik,” kata Slamet. Dikutip dari dokumen Belmawa Kemristekdikti, sekitar 20 juta USD dianggarkan untuk pembangunan fisik, sedangkan 4 juta USD untuk biaya peralatan.

Peribahasa sekali merengkuh dayung, dua, tiga, pulau terlampaui tepat menggambarkan posisi UNY terhadap IDB. Selain memanfaatkan bangunan fisik, kampus eks. IKIP itu menargetkan pengembangan nonfisik. Sekitar 133 judul hibah penelitian, menyekolahkan enam dosen ke luar negeri, dan melatih 173 staf pengajar ke dalam negeri serta 33 ke luar negeri (tidak bergelar) adalah tiga prioritas pembangunan manusia yang akan didanai IDB. “Itu semua belum termasuk peremajaan gedung, seminar, pengembangan kurikulum, dan modul e-learning,” ungkapnya.

Sasaran yang hendak dicapai melalui IDB itu disusun atas dasar kebutuhan strategis. Analisis kebutuhan dan pertimbangan dampak jangka panjang telah dilakukan UNY secara matang. “Total pinjaman IDB itu 25 juta USD. Yang dari pemerintah sebesar 9 juta USD. Jadi, totalnya 34 juta USD,” pungkas Slamet.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here