Menilik Indonesia dari Dimas Diajeng Kota Yogya:

Romandha Edwin & Hergita Syi Vadilla

 

Ragam trofi kompetisi tenis tingkat nasional hingga internasional telah berdesakan di almari pencapaian pribadi Romandha Edwin (20). Begitu pula dengan tari Bali, Betawi, Jawa, dan Aceh, yang telah dikuasai Hergita Syi Vadilla (20), hingga menghantarkannya tampil di berbagai pementasan.

Tapi bagi dua sejoli cendekia UNY ini, perjalanan itu tak pernah sama sekali menjelma menjadi pencarian gegap gempita yang mengiringi prestasi. Namun sebuah petualangan, untuk bertemu banyak orang dan mengenal Indonesia.

Guna memperkaya jejaring perkawanan dan mengenal kearifan negeri, serta menjawab tantangan Indonesia kini dan nanti. Terutama, dalam posisinya kini sebagai Dimas Diajeng Kota Yogyakarta. Karena kemanapun ia betugas, ia bukan hanya membawa nama pribadi. Tapi juga sebagai ikon pariwisata Yogya, yang memancarkan keteladanan atas keistimewaan Yogyakarta.

“Jadi kesibukan kita untuk tugas-tugas sosial, di tempat itulah kita sama sama mengamati Indonesia dan menjawab tantangan kebangsaan. Lewat keteladanan yang kita hendak tularkan, mewujudkan generasi muda yang lebih baik,” ungkap Hergita.

 

Ditempa Kebhinekaan Sejak Belia

Perjalanan memupuk karakter yang dimiliki sang pasangan Dimas Diajeng, telah berlangsung sejak keduanya kecil. Bagi Romandha yang terlahir di Yogya, 8 Februari 1997 dari pasangan Emon Yudo Dwiwarso dan Retno Widaningsih, sikap menghargai kebhinnekaan itu telah dilatih kerja keras, tanggung jawab, persahabatan, dan sportifitas sejak usia delapan tahun. Tepatnya ketika sang ayah memutuskan Romandha untuk berlatih tenis bersama sang ayah.

Saat itu, sang ayah sekedar iseng memaksa Romandha untuk bermain tenis. Sekadar melempar bola-bola tenis ke hadapan Romandha yang telah memasang kuda-kuda, untuk kemudian menghempaskan bola dengan raket yang telah digenggamnya erat-erat. Bagi sang ayah, melihat Romandha bermain tenis adalah hiburan tersendiri. Karena jika ia berhasil memantulkan bola untuk masuk ke daerah seberang, sang ayah akan memberi hadiah pada Romandha berupa elusan kepala maupun cubitan pipi.

Namun, keisengan sang ayah akhirnya membuat Romandha kecil ketagihan atas olahraga tersebut. Hingga membawa Romandha untuk ikut beragam kompetisi, dan bertemu banyak lawan dari penjuru Indonesia dalam tiap pertandingannya. Termasuk, menjadi Juara 1 Ganda Putra pada Turnamen Tenis Lapangan Tingkat Internasional yang kebetulan diadakan di Jawa Tengah semasa ia masih berada di kelas junior. Mengibarkan bendera Indonesia, setelah menumbangkan lawan dari berbagai negara sahabat.

“Jadi dulu itu ya saya main untuk hiburan orang tua lah, Eh malah maniak dan alhamdulillah dapat berbagai kejuaraan. Tapi dari situ saya belajar, bahwa kita mungkin lawan di lapangan, tapi di luar kita tetap sahabat dan saudara sebangsa,” kenang Romandha.

Selain memupuk karakter, prestasi di bidang tenis juga yang memuluskan pendidikan Romandha mulai dari SD hingga perguruan tinggi. Termasuk, diterima sebagai mahasiswa Akuntansi UNY angkatan 2015 melalui jalur Seleksi mandiri prestasi tanpa tes. Dan bagi Romandha, tenis juga berarti banyak bagi perjalanan hidupnya. Karena bakat tenis itu pula yang akhirnya ditampilkan Romandha dalam seleksi dimas diajeng.

Dalam audisi bakat, ia menampilkan pidato public speaking tentang tips dan trik bermain tenis. Penampilan tersebutlah yang membuatnya lolos sebagai finalis dimas kota Yogya, dan menjadi salah satu poin yang cukup signifikan bagi kemenangannya. Di samping, jawabannya ketika babak final yang menegaskan agar anak muda menjauhi bahaya narkoba lewat cara menjadikan diri sebagai insan yang taqwa, mandiri, dan cendekia.

Kemenangan itu bagi Romandha sama sekali tak terduga. Karena dalam proses seleksi Dimas Diajeng, ia awalnya merasa tak menguasai sama sekali dunia kontes duta pariwisata karena lebih aktif sebagai atlit di bidang tenis. Dorongannya mengikuti kontes pun sebenarnya berasal dari para kawan dekatnya, yang merasa bahwa Romandha cukup punya bakat dan mampu mengikuti kompetisi tersebut. Namun dalam perjalanannya, Romandha bersungguh-sungguh dan yakin bahwa terlibat dalam kompetisi Dimas Kota adalah amanah dan tugas yang baik baginya untuk mengembangkan diri maupun pariwisata Yogyakarta.

“Jadi saya ikut itu sebenarnya diojok-ojoki aja. Kata temen, iseng-iseng gitu lah ikut. Dan waktu adu bakat itu saja sebenarnya saya pesimis, yang lain nari, saya public speaking ngajarin basic tennis. Posisi kaki lah, ayunan yang baik, smash yang yahud. Akhirnya lolos, dan saya malah shock juga sih awalnya,” ungkap Romandha.

 

Mempelajari Jiwa, Memahami Sesama

Sedangkan bagi Hergita yang lahir di Jakarta, 26 Januari 1997 dari pasangan Hersam Sudarsiman dan Ervi Susanti, kepindahan bapaknya dari kota ke kota sebagai pegawai salah satu perusahaan BUMN menjadi berkah tersendiri baginya. Walaupun keluarganya berasal dari Yogyakarta, ia ikut sang ayah berpindah-pindah hingga ke Jakarta dan Pekanbaru. Dari pengalamannya mencicipi berbagai budaya itulah ia belajar beragam tarian tradisional sekaligus modern dance.

Selain belajar menari, Hergita juga aktif menjadi atlit renang sejak usia delapan tahun. Selain itu, ia juga gemar bernyanyi dan main piano. Waktu itu, ia tak ingin waktunya selepas pulang sekolah tak bermanfaat. Ia lebih memilih untuk terus menari di dalam air, maupun menarikan jemarinya di atas alat musik.

“Jadi kan jaman SD, SMP, itu pulang gasik. Sore-malam sudah pulang. Dimanfaatkan lah, kadang main sama teman, belajar buat pelajaran besok, dan juga latihan ganti-ganti itu. Bagi saya, dalam kehidupan ini kan kita harus menari untuk menghadapi masalah. Itu yang saya teladani dari berenang, main piano, dan juga menari tradisional. Dan di jakarta juga saya belajar tari modern,” ungkap Hergita

Barulah ketika ia diterima lewat jalur SBMPTN sebagai mahasiswa angkatan pertama di Psikologi UNY, Hergita kembali ke Yogyakarta. Banyaknya ragam pengalaman dari penjuru nusantara yang ia miliki, akhirnya  memberi Hergita pandangan pribadi dalam menghadapi fenomena kebangsaan dan bersosialisasi dengan kawannya tanpa kecuali.

Pandangan inklusif serupalah yang membawanya memilih studi psikologi. karena merasakan minat tersendiri untuk mempelajari kejiwaan manusia. Dengan mengenal ilmu tersebut, ia merasa dapat bermanfaat untuk lebih mampu memahami dirinya sendiri, maupun memahami orang lain banyak orang dari ragam latar kebudayaan. Termasuk, kepada para penghuni panti gangguan jiwa yang pernah Hergita sambangi beberapa kali untuk mendengarkan cerita mereka dan mengajar menari.

“Itu dalam program peringatan ulang tahun jurusan. Saya ikut ke panti dan kita mengajarkan mereka menari, menyanyi, dan menyempatkan untuk ngobrol dan mendengarkan. Dari situlah saya memahami bahwa yang mereka butuhkan itu salah satunya juga kasih sayang dan kemauan kita untuk mendengar mereka,” ungkap Hergita.

Dalam proses pemilihan dimas diajeng sendiri, hubungan baik Hergita dengan banyak orang membuatnya mendapatkan informasi seputar dimas diajeng. Pada saat itu, beberapa sahabat Hergita mengusulkan padanya agar ia mengikuti lomba tersebut. Lomba ini juga menjadi pertama. “Itupun waktunya saya ketika tahu, sudah tinggal empat hari sebelum audisi bakat di CFD Sudirman. Ya sudahlah saya coba saja, akhirnya lolos,” kenang Hergita yang pada audisi bakat tersebut menampilkan tarian tradisional.

Bagi Hergita, tahapan yang paling sulit dalam seleksi dimas diajeng adalah field program. Karena di situ, ia yang baru saja diumumkan sebagai salah satu finalis harus bekerjasama dengan tiga puluh finalis lainnya untuk membuat program bersama di kampung wisata. Tantangan yang ada dalam tahapan itu bukan hanya sekadar belum adanya ikatan perkenalan satu sama lain, tapi juga waktu yang cukup singkat untuk persiapan dan bertepatan dengan Ujian Akhir Semester.

“Persiapan hanya dua minggu, baru kenal satu sama lain, deket sama UAS lagi. Untungnya saya bisa ngikutin dan program kita bisa berjalan dengan baik,” kenang Hergita.

Ke depan, dengan bergabungnya Hergita serta Romandha dalam Paguyuban Dimas Diajeng Kota Yogyakarta, keduanya berharap dapat belajar banyak dari rekan-rekan maupun para seniornya. Selain itu, kekeluargaan yang terjalin erat dalam paguyuban tersebut juga diharapkannya dapat berkontribusi positif dalam melestarikan kearifan lokal Yogyakarta sekaligus merawat dan menyebarluaskan keistimewaan pariwisata Yogyakarta pada khalayak luas.

“Dan dengan melestarikan kearifan lokal itulah bagi saya makna kemerdekaan dan menjadi Indonesia. Masalah kita ini kan sekarang kurang memahami, beradu pendapat yang kurang baik di sosial media. Sehingga bagaimana budaya lokal dan unggah ungguh kita yang mulai luntur, kita kenalkan dan lestarikan kembali,” ungkap  Hergita.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here