Home Wawancara Khusus Prof. Dr. Mohammad Mahfud MD – Kampus Kependidikan Benteng Moralitas

Prof. Dr. Mohammad Mahfud MD – Kampus Kependidikan Benteng Moralitas

77
0

Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Islam Indonesia

Memaknai Ramadhan, Mahfud MD mengajak civitas untuk mengokohkan peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai jati diri pendidikan. Moralitas yang baik dalam berbangsa dan bernegara menjadi penting dibentengi UNY sebagai kampus kependidikan.

 

Kepada Redaktur Pewara Dinamika Ilham Dary Athallah, Prof. Mahfud MD mengungapkan hal tersebut di sela-sela kunjungannya ke UNY sebagai penceramah dalam agenda Buka Bersama pada Senin (13/05). Bertepatan dengan hari ulang tahunnya, Mahfud titip harapan atas moralitas bangsa kepada Lembaga Pendidikan Tinggi Keguruan (LPTK) ini. Lewat mendidik mahasiswa yang bijak, guna kelak menjadi guru yang membesarkan murid berperilaku mulia.

 

Dalam ceramah buka bersama tadi, Prof. Mahfud banyak berbicara tentang fenomena negatif yang dihadapi bangsa ini sebagai masalah moral. Kenapa demikian?

 

Situasi bangsa seperti yang bisa dilihat sendiri, sepertinya makin hari makin panas. Saya sudah bilang di televisi, pada bulan Januari (2019). Keributan pasti tidak bisa dihindari (terkait Pemilihan Umum). Setelah 22 Mei juga berlanjut, dan akhirnya benar kan. Dulu orang berharap ingin segera tuntas Pemilu agar situasinya segera mendingin, tapi nyatanya tidak sama sekali.

 

Khusus masalah tersebut, saya berharap masyarakat mempercayakan pada hukum. Kita tunggu saja dan kembalikan ke mekanisme yang tersedia, karena kita orang agama dan kali ini merefleksikan nilai-nilai ajaran agama kita (dalam rangka Ramadhan), kebenaran akan selalu muncul dan selalu ada campur tangan Tuhan turun menyelesaikan serta mengarahkan kepada kebaikan.

 

Namun masalah situasi politik ini sebenarnya hanya lapisan es terluar. Ada masalah yang lebih fundamental. Oleh karena itu saya sepakat dengan Pak Fahri Hamzah (Wakil Ketua DPR), waktu tahun lalu menyebut bahwa saat ini kita menghadapi fenomena jahiliyah. Jahiliyah, artinya kaum yang bodoh, itu lawannya adalah hidayah. Dekadensi moral menjadi masalah kenapa ada orang-orang yang jahiliyah, dan kita sebagai bangsa belum peroleh hidayah betul-betul.

 

Itulah mengapa, fenomena negatif ini masalah moral. Masalah perlunya hidayah.

 

Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk menghadapi masalah moral tersebut.

 

UNY bisa turut menghadapi masalah ini sebagai sebuah institusi ini. Jati diri pendidikan itu meningkatkan kualitas SDM. Pencerdasan lewat pendidikan, itukan tugas UNY.

 

Tentu nantinya UNY tidak boleh hanya meningkatkan kualitas kecerdasan intelektual. Tapi juga harus perhatikan kualitas diri yang mendampingi kecerdasan itu digunakan. Itulah kecerdasan moral. Dan kampus kependidikan juga harus mendidik moral. Agar mahasiswanya bermoral, dan mereka menjadi guru masa depan yang bermoral pula. Sehingga muridnya juga bermoral baik.

 

Ambil contoh kasus ini, kasus yang saya peroleh saat saya jadi Ketua MK. Kasus pertama, ada orang betawi memiliki tanah secara turun-menurun. Tidak pernah menjual dan selalu membayar PBB. Tapi tiba-tiba diusir langsung. Dan ketika lapor kepada polisi, dia justru ditangkap karena tuduhan memalsu surat. Langsung diproses pengadilan dan dihukum pidana kurungan empat tahun.

 

Betapa kejamnya: tanah dirampas, orang dihukum. Itu kasus pertama, ada industri hukum yang bermain. Pengusaha curang, berkolusi dengan oknum penegak hukum yang tidak arif. Jadilah masalah hukum, karena masalah moral. Bahkan moral mereka begitu buruk, sampai teganya memenjarakan orang sesudah tanahnya direbut.

 

Kasus kedua, ada orang di salah satu desa pelosok Makassar. Suami istri dengan mertua perempuan yang hidup di satu rumah. Istri yang matre kemudian menggoda suaminya untuk menggugat dan mengusir suaminya, agar merampas rumah tersebut sebagai warisan. Si ibu pergi, anak tega membiarkan, dan hukum mendiamkan.

 

Dua kasus ini memang terjadi saat orang-orang tersebut dewasa. Mereka bukan murid. Tapi bayangkan pendidikan seperti apa yang mereka dapat saat kecil, kok bisa sampai kejamnya seperti itu. Hukum orang jahiliyah, bertemu dengan orang minim hidayah, jadilah kekejaman seperti itu.

 

Dan masalah ini bisa berhenti, kalau hidayah kita sampaikan sejak dini. Mulai dengan generasi selanjutnya. Itulah kenapa mendidik guru begitu penting.

 

Apa langkah-langkah yang bisa dilakukan kampus dalam mendidik calon guru?

 

Wah kalau itu jangan tanya saya. Tanya Pak Rochmat (Prof. Rochmat Wahab, Rektor Senior UNY), beliau dari FIP (Fakultas Ilmu Pendidikan). Bapak Rektor (Prof. Sutrisna Wibawa), juga studinya Pendidikan Bahasa Jawa. Beliau paham betul pendidikan karakter, agar mendidik yang baik, bukan justru meneladani Sengkuni.

 

Beliau-beliau lebih memiliki ekspertis dalam merumuskan pendidikan lah ya. Tapi secara principle, yang saya tekankan itu tadi: Berikan hidayah, sambungkan hidayah itu lintas generasi dan lintas insan, dan sebarkan kebaikan itu seluas-luasnya.

 

Karena yang kita lawan ini adalah kejahiliyahan. Yang sangat luas. Yang sangat banyak akar muasal dan mungkin juga orang-orang yang terjerumus di dalamnya.

 

Saat ini UNY sedang merayakan Dies Natalis ke-55. Ada pesan bagi UNY dalam kaitannya mendidik moral tadi bapak?

 

Selalu didik moral. Selalu berprestasi di bidang pendidikan, dan pastikan prestasi itu menjadi hidayah yang menyalur dan menginspirasi. Pastikan prestasi itu dibawa oleh para lulusan UNY, yang mana mereka menjadi calon guru, lalu mendidik anak-anak muda Indonesia dengan semangat yang sama.

 

Tantangan para lulusan itu nantinya sangat berat. Jahiliyah setidaknya ada empat tipe: yang mudah rontok keimanannya, yang sombong, yang tidak adil, dan yang tidak berhati nurani. Di lapangan guru dapat menemukan orang dengan beragam karakter, termasuk karakter ini.

 

Yang menjadi tantangan adalah apakah mereka para calon guru dapat mendidik anak sekaligus lingkungannya untuk lebih baik. Atau justru sebaliknya dan anda katut (ikut menjadi) jahat?

 

Wallahualam bis sawab. Dan marilah kita, UNY juga, selalu istiqamah mendidik generasi bermoral. 55 tahun bukan waktu yang singkat, tapi kewajiban mendidik dan memajukan pendidikan masih panjang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here