Home LAPORAN UTAMA Sarinah, Elizabeth, dan Para Perempuan Lainnya

Sarinah, Elizabeth, dan Para Perempuan Lainnya

54
0

PADA penghujung tahun 1947, tepatnya 3 November, Soekarno selesai menulis Kata Pendahuluan di Istana Kepresidenan Republik Indonesia (R.I.) di Yogyakarta.

Pengantar itu hendak dimasukan ke halaman mukadimah buah penanya. Buku itu ia persiapkan sebagai refleksi tertulis ekpresi batinnya selama revolusi fisik. Tanpa pikir panjang, Soekarno membubuhkan judul Sarinah: Kewajiban Wanita dalam Perjuangan Republik Indonesia. Terbit pertama tahun 1947 melalui Usaha Penerbitan Guntur, Yogyakarta.

Soekarno sengaja memilih nama Sarinah untuk kepala karangannya. Ia mengakui bahwa sosok perempuan di balik nama itu melekat dalam dirinya. “Saya namakan kitab ini ‘Sarinah’ sebagai tanda terima kasih saya kepada pengasuh saya ketika saya masih kanak-kanak,” tulisnya. Sewaktu balita, Sarinah membantu Ida Ayu Nyoman Rai, ibu Soekarno, merawat Kusno—panggilan Soekarno saat kecil. Ia memanggilnya mBok kepadanya.

Presiden pertama R.I. itu lazim dikenal pencinta perempuan. Bila kaum hawa mendekat, ia acap kali angkat topi menunjukan tanda hormat. Karakternya itu bukan tanpa sebab. Di balik sikap luhur itu, sedikit atau banyak, Soekarno dipengaruhi Sarinah. Ia mengakui bahwa dari Sarinah, Soekarno belajar mencintai orang kecil. Tak heran bila semasa menjabat sebagai orang nomor satu di R.I. kebijakan Soekarno selalu memihak pada rakyat kecil. “Dia sendiri pun ‘orang kecil’. Tetapi budinya selalu besar,” tulisnya.

Hati Soekarno selalu tergerak untuk meningkatkan martabat perempuan. Pada masa-masa itu, saat Indonesia masih berumur jagung, perempuan masih diposisikan sebagai “teman belakang”: hanya mengurusi persoalan dapur dan kamar. Kondisi demikian mencabik-cabik hati Soekarno. Sesudah pusat pemerintahan berpindah dari Jakarta ke Yogyakarta, ia tergerak mengadakan kursus bagi perempuan dua pekan sekali.

Presiden pertama R.I. itu hendak meneguhkan peran strategis perempuan dalam kancah sosial. “Soal wanita adalah soal masyarakat!” tegasnya. Pilhan itu bukan tanpa konsekuensi. Ia sering mendapat kritikan dari koleganya. Namun, komitmennya terhadap perempuan tak berubah. Pada tahun 1946-1947 ia menyetujui Maria Ulfah Santoso sebagai Menteri Sosial R.I. Kabinet Sjahrir II. Harapan Soekarno terwujud.

Selain posisi politik, pada masa itu Soekarno juga memiliki visi yang melampaui zaman, yakni perempuan terdidik. Ia terinspirasi Kartini (1879-1904), seorang visioner tetapi dikalahkan oleh keadaan. Sebaliknya, Elizabeth Blackwell, dokter perempuan Amerika pertama kelahiran Bristol, Gloucestershire, Inggris, bernasib baik ketimbang Kartini. Bila Kartini hanya berkontemplasi gagasan melalui korespondensi dengan J.H. Abendanon dan kerabatnya di Eropa, Elizabeth mampu lulus dari Geneva Medical College, New York, USA.

Pencapaian akademis itu menuai sinis. Soekarno mencatat kejadian itu. Ia menandai peristiwa tersebut tahun 1849. “Ini sebenarnya adalah satu kejadian yang menggembirakan, tetapi orang-orang laki-laki Amerika yang ‘cinta kemerdekaan’ itu menjadi ribut oleh karena kejadian ini.” Masyarakat Amerika pada masa itu masih menganggap tabu perempuan bertitel. Apalagi perempuan berintelektual. Melihat sosok Elizabeth, pria Amerika pertengahan abad ke-19, seperti kebakaran jenggot. “Mereka menganggap kejadian itu suatu bahaya bagi masyarakat,” tulis Soekarno.

Enid Moberly Bell mencatat perseturuan di New York itu dalam karya klasiknya Stroming the Citadel: The Rise of the Woman Doctor (1953). Banyak universitas dan sekolah tinggi di Amerika menutup pintu bagi para perempuan. Elizabeth di-kambing-hitam-kan oleh kelompok anti kesetaraan. Kendati demikian, ia tak putus asa menghadapi penolakan di pelbagai tempat. Empat tahun setelah konflik itu Elizabeth mendirikan apotek (1853), rumah sakit untuk wanita dan anak-anak pinggiran di New York (1953), serta sekolah medis pada akhir 1860-an. Diberi air tuba, Elizabeth justru membalas dengan air susu untuk negeri Paman Sam.

***

PATMI, petani Kendeng, juga menjadi simbol perjuangan perempuan tahun 2017. Usianya belum genap 50 tahun saat ia ikut protes di Jakarta. Bersama para petani perempuan asal Pegunungan Kendeng, Jawa Tengah, Patmi melakukan aksi mengecor kaki di depan Istana Negara. Namun, pada 21 Maret 2017, ia mengalami serangan jantung dan wafat. Patmi merupakan Sarinah abad ke-21 yang turut menyuarakan keadilan di tengah kemelut politik antara korporasi dan rakyat kecil.

Mulanya para petani Kendeng itu merasa dirugikan tatkala P.T. Semen Indonesia hendak membangun pabrik semen di Sukolilo, Pati Utara. Karena itu, mereka menggelar unjuk rasa untuk menolak eksploitasi alam di dusunnya. Akhirnya, P.T. Semen Indonesia melunak dan mengubah rencana pembangunan di Gunem, Rembang. Tahun 2014 bentrok pun terjadi antara warga dan P.T. Semen Indonesia ketika seremonial peletakan batu pertama.

Hulu persoalannya bukan lagi pembangunan wilayah, melainkan juga dokumen AMDAL yang tak disampaikan transparan. Peneliti lingkungan Yogyakarta, Nadia N. Prilia, berpendapat bahwa pembangunan pabrik itu justru akan berdampak buruk. Ekosistem kehidupan bisa rusak dan tercemar. Terlebih, kebijakan P.T. Semen Indonesia itu melanggar Perda Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), Provinsi Jawa Tengah, No. 6  Pasal 64 Tahun 2010: area di Kabupaten Rembang telah ditetapkan sebagai kawasan lindung imbuhan air dan geologi.

Pantas jika Patmi dan kelompok petani lain melawan. Sebagai bagian dari kaum hawa yang kerap dibungkam opininya, mereka memperjuangkan hak-hak sipil di depan Presiden Jokowi. Kini Patmi telah berpulang. Akan tetapi, semangatnya masih membara dan menjadi sumber inspirasi bagi para perempuan generasi mendatang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here