Sosial Media untuk Kembangkan Pendidikan Tinggi

 

Di hadapan taruna dan taruni Akademi Militer pada Senin (24/06), aktivitas bersosial media saya “dikuliti”. Kebetulan waktu itu saya didapuk sebagai narasumber pertama dalam seminar bertajuk “Dampak Media Sosial dari Perspektif Pendidikan dan Sosial Budaya“. Akmil rupanya ingin tahu bagaimana aktivitas saya itu dapat diamati, ditiru, dan dimodifikasi untuk pengembangan akademi sekaligus kompetensi para prajurit yang sedang mereka bina.

 

Kepada mereka saya nyatakan, bahwa tren penggunaan internet yang kian masif di hari ini menuntut semua orang untuk tidak bisa mengatakan tidak kepada media sosial. Sebagai salah satu medium, media sosial menghubungkan seluruh penggunanya tanpa sekat dan batas. Apa saja yang kita bagikan dapat didengar, ditanggapi, atau disebarluaskan oleh pengguna lainnya. Begitupula komunikasi dan produksi konten yang dibuat oleh pihak lain, juga dapat kita dengar.

 

Ketiadaan batas tersebut membuat media sosial menjadi “the new gold rush” dalam mengembangkan pendidikan tinggi, dan oleh karenanya perlu segera dimanfaatkan. Profil perguruan tinggi akan meningkat apabila dikenal oleh masyarakat yang lebih luas. Dan saat ini, orang sudah begitu terikat dengan media sosial.

 

Mulai dari mengisi waktu luang, menemukan konten lucu dan menghibur, untuk tetap terhubung dengan teman, hingga update informasi event terbaru dan berbagi foto atau video, semua dilakukan masyarakat melalui media sosial. Youtube, Facebook, Instagram, dan Whatsapp, secara konsisten menjadi media sosial yang paling sering diakses masyarakat. Juga menjadi top of mind(yang pertama diingat) karena tingginya interaksi yang dilakukan masyarakat melalui media tersebut.

 

Pendidikan tinggi, kemudian juga tidak bisa menghindar dari tren ini. Media dapat digunakan sebagai sarana diplomasi, branding, hingga komunikasi internal. Caranya? Berhenti fokus pada internal brand message yang mengontrol pembaca dengan bentuk broadcast messaging, dan tingkatkan komunikasi dua arah.

 

Sesekali selipkan pula akses yang menghibur, informatif, dan bahasa yang gaul dan membumi. Karena itulah yang para netizencari ketika berselancar media sosial.

 

Hal tersebutlah yang selama ini saya lakukan di media sosial, dan saya kehendaki untuk dilakukan segenap komponen universitas. Aktif di sosial media, sediakan layanan berbasis digital, dan hadir di tengah-tengah riuh jagat maya untuk mendengar dan berinteraksi.

 

Persaingan kita sudah tidak lagi berkutat hanya dalam kompetisi memproduksi dan menginternalisasikan pengetahuan dalam lingkungan yang ekslusif. Era digital menuntut bahwa ilmu tidak hanya berhenti pada tumpukan buku di kelas, dan diskusi yang tidak boleh dibatasi ruang. Apalagi eksklusif hanya untuk kelompok tertentu.

 

Peluang dan Tantangan

 

Memang, menyenangkan semua orang adalah suatu hal yang mustahil. Premis ini dibawakan Confucius, dan telah ratusan tahun menjadi pepatah bijak yang dikenal banyak orang. Saya kira premis ini masih relevan hingga hari ini. Termasuk dalam merefleksikan aktivitas saya dan UNY dalam bermedia sosial.

 

Kelompok tertentu, baik mahasiswa maupun masyarakat umum, masih ada yang salah mengartikan media sosial dalam beberapa dimensi. Dari segi etis, komunikasi tanpa sekat ruang dianggap sebagai komunikasi tanpa sekat etika. Statemen yang kurang bijak dengan mudahnya dilontarkan di media sosial tanpa menghargai lawan bicara.

 

Padahal yang mereka ajak untuk interaksi, dan sudah berkomitmen untuk terlibat aktif dalam interaksi tersebut, adalah sosok yang lebih sepuh. Yang secara etis dan adat ketimuran wajib untuk dihormati. Apalagi misalnya, ketika kita dalam posisi yang membutuhkan. Semisal saat menghubungi dosen via Whatsappuntuk bimbingan skripsi.

 

Kelompok tertentu lainnya, menganggap branding dan interaksi yang dilakukan melalui sosial media sebagai suatu hal yang nirmanfaat. Hanya mengejar viral dan popularitas, demikian ujar kelompok tersebut.

 

Anggapan tersebut menurut saya kurang tepat, karena keterbukaan informasi telah menjadi amanat undang-undang. Lagipula, ilmu yang kita miliki sebagai segenap civitas akademika juga perlu disampaikan kepada masyarakat luas. Karena disitulah ruh tridharma pendidikan tinggi berada: menghadirkan pengabdian kepada masyarakat.

 

Kehadiran dan interaksi di media sosial, apabila kita manfaatkan dengan bijak, justru menjadi salah satu wujud pengabdian yang sangat bernilai. Migunani tumraping liyanlewat urun rembugdi media sosial.

 

Dengan segala tantangannya, social mediawill be here to stay. Oleh karenanya interaksi kita di dalam sosial media, harus menjadi proses belajar agar etika berkomunikasi kedepannya dapat dijalankan secara bijak. Juga saling hormat dan memanfaatkannya sebagai media menyebarkan informasi, pengetahuan, dan keunggulan kampus UNY kita tercinta yang memiliki asa sebagai Universitas Kependidikan Kelas Dunia (UKKD).

 

And as social media will stay for good, so will i! Mari saling berinteraksi melalui akun personal saya @sutrisna_wibawa, ataupun kepada akun resmi universitas @unyofficial. Semoga menjadi berkah dan ladang kita dalam bersilaturahim.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here