Home LAPORAN UTAMA Riak Sumpah Pemuda Era Kini, Mereka Gandrung Bahasa Indonesia

Riak Sumpah Pemuda Era Kini, Mereka Gandrung Bahasa Indonesia

76
0

“Mereka mencintai bahasa Indonesia dari kejauhan. Di tanah air, bahasa Indonesia digunakan serampangan. Sementara di luar negeri, bahasa Indonesia dikagumi, diteliti, dan dipelajari”

 

Penny Vakalopoulos mengagumi Indonesia sejak usia tujuh tahun. Namanya tercatat sebagai pelajar Carey Baptist Grammar School, Melbourne. Cintanya terhadap Indonesia semakin tak diragukan lagi setelah bertandang ke Surabaya pada usia sembilan tahun. Jakarta, Lombok, dan Yogyakarta pernah ia singgahi selama empat bulan.

 

“Saya kepingin lanjut ke universitas dengan mengambil mayor studi Indonesia,” tulisnya, seperti dikutip aiya.org.au. Pengagum ahli Indonesia, Benedict Anderson, ini berharap dapat tinggal dan bekerja di Indonesia supaya bisa belajar lebih dalam mengenai budaya Nusantara lebih dekat. Bagi Penny, menjadi Indonesia tak harus pindah kewarga-negaraan tapi bisa menyelami bahasa dan budayanya secara intens.

 

Sebagai guru bahasa Indonesia, Tom McKenzie, punya kesan lain. Ia tertarik dengan bahasa Indonesia sejak SD. “Demi kecintaan itu saya sekarang sedang mengembangkan program pengajaran untuk profil bahasa Indonesia. Sasarannya buat siswa SD dan SMP,” tutur guru di Christian College Geelong, Victoria seperti dikutip tempo.com. Pada akhir 2015, Tom terpilih sebagai delegasi Australian-Indonesian Youth Exchange Program (AIYEP) untuk studi di Indonesia.

 

Baik Penny maupun Tom, keduanya memiliki rasa keindonesiaan yang radikal. Mereka turut mengenalkan budaya dan bahasa Indonesia di negeri Kanguru tanpa pretensi. Bahkan, pada 14 Oktober lalu, kota Melbourne menjadi saksi diadakannya National-Australia Language Awards (NAILA). Khalayak Australia menyambutnya dengan girang. Meski baru tahun kedua diadakan, sebanyak 85 peserta dari pelbagai negara bagian Australia berduyun-duyun hadir. “Ada yang datang dari kota kecil Broome, Manjimup, dan Townsville,” tulis Natalia, dilansir tempo.com.

 

Menurut Nadjib, Dubes Australia, pembelajar yang bersentuhan langsung dengan bahasa Indonesia akan lebih menghayati Indonesia lebih dalam. “Pembelajar bahasa Indonesia itu juga berperan mempererat hubungan bilateral kedua negara,” tuturnya. Dengan mengambil tema Our Future, Sally Hill, Direktur NAILA, percaya promosi bahasa Indonesia akan lebih efektif bila melalui budaya Indonesia. Karena itu, di akhir acara, deklamasi puisi, pertunjukan tari daerah, dan demo kuliner Indonesia disuguhkan ke publik internasional.

 

***

 

Bahasa Indonesia juga dilirik oleh peneliti Amerika sebagai bahasa paling bahagia ke-4 dunia. Peter Dodds, peneliti dari University of Vermont, Burlington, mengajukan tesis keistimewaan bahasa Indonesia. Ia mengumpulkan 10.000 kata umum yang acap kali digunakan. Peter merujuk tayangan televisi, Google Books, Twitter, dan lirik lagu sebagai data penelitian. Kata tersebut kemudian diberi keterangan negatif dan positif. Kata menangis dan berbohong ia masukan ke kategori negatif, sedangkan tertawa dan cinta ke kategori positif.

 

Peter tak sendiri. Bersama timnya ia mengklasifikasikan ribuan kata tersebut ke tabel kanan-kiri yang mengandung negatif dan positif. “Jejak kehidupan sosial manusia dalam bahasa pun bisa kita telusuri melalui riset ini,” katanya, seperti ditulis Daily Mail. Kesimpulannya, Peter dan tim menemukan kata yang cenderung bias positif. Menurut Peter, kata tersebut berkelindan dengan frekuensi kata yang digunakan.

 

Grup Band beraliran Punk Rock dari Prancis juga punya cara unik dalam mengekspresikan kecintaannya terhadap bahasa Indonesia. Francois Xavier Renou, pentolan band itu, membuat lagu berjudul Aku Lapar. Aneka kuliner Nusantara disebut dalam lirik lagunya. Tempe, mie ayam, nasi koreng, ketupat, hingga ayam bakar tak luput dinyanyikan Fransoa—nama panggungnya.

 

Setelah gita tersebut diunggah di Youtube.com, sontak menarik publik internasional, tak terkecuali masyarakat Indonesia. Menurutnya, lagu itu dibuat karena kegemarannya terhadap masakan tradisional Nusantara. Videoklip yang dibuat bersama kerabatnya itu direkam di Seminyak, Bali. Tak heran bila Fransoa begitu banyak mengenal kosakata bahasa Indonesia, karena selama empat bulan ia berkeliling Bali.

 

***

 

Di Jerman, menurut Edwin Wieringa, Direktur Institut Pengkajian Dunia Islam Universitas Koeln, banyak orang cinta bahasa Indonesia karena jodoh. Ia mencatat karakteristik khas mahasiswa yang hendak belajar bahasa Indonesia itu. “Sebelum masuk ke Jurusan Studi Indonesia, biasanya mereka telah lebih dulu menjalin asmara dengan orang Indonesia,” ungkapnya kepada wartawan Tempo. Keunikan itu membuat orang tersebut mendalami secara serius bahasa Indonesia.

 

Perkembangan bahasa Indonesia di Jerman tak terlepas dari kontribusi Mochtar Lubis. Bersama Irene Hilgers-Hesse dan Otto Karow, ia turut membantu penyusunan kamus Jerman-Indonesia. Menurut liputan khusus yang ditulis Tempo berjudul Antara Volkswagen dan Jodoh, pada 1962, di Koeln, juga didirikan kajian Indonesia. Kendati demikian, pada 2004, lembaga itu dilebur dalam studi dunia Islam. Itu karena Indonesia juga termasuk mayoritas berpenduduk Islam terbesar di dunia.

 

Sementara itu, di Universitas Humblodt, bahasa Indonesia telah dipelajari sejak Perang Dingin. Proses pembelajaran di sana tak terlepas dari kepentingan Jerman Timur untuk mendekati Indonesia di bawah Soekarno. Berkat prakarsa Ingrid Wesel, bahasa (dan budaya) Indonesia dikaji secara ilmiah. Sebelumnya, ia pernah belajar sejarah dan bahasa Indonesia di Moskow. “Saya dulu belajar di sana selama satu tahun,” katanya.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here