SIAP JEMPUT BOLA SAMPAI KE UJUNG DUNIA!

 

Seleksi Mahasiswa UNY, diibaratkan Sukirjo terlaksana dengan mewarisi etos Werkudara, dan sejalan laksana Semar. Epos pewayang Werkudara dalam serat Dewa Ruci yang teguh atas nilai-nilai yang ia percaya, termanifestasi dalam komitmen UNY untuk mencari bibit-bibit yang siap dan tulus hati untuk menuntut ilmu, guna berproses menjadi cendekia sejati. Namun, tak selalu UNY hanya mencari dan menyaring saja. Ia, harus siap turun ke masyarakat laksana Semar. Selalu siap melayani insan-insan cerdas dari penjuru Indonesia tanpa terkecuali, dan siap jemput bola guna mendidik talenta-talenta tersembunyi di penjuru negeri.

 

Kepada Redaktur Pewara Dinamika, ILHAM DARY ATHALLAH, Sukirjo kemudian mengisahkan seputar bagaimana “Budaya Kompetisi,” dan “Budaya Prestasi,” terlaksana di UNY semenjak proses seleksi dilakukan. Serta bagaimana jejaring dan repurtasi UNY di beberapa bidang ilmu, mampu menemukan dan menggaet calon mahasiswa baru terbaik dari pelosok Nusantara, dengan mekanisme “talent scouting”

 

Bagaimana “Budaya Kompetisi” dan “Budaya Prestasi” diterapkan dalam proses seleksi mahasiswa UNY?

 

UNY sudah lama dan senantiasa berkomitmen dalam menerapkan “Budaya Kompetisi,” dan “Budaya Prestasi,” untuk mewujudkan mahasiswa-mahasiswa unggulan. Termasuk, sejak dalam proses seleksi. Ada tiga dimensi yang kemudian bisa jadi acuan dalam menilik budaya tersebut. Yang pertama, adalah seleksi kompetensi. Yang kedua, adalah keadilan dan keterbukaan seleksi. Dan yang ketiga, adalah talent scouting/pencarian bakat.

 

Bagaimana seleksi kompetensi kemudian diupayakan untuk memperoleh calon mahasiswa terbaik?

 

Seleksi kompetensi menekankan bahwa mereka yang masuk ke UNY, adalah mereka yang mendaftar lewat jalur-jalur yang telah tersedia dan dibuat berdasarkan pemeringkatan yang berbasis pada pencapaian terbaik sesuai dengan persyaratan masing-masing seleksi. Intinya, yang diterima adalah calon mahasiswa yang dapat dipastikan kompeten.

 

Mahasiswa yang diterima melalui jalur SNMPTN misalnya. Yang kuotanya sesuai dengan kuota Kemristekdikti (40%), kita alokasikan untuk mereka yang memiliki pencapaian akademik dan portofolio yang terbaik di bidangnya. Semua data tersebut kita dapatkan dari panitia pusat, untuk kemudian dianalisa oleh masing-masing prodi berkoordinasi dengan jajaran tiga dan panitia pusat dalam penetapannya melalui mekanisme analisa komputasi dan pemeringkatan yang jelas dan terukur secara metodologis. Nilai-nilai tersebut juga akan menjadi data yang diolah untuk mendukung pembuatan keputusan kami di UNY dalam menerima mahasiswa yang terbaik.

 

Di SBMPTN maupun beberapa jalur Seleksi Mandiri, seleksi pencarian bibit-bibit terbaik juga kami lakukan dengan mekanisme pengolahan data yang demikian. Sesuai dengan data apa yang dipertimbangkan dari masing-masing jalur, misal SBMPTN ya berarti hasil tes tulis, dan kriteria mahasiswa dengan kompetensi apa yang sedang dicari prodi.

 

Dan semua proses seleksi kompetensi tersebut, kami lakukan dengan menekankan dimensi yang kedua. Yaitu, keadilan dan keterbukaan dalam setiap proses seleksi. Semua yang masuk UNY diseleksi berdasarkan kriteria yang jelas, dan dengan mekanisme yang fair tanpa proses titip-titipan. Calon mahasiswa dari golongan tidak mampu juga senantiasa kita fasilitasi. Kan sudah ada, mekanisme beasiswa bidikmisi yang mewajibkan kita untuk mengalokasikan 20% kuota setiap tahunnya khusus untuk mereka yang tidak mampu.

 

Itulah mengapa kita berani menunjukkan dan berkomitmen, bahwa seleksi mahasiswa UNY didasarkan pada kriteria yang jelas dan mampu dipertanggungjawabkan, serta berlangsung bersih tanpa ada modus titip menitip maupun politik uang. Saya berani jamin itu!

 

Lalu untuk Talent Scounting/Pencarian Bakat?

 

UNY dengan jejaring, kemitraan, dan repurtasinya, berkomitmen untuk senantiasa hadir bagi talenta-talenta terbaik yang ada di negeri ini. Talent scouting atau biasa kita sebut sebagai proses pencarian bakat, kemudian jadi mediumnya. Dan harus kita akui, sejauh ini bidang olahraga biasanya paling getol melakukan hal itu karena fasilitas sarana prasarana maupun dosen UNY di bidang olahraga sendiri, juga sudah bertaraf internasional.

 

Pendekatan yang biasanya berada dalam koordinasi jajaran tiga (Wakil Rektor III Kemahasiswaan) tersebut, paling intens berlangsung dengan cara persuasi dari hati ke hati. Dosen kita banyak yang berkiprah di bidang olahraga. Kadang mereka sudah kenal baik, kita bisa tawari mereka untuk masuk ke UNY lewat jalur-jalur yang ada. Karena biasanya yang ditawari adalah mereka yang benar-benar berbakat, selalu mereka yang mendaftar sebagai hasil dari talent scouting itu bisa dipastikan diterima di UNY.

 

Walaupun, mekanisme talent scouting dengan cara persuasif itu, tidak menegasikan cara-cara yang lain. Misal, kita punya sekolah binaan, SMK dan SMA yang ada di penjuru negeri. Karena kita mengirimkan dosen maupun mahasiswa ke sekolah itu untuk jadi pengajar, kita kadang tahu siapa yang kelihatannya punya bakat terpendam. Diajaklah masuk UNY. Termasuk juga jika ada SMA atau SMK yang berkunjung di UNY, maupun jika kita promosi kesana. Kita kenalkan keunggulan yang dimiliki UNY sekaligus mencari-cari informasi atas bakat unggulan yang mungkin dimiliki oleh beberapa siswa.

 

Begitu pula dengan keberadaan kemitraan UNY dengan Pemerintah Daerah di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar). Misalnya kita tergabung dan turut menyukseskan program Kemristekdikti yang bertajuk ADIK, Afirmasi Pendidikan Tinggi Papua. Kita cari putra-putri Papua terbaik untuk kita didik, supaya nanti bisa menyebarkan lagi ilmu yang mereka dapat di UNY sebagai kampus kependidikan ini, ke masyarakat Papua.

 

Bagaimana kemudian cara meyakinkan calon mahasiswa pada jalur talent scouting?

 

Dalam pendekatan-pendekatan itu, yang kita tawarkan seringkali bukan hanya reputasi maupun prospek masa depan UNY yang tetap menjanjikan untuk mengejar karir di bidang keolahragaan misalnya, seiring dengan strategi manajemen dan pembinaan kita yang mumpuni. Karena kalau sekadar menawarkan seperti itu, banyak juga kampus lain yang menawarkan. Apalagi kalau anak itu prestasinya sudah tinggi, biasanya dapat tawaran bukan hanya dari UNY.

 

Yang menjadi kunci dari setiap penawaran kita dalam talent scouting, umumnya adalah idealisme. Menunjukkan alumni-alumni kita yang sudah sukses. Menampilkan suasana UNY dan Yogyakarta sebagai kampus kecendekiaan berbasis karakter di Yogya yang sudah termasyhur sebagai kota pelajar. Termasuk, meyakinkan mereka yang semisal asli Yogya dan sekitarnya untuk tidak perlu kuliah jauh-jauh. Ngapain istilahnya cari semut di seberang laut, kalau ada di pelupuk mata, gajah yang seindah UNY ini?

 

Ada insentif untuk mereka yang ditarik dalam mekanisme talent scouting?

 

Untuk jalur masuk sama saja. Mereka harus masuk lewat SNMPTN maupun jalur lainnya. Tapi untuk biaya, kita di UNY berkomitmen bahwa mereka yang masuk di jalur talent scouting ini kita carikanlah beasiswa. Bisa lewat kerjasama institusi, maupun beasiswa prestasi dari banyak pihak. Toh biasanya mereka yang terpindai talent scouting ini biasanya sudah berprestasi gemilang. Sehingga mudah secara administrasi untuk mendapatkan beasiswa.

 

Misalnya, kerjasama UNY dengan PSSI. Menggratiskan Timnas U-19 untuk mengenyam pendidikan di FIK UNY. Bahkan untuk U-19, kita buatkan kelas khusus dan pengintensifan mekanisme e-learning dengan mata kuliah dan modul yang sudah disiapkan dosen. Mata kuliahnya pun bisa on/off, disesuaikan dengan jadwal pertandingan.

 

Sehingga kita bisa memastikan bahwa ketika UNY menawarkan talent scouting, pertimbangan memilih kuliah atau karier itu tidak ada. Yang ada justru semangat bahwa dengan kuliah dan ilmu yang mereka peroleh di UNY, bisa melengkapi dan menunjang karirnya kelak!

Wawancara Khusus

Profil: Sukirjo, M.Pd.

Bantul, 5 Juli 1967

Pendidikan: S1 (jurusan apa) IKIP Yogyakarta, 1990

S2 (jurusan apa) UNY, 2005

 

Karier:

Kasubag Dana Masyarakat UNY (1999-2008), Kabag Keuangan (2008-2013), Kabiro Akademik, Kemahasiswaan, dan Informasi (2013-Sekarang)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here