Putri Prihartini ; SEMBARI AKTIVIS TERBITLAH PUTRI HIJAB

 SOSOK

Berprestasi bagi Putri merupakan akumulasi dari kegiatan yang dilakoni secara sungguh-sungguh. Mahasiswi aktivis kampus ini juga seorang influencer muslimah.

Gadis ini kelihatannya iritbicara. Tapi sekali berada di forum umum kesan itu terbatalkan. Pemilik nama lengkap Putri Prihartini ini memang hobi berorganisasi sejak berseragam putih-biru. Mengawali karier keorganisasian sebagai Ketua OSIS, di bangku kampus ia tak
mau ketinggalan. Dari Himpunan Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, UNSTRAT, hingga BEM KM. Dua pos yang Putri jajaki, yakni Ketua Divisi PSDM maupun Kepala Biro Administrasi. Ia berprinsip kalau bisa bermanfaat kenapa tidak, selagi muda mesti perbanyak berkarya.

Berbeda dengan aktivis lain, Putri lebih sering menyimak. Namun, begitu bertukar pikiran, dua cangkir teh pun sanggup diseruput untuk menemani. Berkat keramahan dan antusiasme belajar, Putri memiliki keluasan relasi. Sebuah modal sosial yang jarang dimiliki orang banyak dan mustahil terengkuh secara instan. Setapak demi setapak ia bangun pencapaian itu. Menurutnya, paling sukar selama berproses di organisasi adalah merawat kebersamaan sekaligus sejenak menyingkirkan egoisme pribadi.

Aktivis juga pernah dirundung galau. Putri mengaku setelah PKKMB tahun 2020 tutup pintu, dirinya takut tak lagi ditelan kesibukan. Kendati masih aktif di HIMA PBSI, berakhirnya helatan tahunan mahasiswa baru tersebut turut pula mengiringi penghujung organisasi mahasiswa lainnya. Dengan kata lain, Putri harus siap purnatugas. Sebab organisasi tingkat kampus tak ubahnya rumah kontrakan. Ia memiliki masa pakai atau jatuh tempo.

Di luar kegiatan kemahasiswaan, Putri sesungguhnya rajin dimintai tolong kerabatnya. Pokoknya berkaitan dengan Instagram. Ia menuturkan dalam seminggu bisa puluhan tawaran yang menghujani DM miliknya. Berawal endorse sebuah barang, itu pun datang dari lingkaran terdekatnya, Putri semakin menggandrungi “profesi” ini.

“Sehari aja dapat tiga sampai lima DM lah. Tapi aku sendiri belum ke arah profesional. Masih sebatas bantu-bantu aja,” ucapnya.

Bukan tidak mungkin kelak Putri punya manajemen sendiri yang digarap orang lain. Selama ini masih dirinya sendiri yang menangani, kendati tetap merasa kewalahan di tengah kesibukannya di organisasi dan kuliah. Namun, sejak itulah pengikut Instagramnya melonjak drastis. Sudah mendapatkan fitur swipe ala para pemengaruh (influencer) di dunia maya.

Sahabatnya mendorong Putri agar mengikuti helatan Putri Hijab tahun 2020. Semula ragu tapi tiada salah untuk mencoba. Keluar dari zona nyaman yang selama ini mengelilingi di dinding kampus. Ia pun mendaftar jalur regional perwakilan Jawa Tengah. Mengikuti sejumlah seleksi seperti berkas, tes tulis, wawancara, tes bakat, dan foot light.

“Setelah diambil sepuluh besar, aku termasuk yang lolos. Dan tes lagi tapi pas wawancara aku selalu sebutin sekarang aku domisilinya di Jogja,” tuturnya.

Putri Hijab mulai menasionalkan kompetisinya pada tahun 2020. Sebelumnya hanya menyasar wilayah Sumatera. Penyelenggara pun hendak memperluas jangkauannya ke pelbagai kawasan, termasuk salah satunya Daerah Istimewa Yogyakarta. Jawaban Putri selama wawancara kerap menyentil kota pelajar, sehingga panitia terdorong untuk menempatkannya sebagai representasi Yogyakarta.

“Kalau kamu kami tawarkan mewakili DIY gimana?” tanya pewawancara seperti ditirukan Putri. Putri pun mengangguk. Kalau ada kesempatan kenapa tidak.

Usai wawancara, sekian hari berikutnya, Putri dinyatakan lolos seleksi. Ia berhak maju ke tingkat nasional untuk proses kompetisi berikutnya. Putri berangkat ke Bandung untuk “karantina” selama satu minggu.

“Di sini tu aku dapat insight banyak banget. Ibaratnya kayak kita bagaimana caranya self-branding. Putri Hijab ini kan tujuannya sebagai influencer muslimah. Jadi awalnya itu,” imbuhnya.

Hijab dinilai Putri bukan sebatas identitas, apalagi pembatas, melainkan juga pengingat bagi seseorang untuk tetap bisa berbagi kebaikan sekaligus inspirasi kepada orang lain.

Sebagai bagian dari pesohor di dunia maya, Putri berpendapat pentingnya personal branding bagi membangun citra di media sosial. Ia tak hanya masalah pamer sesuatu kepada warganet tapi lebih penting bagaimana media sosial memproyeksikan bakat dan minat seseorang. Di situlah letak strategi pemasaran yang di satu pihak menuai nilai kapital sedang di pihak lain membuat orang.

selengkapnya baca dimajalah pewara edisi februari

Author: 

Tim Redaksi. Semua tulisan di laman pewaradinamikauny.com, telah diterbitkan di Majalah Pewara Dinamika, Universitas Negeri Yogyakarta. Untuk membaca versi lengkap dari setiap artikel dengan gambar ilustrasi dan infografis, baca versi (.pdf) majalah yang bisa diakses dan diunduh melalui bilah menu "Download Majalah".

No Responses

Leave a Reply