Home SOSOK SOSOK: Oby Zamisyak, HOBI BERUJUNG HOKI

SOSOK: Oby Zamisyak, HOBI BERUJUNG HOKI

71 views
0

Mahasiswa berprestasi FT mengembangkan robot edukasi. Usahanya terus
melejit seiring permintaan pasar. Targetnya sekolah dan komunitas luas

Februari, 2015. Masih hangat awal tahun, fakultas jawara, FT, UNY, dirubung cendekia perwakilan tiap universitas di Indonesia. Di antara bejibun orang itu, Oby Zamisyak, terdaftar sebagai peserta Technopreneur Academy. Usianya masih muda. Mahasiswa Pendidikan Teknik Elektronika angkatan 2013 ini baru semester tiga. Dia bermodal antusias dan hobi. Bersama tim yang terdiri atas enam orang lintas fakultas mereka optimis.

Yang muda, yang giat. Begitu ungkapan denotatif yang cocok melekat pada Oby dan tim.
Kompetisi awal 2015 ternyata memboyong mereka ke tahap serius. Teknologi tepat guna yang dibawa manakala Technopreneur Academy membuahkan hoki. Bedanya dikembangkan ke konsep robotik. Lahirlah Indobot. Sebuah terobosan robot edukasi masa depan. robot akan menjadi bagian penting di hari depan.

“Pada tahun yang sama kami mengajukan PKM-K. Lolos. Dari situ Indobot mulai dikembangkan,” kata Oby. Proposal itu akhirnya diteken Dikti. Dia mendapat bantuan finansial. Oby dan tim girang karena mendapatkan modal perdana dari sana. Bertempat
di Jalan Flamboyan, Gang Nusa Indah, Karangasem Baru, Indobot dikembangkan dan diproduksi. Indobot diikhtiarkan Oby dan kolega guna mengisi kekosongan. Dia melihat publik, terutama di bangku pendidikan menengah, absen kegiatan robotik. Padahal dunia sedang dihebohkan narasi Revolusi Industri 4.0. “Saya kira robot akan menjadi bagian penting di hari depan. Apalagi di sekolahsekolah,” tuturnya.

Ekstrakurikuler robotika menjadi sasaran. Oby meneroka peluang ini sebagai sasaran pasar Indobot. Menurutnya, kini lagi tren kompetisi robot. Baik lokal maupun nasional niscaya membutuhkan persiapan matang. Di bawah komando Oby, Indobot, diarahkan untuk tak sekadar mengeruk duit, tapi juga sarana edukasi.

Kunci utama bisnis robot multifungsi, bagi Oby, terletak pada komitmen dan kesolidan. Tim yang semula enam orang kini tinggal dua. “Kebanyakan teman-teman sudah lulus kuliah. Kecuali saya. Tahun ini mulai berjuang skripsi lagi,” paparnya sambil terkekeh. Seleksi alam boleh terjadi, namun Indobot kian meroket.

Sekarang Indobot punya toko sendiri. Plaza UNY, lantai dua, nomor 2.18. Banyak pengunjung hilir bertandang untuk sekadar konsultasi atau melihat robot di etalase. Kebanyakan mahasiswa dan pelajar SMA. Pencapaian itu disyukuri Oby. Tanpa program Inkubartor yang ditawarkan LPPM dan Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi, Kemenristekdikti, dia meyakini tak akan sampai ke tahap ini. Sponsor utama Indobot dari sana.

“Disepelekan itu hal biasa,” kenang Oby, “dulu awal-awal kami begitu.” Ingatan itu masih terpatri jelas di memorinya. Jamak kerabatnya sejurusan meremehkan tangan kreatif Oby dan tim.

Teman-temannya menganggap biasa karena robot, betapapun bentuknya, lazim dikembangkan di kalangan mahasiswa teknik elektro. “Tapi mereka belum menyadari kalau hal ini dibutuhkan di masyarakat sebagai sarana pendidikan. Buktinya di pasaran tetap laku.”
***

Fitur itu penting. Tapi penyajian tak kalah esensial. Oby meneropong, selera masyarakat
lebih ditentukan pada aspek eksternal. “Itu kenapa kami membikin variasi bentuk seperti Tamiya, Robokid 3, Arduino Uno R3, dan lain sebagainya,” ujar Oby. Sentuhan warna yang variatif juga sangat menarik pelanggan. Selain canggih, Indobot juga dipercantik oleh dimensi seni. Cara kerja Indobot cukup sederhana. Dia dikategorikan ke dalam tiga hal. Robot manual semi otomatis, dan otomatis. Robot manual itu seperti robot sepak bola, transporter, dan pemadam api. Sedangkan robot manual, ungkap Oby, dilengkapi

dengan sistem kendali. “Bagi anak ini sangat penting,” katanya. Yang sering dibeli mahasiswa adalah robot semi otomatis dan otomatis. Bedanya kalau robot otomatis memakai line follower, sedangkan semi otomatis menggunakan light follower.

“Soal robot untuk anak kami ada perubahan. Kalau dulu robot untuk anak diperuntukkan bagi usia 10 tahun ke atas tapi sekarang jadi 15 tahun ke atas,” jelasnya. Batasan usia ini penting bagi kesesuaian teknologi dan perkembangan psikologi anak. Bila tak disamakan, menurut Oby, akan menggoyahkan tatanan pendidikan dasar.

Bentuk edukasi Indobot disusun sistematis. “Anak-anak bisa diajarkan dari perakitan hingga pemrograman,” ucapnya. Kalau siswa sudah mahir Oby dan kolega siap membimbing sampai tahap kompetisi. Pola didikan ini membuat Indobot kini dikenal luas di Indonesia. “Kami ingin berkontribusi bagi siapa pun. Teman-teman mahasiswa juga bisa bergabung di Pasukan Indobot,” tutup Oby

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here