Home LAPORAN UTAMA Teknik Elektro: “Fantastic Four” Pengendali Revolusi Industri 4.0

Teknik Elektro: “Fantastic Four” Pengendali Revolusi Industri 4.0

15 views
0

Jurusan Pendidikan Teknik Elektro telah memiliki tiga program studi. S1 Teknik Elektro sebagai prodi baru, menjadikan jurusan ini laksana Fantastic Four yang siap membantu negeri mengendalikan Revolusi Industri 4.0.

Kendali (control) menjadi satu dari sekian sistem yang dipelajari dalam Teknik Elektro. Penerapannya bisa serumit bagaimana membuat tombol kecil di koper Nuclear Football Presiden Trump dapat meluncurkan hulu ledak nuklir yang ada di Turki ketika ia sedang bermain golf di tepi pantai.

 

Namun, Totok Heru M.Pd, selaku Ketua Jurusan Pendidikan Teknik Elektro, ingin menggambarkan bahwa yang dimaksud “kendali” sebenarnya sesederhana menempatkan hubungan masukan dan keluaran. Sesuai apa yang kita kehendaki, serta memberikan intervensi input dan perbaikan hubungan sistem apabila ada ketidaksesuaian.

 

Itulah mengapa, pengendalian bisa terjadi tak hanya di dalam laboratorium. Ia bisa hadir ketika Alexander Fleming menyajikan antibiotik kepada putranya agar bakteri tidak tumbuh. Serta ketika ia mendidik anaknya nilai-nilai karakter agar mereka tak hanya sehat, tapi juga cerdas.

 

Dan ketika Jurusan Pendidikan Teknik Elektro mendirikan S1 Teknik Elektro, UNY disebutnya ingin membawakan kembali semangat pengendalian itu. Karena jika anak-anak negeri ini paham Internet of Things (IoT) dan caranya menghadirkan inovasi berbasis digital, maka revolusi industri 4.0 ini bisa dijadikan sistem yang menguntungkan Indonesia.

 

Sehingga anak-anak Indonesia nantinya tidak hanya akan sehat dan cerdas. Tapi bisa berkontribusi sesuai dengan apa yang dikehendaki para pendiri bangsa: memajukan kesejahteraan umum, lewat pemanfaatan teknologi.

 

“Semangat mengendalikan itu harus dibawa dalam era revolusi Industri 4.0. Kita (empat Prodi) juga selalu bawa dan akan menjadi Fantastic Four yang SDM handalnya (dapat membantu negara) mengendalikan sistem yang sudah seharusnya kita kendalikan ini. Untuk kemajuan Indonesia,” ungkap Totok yakin.

 

Memenangkan Persaingan

 

Secara desain kurikulum, sistem kendali (control/arus lemah) sebagai salah satu konsentrasi ilmu ketenagalistrikan yang diajarkan S1 Teknik Elektro akan ditemani oleh sistem kelistrikan (power/ketenagaan) dan sistem komputer (computerized). Ketiganya berfokus untuk memberikan peserta didik penguasaan atas otomasi industri, kecerdasan buatan, IoT, sistem dan tatap muka mobile, hingga bekal kewirausahaan berbasis Technopreneur.

 

Pembelajaran tersebut dilakukan dengan proses perkuliahan berbasis High Order Thinking Skill (HOTS) dan Blended-Learning. Juga mengkombinasikan pengalaman di dalam kelas bersama ikatan, baik yang telah dimiliki jurusan ini dengan empat asosiasi kelistrikan (APEI, AKLI, IATKI, PDKB) , beragam industri (PT. SMC, Festo Corporate, Schneider Electric), hingga skeolah kejuruan.

 

Fasilitas perkuliahan baik ruang kelas atau peralatan elektronik juga telah tersedia cukup di Fakultas Teknik. Lengkap dengan harapan untuk pengembangan lebih lanjut, seiring kesempatan kunjungan Menristekdikti bersama Rektor ke Fakultas Teknik pada saat peresmian Gedung IsDB yang diikuti dengan inventarisasi alat-alat dan perangkat pembelajaran.

 

Dari situ, keluaran yang diharapkan adalah anak-anak tidak hanya dengan teori semata tentang apa itu kelistrikan, tapi juga mampu mempraktikkan, bahkan mengembangkan keilmuan Teknik Elektro dalam tataran yang lebih luas. Termasuk, membawa semangat mengendalikan yang dijabarkan Totok dalam apapun bidang karir maupun perjalanan hidup yang akan dilalui para lulusan UNY nantinya.

 

“Jadi yang dipelajari di Prodi Teknik Elektro nantinya menggunakan proses pembelajaran High Order Thinking Skill (HOTS), mengupayakan kemandirian, dan berwirausaha. Ini penting untuk melawan stereotipe orang, kalau belajar Teknik Elektro itu memperbaiki remot TV rusak gitu,” imbuh Dr. Haryanto selaku Kaprodi S1 Teknik Elektro.

 

Walaupun seluruh konsentrasi dan sistem pembelajaran tersebut juga hadir dalam prodi S1 Kependidikan, dan sebagian diantaranya juga tersedia di S1 Pendidikan Teknik Mekatronika ataupun D3 Teknik Elektro, S1 Teknik Elektro tetap dibutuhkan kehadirannya untuk kebutuhan fokus orientasi.

 

Prodi ini nantinya diproyeksikan mempelajari dan menerapkan segala ilmu tersebut, ke dunia usaha dan industri. Bagaimana mengajarkan teknik yang dipraktikkan, dibutuhkan di dunia industri. Sehingga kehadirannya bisa makin memperkuat Jurusan Pendidikan Teknik Elektro dalam membawakan para lulusannya semangat untuk mengendalikan Revolusi Industri 4.0 demi kemajuan Indonesia.

 

“Termasuk lewat publikasi riset-riset, SDM (dosen dan civitas) makin luas secara keilmuan, (maka penelitian) makin maju. Kita (empat prodi) akan menjadi Fantastic Four. Saling memperkuat,” ujar Totok.

 

Prodi Populer

 

Ide untuk memperkuat jurusan ini lewat menghadirkan S1 Teknik Elektro, juga hadir karena prodi tersebut relatif populer di Indonesia. Walau tak memiliki data pasti, Totok menyebutkan bahwa jumlah masif prodi ini di kampus-kampus Indonesia tak bisa dinafikan.

 

“Itulah yang menjadi tujuan kami: Memperkuat eksistensi prodi atau jurusan elektro yang sudah dikenal. Agar berjalan bareng dan menguatkan prodi kependidikan yang sudah ada,” ungkap Haryanto.

 

Oleh karenanya pada April 2018, jurusan mengusulkan pembukaan program studi ini ke kampus dan ke Kemristekdikti untuk proses perizinan. Berselang satu bulan, Teknik Elektro langsung dinyatakan diterima. Lebih cepat satu bulan dari jadwal pengumuman dan pemberian izin di prodi lainnya.

 

“Lebih cepat diterima dulu karena kita serius,” ujar Haryanto.

 

Pengembangan prodi kemudian dilakukan dengan menyusun tim. Pada tahun 2018, 12 dosen telah terdaftar di prodi ini dan nantinya akan berkontribusi di ruang-ruang kelas ketika tahun ajaran 2019/2020 resmi dimulai.

 

Oleh karenanya sejak akhir Desember, publikasi telah dimulai S1 Teknik Elektro lewat membuat leaflet dan jejak digital. Termasuk menyebarkan bahwa prodi ini akan tersedia di laman pendaftaran SNMPTN. Dari 12 kursi yang tersedia, ada 183 peserta seleksi yang menyatakan minatnya di prodi ini.

 

“Animonya sudah ada, dan masyarakat sudah paham (tentang Teknik Elektro),” ungkap Haryanto.

 

Walaupun telah beres secara publikasi dan desain kurikulum, prodi ini direncanakan Haryanto tak berhenti berinovasi. Penelitian akan terus didorong sembari melakukan penataan dokumen legal. Dengan harapan pada saat proses akreditasi dilakukan, Teknik Elektro akan langsung mampu mengikuti prosesnya dan menyabet hasil baik.

 

“Kami optimis akreditasi B. Sehingga prodi ini akan memperkuat eksistensi Jurusan Elektro UNY yang selama ini telah dikenal baik,” pungkas Haryanto.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here