Dua tahun menahkodai senat hingga terpilih kembali sebagai Ketua Senat pada November lalu, Zamzani bersama segenap senat tak hanya membawa tugas penataan, pelaksanaan, hingga pengawasan kebijakan akademik. Senat juga dibawanya mengarungi zaman, untuk bergerak bersama mengemban amanah sebagai mitra rektorat.

 

Dari pengawasan dan ragam tugasnya tersebutlah Zamzani bersikukuh. Bahwa zaman dan tantangannya boleh saja berubah dan mentransformasi lanskap dunia dan UNY. Pemimpin universitas seiring waktu juga silih berganti. Tapi setiap pimpinan dan setiap zaman yang ada di kampus ini, senantiasa membawa optimisme yang menggerakkan tiap sivitas. Untuk bersama-sama menggapai apapun aral yang melintang, termasuk dalam upaya menjadikan UNY sebagai Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH) di tahun 2018.

 

Kepada Redaktur Pewara Dinamika, ILHAM DARY ATHALLAH, Zamzani kemudian bercerita bagaimana kerja-kerja yang dilakukan senat satu tahun kebelakang sebagai mitra rektorat. Sekaligus merefleksikan apa yang sudah berlangsung di UNY dalam kurun waktu tersebut, untuk menggapai pencapaian yang lebih tinggi lagi di tahun berikutnya.

 

Bagaimana pandangan bapak atas pencapaian UNY satu tahun ke belakang?

 

Pencapaian selalu dicapai UNY dengan cukup komprehensif karena kita punya optimisme. Semua itu juga karena roadmap kita sebagai institusi akademik jelas: merubah UNY dari tadinya Badan Layanan Umum, menjadi Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum di tahun 2018. Dan di tahun ini, kita sudah mencapai salah satu syarat utamanya: akreditasi institusi A. Kalau kita analogikan orang mau naik angkot, kaki kanan kita ibaratnya sudah mancik (naik).

 

Pencapaian-pencapaian yang ada selanjutnya di UNY, termasuk apa yang akan kita raih tahun depan, adalah untuk menaikkan kaki kita yang satu lagi ini. Tantangannya ke depan, harus memperjuangkan akreditasi program studi agar 80 persen lebih  dapat dikategorikan unggul. Dinamika-dinamika kemudian bermunculan dalam proses itu, yang kesemuanya berkontribusi positif bagi kemajuan universitas.

 

Bagaimana kemudian Transisi Rektor berperan dalam dinamika menggapai PTNBH?

 

Konstruksi ide UNY sebagai PTNBH itu kan basisnya continuity and change. Rektor sebelumnya (Prof Rochmat Wahab) sudah lama menggadang-gadang ini dan memperjuangkan akreditasi A. Pak Rektor (Prof Sutrisna Wibawa) ingin kita bekerja keras lagi dan mengejar pencapaian PTNBH di tahun 2018. Dari situ dapat ditilik bahwa perubahan dan keberlanjutan selalu berjalan seiringan.

 

Dan saya melihatnya, setiap pimpinan, siapapun itu, harus dan dalam praktiknya memang senantiasa menempatkan diri sebagai sosok yang visioner. Sosok yang optimistik. Kesemuanya memiliki kemampuan untuk menggapai asa. Tentu saja dengan strategi satu dengan yang lain ada sedikit perbedaan. Karena gaya pemimpinnya kan memiliki keunikannya masing-masing. Namun pada prinsipnya, semua pemimpin menggerakkan UNY bersama ke arah yang lebih baik. Untuk, menunjukkan eksistensi lembaga kita ke dunia akademik dan melahirkan kontribusi nyata.

 

 

Bagaimana upaya rektor sejauh ini dalam menggerak seluruh civitas?

 

Hubungan sangat bagus selalu berlangsung antara rektor dan senat, disamping bersama organ kampus yang lain termasuk mahasiswa. Walaupun, hubungan erat saya dengan Pak Rektor ini jangan dipandang sama-sama karena kami dari FBS. Dari sisi komunikasi dan dukungan, saya nyatakan dan saya ekspresikan kepada rektor lama dan rektor baru. Saya juga menjaga tak memihak, dan nyatanya dalam kepemimpinan saya di senat dua tahun ini, mengalami dua kepemimpinan rektor dan hubungan kami sama baiknya.

 

Ke depan, penempatan diri semua sivitas harus menjadi sentral. Dengan tantangan UNY yang semakin berat, kita semua tak boleh lagi membuat dikotomi antara kami dan mereka. Tidak boleh ada seakan jarak dan batasan antara atasan dan bawahan. Semuanya harus urun rembug, bahu membahu, dan bekerja bersama. Dengan demikian, saya dan semua civitas UNY ini akan menjadi satu kesatuan. Meng-kita, tak lagi meng-(k)ami

 

Salah satu gerakan yang diinisiasi UNY adalah publikasi artikel jurnal internasional. Bagaimana bapak memandang keterlibatan civitas sejauh ini?

 

Responnya bagus, dan secara statistik jumlah artikel kita melejit. Pak Rektor juga punya fokus untuk mendorong semua dosen meneliti. Sehingga tak perlu waktu lama saya yakin, nama kampus kita akan muncul di jajaran pemeringkatan Scopus. Dan lagi-lagi, itu bentuk optimisme yang selalu tersembah di UNY. Kuncinya adalah gerakan. Figur pemimpin yang menggerakkan, didampingi dengan kita sebagai civitas yang juga harus tergugah hatinya.

 

Jangan lagi dipandang artikel jurnal ini untuk pribadi, walau insentifnya juga lumayan dan kita tidak bisa munafik, insentif itu pasti jadi incaran. Tapi menulis artikel, itu juga bermanfaat bagi universitas. Juga bagi bangsa dan pengembangan keilmuan. Kalau misalnya produk hasil kekayaan intelektual negeri ini yang terkenal, kita semua juga yang bangga dan semakin tergerakkan.

 

Lalu, peningkatan publikasi ini apakah mampu untuk menggenjot program percepatan guru besar?

 

Harapannya memang demikian, walau hal itu dua entitas yang berbeda. Program percepatan guru besar sudah ada sejak era rektor sebelumnya juga. Pernah bahkan satu tahun kita melantik hingga 5 profesor. Tapi setelah itu ya balik lagi, hanya 1-2 profesor. Dan ada beberapa profesor yang setelah jadi profesor, kecenderungannya kurang dalam meneliti. Karena ada beberapa tugas lain sehingga tak sempat.

 

Kita sebenarnya sangat ingin lebih banyak lagi guru besar. Semua yang secara usia, kepangkatan, maupun karya sudah produktif dan dipandang mumpuni, juga pasti akan sangat bersyukur jika mengemban gelar profesor. Dan menelurkan publikasi dapat saya pastikan pasti diinginkan semua dosen. Sehingga ini jadi tantangan.

 

Tapi kita sebagai senat akademik, juga tak bisa semudah itu memberikan rekomendasi maupun pertimbangan pengesahan guru besar. Ada banyak syarat yang sudah tercantum dalam UU Dosen dan statuta. Dan itu memang harus dipenuhi, tak bisa dipermudah demi sekedar memuluskan jalan dan tantangan yang ada. Karena ada check and balances dengan Kemristekdikti serta menyangkut integritas kampus. Sehingga, syarat administrasi kerap jadi ganjalan tersendiri.

 

Apa saja ganjalan dan tantangan dalam proses pengusulan jabatan guru besar?

 

Yang menjadi pelik terkadang adalah identifikasi karya terkait bidang ilmu. Terkadang di tengah dunia yang semakin mengglobal ini, batas linearitas antara keilmuan makin blur. Bidang matematika misalnya bisa saja membahas bagaimana penguasaan pengetahuan matematika dijadikan sumber kuasa suatu aktor negara dalam politik internasional. Itu masih matematika, dan juga topik kontemporer. Tapi analisanya meluas sampai ke bidang sosio humaniora. Sehingga mengidentifikasi ini kadang bisa menjadikan rapat maupun pemberkasan administrasi begitu panjang.

 

Jenjang studi terkadang juga jadi tantangan tersendiri. Ada dosen yang mengajar Pendidikan Matematika misal, S2 dan S3 nya Matematika murni atau matematika terapan. Padahal sebagai Lembaga Perguruan Tinggi Kependidikan, kita punya marwah menjadi yang terdepan di bidang pedagogik.

 

Pengangkatan guru besar inilah yang menurut saya, salah satu tantangan paling luar biasa UNY di tahun ini. Tapi, bukan berarti kita harus menyerah. Dalam kacamata saya di senat sebagai pengawas, dan dengan tugas wewenang yang kami miliki untuk fasilitasi dan pertimbangan, saya berusaha memfasilitasi usulan guru besar sesegera mungkin. Kalau bisa masih diproses (suatu usulan), bulan itu juga (dalam rentang waktu satu bulan semenjak usulan guru besar dilakukan) akan kita bawa sampai paripurna dan konvensikan. Sebelum ada terobosan ini, konvensi usulan guru besar biasanya baru bisa berlangsung sebulan setelahnya.

 

Lalu, apa proyeksi tantangan terbesar UNY di tahun 2018?

 

Tetap tadi, menyukseskan lembaga ini sebagai PTNBH. Dan menapaki upaya untuk membentuk UNY dalam jangka panjang menggapai World Class University yang diinisiasi Pak Rektor akan tercapai di tahun 2025.

 

Ditengah tuntutan era milenial yang luar biasa, kita harus mendidik generasi mendatang dengan sekuat tenaga. Penggunaan literasi, teknologi, dan penelitian harus digiatkan. Hanya dengan support dari seluruh sivitas akademika, kemajuan lembaga akan berlangsung dan membentuk universitas kita menjadi unggul, kreatif, dan inovatif tanpa meninggalkan taqwa, mandiri, dan cendekia yang telah jadi identitas kita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here