“Bahasa dicipta demi kemaslahatan bangsa. Tanpanya manusia tak akan menjadi insan seutuhnya. Perkembangannya ditandai pada tiap tikungan zaman”

Mohammad Yamin, pencipta “imaji keindonesiaan” itu, mengajukan secarik kertas kepada Soegondo. “Ik heb een eleganter formulering voor de resolutie (Saya mempunyai suatu formulasi yang lebih elegan untuk keputusan kongres ini),” bisiknya, seperti ditulis Soegondo pada Ke Arah Kongres Pemuda II tahun 1973. Teks itu diberikannya tatkala Mr. Soenario sedang berpidato menjelang akhir acara. Setelah dibaca sekilas, Soegondo langsung memaraf di bawah tulisan Batavia, 28 Oktober 1928.

Harapan Tanah Air Indonesia, Bangsa Indonesia, dan Bahasa Indonesia akhirnya resmi lahir. Ikatan kolektif Sumpah Pemuda itu dikenang antargenerasi sebagai tonggak perdana kebangkitan bangsa. Terhitung sejak 1928, bahasa Indonesia kini telah berusia 88 tahun. Ia bahasa persatuan dan simbol identitas baru.

Bahasa Indonesia juga menandai babak kemunculan revolusi kebudayaan melalui  kesenian dan kesusastraan. Ide kreatif dalam novel, cerpen, puisi, dan drama masih dibaca dan dipentaskan. Sementara itu, syair berbahasa Indonesia dengan iringan musik juga tetap setia didendangkan hingga hari ini. Itu semua semata-mata dirayakan dengan dan melalui bahasa Indonesia sebagai alat percakapan estetik.

Dua dekade sebelumnya, pada 1908, pemerintah Hindia Belanda membentuk Commissie voor de Indlandsche School Volkslectuur (Komisi Bacaan Rakyat dan Pendidikan Pribumi). Momen itu secara tak langsung mendorong bahasa Melayu. Cikal-bakal bahasa Indonesia mulai berkembang. Di belakang layar, G.A.J. Hazeu, menyusun strategi bersama enam orang anggotanya. Misi mayor mereka tiada lain memilih karangan untuk dipakai sebagai bahan pembelajaran dan bacaan di sekolah.

Sekilas upaya Hazeu dalam peningkatan literasi pribumi tampak mulia. Tak dinyana bila masyarakat pribumi banyak yang melek huruf. Kendati demikian, misi utama komisi itu tak jauh dari kepentingan politis kolonial Belanda: menguasai alam pikiran melalui bacaan. Kalau masyarakat telah dikuasai pikirannya maka retorika Hindia Belanda pun bak kebenaran semesta.

Prediksi Hazeu kurang tepat. Sembilan tahun setelahnya, komisi itu diubah menjadi Balai Pustaka dengan D.A. Ringkes sebagai pimpinan. Intelektual dan pujangga pribumi memanfaatkan itu untuk mengembangkan proses kreatifnya. Semula buku-buku dipenuhi penulis Belanda, namun  setelah tahun 1917, bermunculan penulis muda dari Jawa, Sumatera, Madura, dan daerah-daerah lain yang turut memperkaya karya fiksi maupun pengetahuan umum.

Pada 1920 novel Azab dan Sengsara karya Marah Rusli mendapat tempat di dunia pendidikan. Ia didedah dan diteladani sebagai novel modern perdana dalam bahasa Indonesia. Setelahnya, muncul nama-nama penulis masyhur seperti Abdul Muis, Sutan Takdir Alisjahbana, Pramoedya Ananta Toer, Nur Sutan Iskandar, dan lain sebagainya.

***

Gayung bersambut perkembangan bahasa Indonesia setelah Sumpah Pemuda diselenggarakan pada 25-28 Juni 1938. Bertempat di Solo, Jawa Tengah, kongres pertama itu dicetuskan wartawan Soeara Oemoem Soerabaja, R.M. Soedardjo Tjokrosisworo. “Kala itu Soedardjo rajin menciptakan istilah-istilah baru dalam bahasa Indonesia, karena dia tidak puas dengan pemakaian bahasa dalam surat-surat kabar buatan orang Tionghoa,” tulis Ariefyanto, dilansir dari republika.co.id.

Diketuai Poerbatjaraka, abdi dalem kesayangan Pakubuwana X, 500 orang hadir pada acara besar itu. H.B. Perdi, K.I. Hajar Dewantara, Sanoesi Pane, Amir Syarifudin, dan M. Yamin juga tak absen sebagai perwakilan intelektual sekaligus aktivis politik pejuang kemerdekaan. Pada malam pembukaannya, pembesar dari keresidenan pelbagai daerah juga hadir. “Bahkan, Pers Tionghoa, Java Institute, Sultan Yogyakarta, Mangkunegara, Sunan Solo, maupun Paku Alam juga ada di sana,” tulis M. Irwan, wartawan Republika.

Tak ada perubahan signifikan pada kongres perdana itu, kecuali kesepakatan supaya ejaan bahasa Indonesia diharapkan lebih banyak diinternasionalkan. Tentu yang dimaksudkan ialah Ejaan Van Ophuijsen. Ejaan bahasa Melayu berhuruf Latin itu ditetapkan pada 1901 dengan bantuan M. Taib Soetan Ibrahim dan Engku Nawawi.

Perubahan ejaan baru terjadi sembilan tahun setelahnya. Pada 1947, dua tahun setelah proklamasi, Mendikbud Soewandi menetapkan Ejaan Republik. Perubahan itu ditandai dengan ditekennya surat keputusan tanggal 19 Maret 1947 No. 264/Bhg. Menurut penggawa pendidikan lulusan Rechtschoogeschool te Batavia itu perubahan ejaan di masa kepemimpinannya disambut baik masyarakat.

Ejaan Republik mengganti huruf oe menjadi u, seperti bangoen menjadi bangun. Sedangkan secara fonologis, bunyi glotal (hamzah) yang sebelumnya ditulis apostrof (‘) diganti dengan (k), sebagaimana penulisan rakyat, maklum, pak, dan tak. Penulisan kata ulang juga boleh ditulis dengan angka 2: ber-main2, putar2, maupun ke-barat2-an. Selain itu, awalan (di-) dan kata depan (di-) dianggap sama sehingga boleh ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Seperti kata depan dirumah, disekolah, diladang yang tak dibedakan dengan imbuhan (di-) pada dikasih, dimakan, atau dijual.

Nasib bahasa Indonesia kian meroket. Sedangkan di Malaysia, bahasa Melayu makin terdesak bahasa Mandarin dan Hindi. Karena itu, relasi bilateral antara Republik Indonesia dan Persekutuan Tanah Melayu membuka angin baru pada 1959. Keduanya sepakat menyamakan ejaan bahasa Indonesia dan Melayu. Melalui sidang di penghujung tahun, Slamet Muljana dan Syed Nasir bin Ismail mengenalkan Ejaan Melindo. Namun, ia tak bertahan lama karena perkembangan politik kedua negara kala itu sedang tak kondusif.

Penjaga gawang bahasa Indonesia pun berubah tiga kali. Pertama, ia dikenal sebagai Lembaga Bahasa dan Kesusastraan. Kedua, pada 1968, berubah menjadi Lembaga Bahasa Nasional. Ketiga, berubah bernama Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa di tahun 1975. Perubahan itu diiringi rancangan perubahan ejaan di masa Orde Baru.

Pada momen Seminar Bahasa Indonesia yang diselenggarakan di Puncak Bogor pada 1972, Ida Bagus Mantra dan Lukman Ali ditetapkan sebagai panitia. Seminar itu sebagai pijakan baru perubahan Ejaan yang Disempurnakan (EYD) berdasarkan Keputusan Presiden No. 57 di tahun yang sama. Produk kebijakan tersebut ialah buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan.

Ejaan ini bertahan cukup lama, bahkan sampai Soeharto turun jabatan pada 1998. Perubahan yang kentara pascapemberlakuan ejaan itu antara lain penggunaan tj, dj, j, nj,sj, ch menjadi c, j, y, ny, sy, kh. Setelahnya tak ada lagi kata tjinta, djangkar, sajang, njaman, sjahdan, achlak untuk menyebut cinta, jangkar, sayang, nyaman, syahdan, akhlak. Sementara kata depan (di-) yang berfungsi menandai tempat ditulis terpisah: di rumah, di sawah, di sebelah, di Sleman. Demikian pula sebaliknya, jika (di-) sebagai awalan, maka disambung dan difungsikan untuk membentuk kata kerja pasif: dibuat, disuap, disambung, dibeli, ditampar.

Selama 43 tahun EYD diperkenalkan melalui pelajaran Bahasa Indonesia di semua jenjang sekolah. Sampai pada Kabinet Kerja di bawah komando Jokowi, Anies Baswedan, Mendikbud, menetapkan Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) sebagai pengganti EYD. Pada EBI, huruf vokal diftong ei seperti kata survei dan geiser ditambahkan untuk melengkapi ai, au, oi yang telah ada di EYD. Penggunaan huruf kapital dan huruf tebal juga menjadi pembeda EBI.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here