Ahmad Syafii Maarif, kerap disapa Buya, masih ingat betul kala ia mengikuti kelas-kelas yang diampu Prof. Lafran Pane. Ia boleh jadi seorang guru besar terpandang dengan segudang keilmuan yang ada di tiap bilik memori dalam otaknya. Tapi di dalam kampus, ia selalu memposisikan diri sebagai sahabat para mahasiswa. Yang siap untuk diam seribu bahasa ketika Lafran menggoreskan kapur ke papan tulis hitam di depan kelas, maupun meladeni sahutan demi sahutan dalam diskusi yang diikutinya.

Diskusi itu, tak selalu berlangsung di dalam kelas dan pembelajaran formal. Terkadang, Lafran yang sedang berjalan dari satu gedung ke gedung lainnya, bisa tiba-tiba nimbrung ke para mahasiswa yang sedang berkumpul. Seketika saja bahasan para mahasiswa itu berubah. Buya yang kala itu pernah bergumul dengan temannya untuk saling bercerita tentang hal ramah temeh, saat itu juga langsung mendiskusikan bangsa. Mulai dari topik pemberantasan komunisme yang saat Buya berkuliah sedang panas-panasnya di masa Buya berkuliah hingga lulus di tahun 1968, hingga pengetahuan sejarah dari berbagai belahan dunia.

Itulah mengapa, kisah jatuh bangun kehidupan Buya yang merantau dari pelosok Sumatera Barat dan berjuang dalam keterbatasan di Jawa, boleh jadi satu hal. Tapi jika ada satu momen lain dalam hidup yang dapat dipandangnya menjadi pemupuk kepribadian hingga menjadi sosok Buya hari ini, momen tersebut adalah hubungannya dengan Lafran Pane yang begitu erat. Baik sebagai mahasiswa dan dosen, maupun di kemudian hari sebagai sesama dosen dengan intensitas diskusi dan komunikasi yang mengkristalisasi keteladanan dari sang pahlawan nasional, ditengah kegigihan Lafran yang tak pernah sama sekali silau atas harta dan tahta duniawi.

“Intinya bagi saya, beliau adalah Simbah Bangsa. Dan kita harus belajar banyak dari beliau. Karena bukan hanya menjadi bapak bangsa, tapi juga telah melahirkan bapak-bapak bangsa lainnya, lewat HMI maupun keteladanannya,” ungkap Buya.

Kepada Redaktur Pewara Dinamika, ILHAM DARY ATHALLAH, Buya kemudian berkisah tentang pasang surut hubungannya dengan Lafran Pane. Termasuk, bagaimana keteladanan tersebut dilanjutkan oleh Buya dalam pengabdiannya di IKIP Yogyakarta, yang kemudian menginspirasi kiprahnya sepanjang hayat.

 

Bagaimana awal pertemuan pertama Buya dengan Lafran Pane?

Awalnya sempat sengit. Walau memang kebaikannya banyak sekali. Awal saya masuk ke FKIS IKIP Yogya itu susah sekali, ya alasannya Pak Lafran Pane kala itu belum berkenan. Seperti tidak acuh dan tidak ditanggapi baik lah kala itu. Walau memang akhirnya saya diterima.

Kala itu, saya pertama kali bertemu Lafran Pane ketika menghadap langsung untuk minta diterima sebagai mahasiswa FKIS. Beliau kala itu menjabat Dekan. Saya menghadap ke dia itu  bersama Padamulia Lubis (kala itu menjabat sebagai Komandan Laskar Ampera, organisasi masyarakat kenamaan yang aktif dalam pencetusan Tritura). Saya saat itu juga membawa surat rekomendasi dari Pak Wuryanto (Ketua Jurusan Pendidikan Sejarah FKIS) dan Pak Sanusi Latief (Dosen IAIN Sunan Kalijogo) Tujuannya: meminta beliau boleh lah terima saya untuk melanjutkan studi tingkat doktoral (kini setara strata satu). Disitulah akhirnya saya diterima, walau saya tahu tetap diterima dengan enggan. Enggak simpatis gitu, acuh tak acuh saja.

 

Apa alasannya Lafran pane sulit menerima Buya sebagai mahasiswa FKIS?

Hingga kini saya tidak tahu. Nulai saya padahal juga relatif baik, dan yang menjadi penguji semasa saya ujian negara di Universitas Cokroaminoto Solo (sarjana muda), itu Pak Lafran Pane sendiri. Padahal dia tahu saya ini HMI lho ini. Dia kan pendiri ya. Jadi intinya kala itu, saya sempat dipandang oleh beliau tidak seharusnya berjodoh dengan IKIP Yogya.

 

Lalu, bagaimana hubungan tersebut kemudian berubah menjadi harmoni?

Gak tau itu, berubah 180 derajat betul. Tapi yang pasti, Pak Lafran Pane ini selalu hafal nama setiap mahasiswa yang ia ampu. Mungkin dia tau juga riwayat saya, entah dari siapa. Kalau saya miskin, kalau saya sehari-hari laju dari Kotagede, dan sudah punya keluarga. Jadi di momen itu mungkin Pak Lafran mulai terketuk hatinya.

Sehingga saya sangat dekat dengan dia. Dan yang mengajak saya untuk menjadi PNS di IKIP Yogya, mulai dari asisten dosen hingga menjadi dosen, itu ya Pak Lafran Pane. Jadi hubungan kita akhirnya sangat erat. Apalagi, saya seakan klik dan kami sering diskusi sejak saya masih mahasiswa. Tentang perjuangan, tentang sejarah, dan tentang bangsa.

 

Dimana diskusi dengan Lafran Pane biasa dilakukan?

Umumnya di kampus. Saya awal kenal beliau itu sudah dalam posisi menjadi Dekan 1 ya Pak Lafran. Tapi kita ketemu bisa dimana saja. Tidak pernah malah di ruangannya. Kadang di kelas, kadang di serambi-serambi kampus, kadang di rumah dinas beliau di Jalan Gejayan dan mahasiswa diundang. Kita makan sambil sederhana dengan masakan dari istri beliau, wah itu mewah betul buat mahasiswa pas-pasan macam saya!

Termasuk pernah juga, di emperan. Beliau bisa tiba-tiba duduk di trotoar maupun duduk di warung makan pinggir jalan, dan tiba-tiba pula diskusi bareng kita. Padahal beliau itu dekan lho, tapi begitu sederhana dan bersahaja. Jadi di mana saja, itu serasa rumah buat kami dan Pak Lafram Pane. Selama, kita orang berdiskusi.

 

Ketika G30S/PKI terjadi Buya, bagaimana diskusi tentang topik tersebut berlangsung dengan Lafran Pane?

Masih berdiskusi. Dan uniknya pembelajaran di IKIP Yogya ini tetap berjalan. Enggak terganggu apa-apa. Meskipun memang harus tetap waspada kalau ad kekacauan lagi. Yang pasti, Jogja kala itu relatif aman.

Dan yang unik adalah, Lafran Pane ini sangat anti PKI toh. Pikiran itu adil dan tidak terdistorsi walaupun mbakyu-nya itu termasuk komunis dan suami mbakyu-nya itu Ali Hanafiah, Duta Besar Indonesia untuk Srilanka kala itu. Kemampuan intelektual Pak Lafran Pane ini sepertinya memang keturunan. Saudara-saudaranya, Sanusi Pane, dan Harmain, itu sastrawan dan semua pintarnya sama.

 

Lalu semasa kuliah, apa saja kegiatan Buya?

Hampir enggak ada kalau kegiatan kuliah. Karena saya sambil bekerja sebagai korektor Suara Muhammadiyah, dibimbing oleh Bastari (sastrawan, tokoh manifes kebudayaan). Setelah lama, baru saya menjadi redaktur. Uang-uang dari situ, saya gunakan agar dapur tetap mengepul. Sembari di awal menerima bantuan dari mertua. Termasuk kesulitan yang ada saat itu, saya ada istri dan bayi yang butuh susu tambahan dan kondisinya tidak sehat betul, dan krisis ekonomi yang kala itu sampai inflasi 650%. Intinya dari situ saya belajar, dan saya kenal juga kemiskinan. Gak enak jadi orang miskin itu!

Namun ternyata, keadaan saya itu kemudian diperparah dengan musibah yang seakan silih berganti. Lip (istri Buya, Nurkhalifah) akhirnya pulang ke Padang bersama Salman (putra Buya), karena serba kesulitan di Yogyakarta. Salman juga akhirnya dipanggil Allah pada usia kurang sedikit dari 20 bulan. Saya waktu itu masih duduk di tahap doktoral dua.

 

Lalu di tengah momen sedemikian rupa, bagaimana Buya akhirnya mampu menyelesaikan studi?

Tetap baca dan diskusi rajin jadi kunci dan selalu disempatkan. Prof Lafran itu, juga punya perpustakaan pribadi di belakang rumahnya, dan kita sering diskusikan itu. Belajar banyak dari beliau, walau dalam budaya verbal. Sedangkan skripsi saya, kala itu dibimbing Pak Dharmono Hardjowidono (Dosen Sejarah Asia Tenggara IKIP Yogya). Judul “Gerakan Komunis di Vietnam (1930-1954).” Dan lulus skripsi ini juga berkat belajar terus utamanya bahasa Inggris, karena sumber literatur kebanyakan bahasa Inggris.

Bahasa Inggris saya itu semasa di Kotagede kan lemah sekali awalnya. Waktu itu untuk sekedar baca literatur, saya baca buku target 10 halaman sekali baca. Tapi waduh, suwe banget kuwi. Saya buka kamus, buka kamus, terjemahkan kata per kata. Tapi akhirnya bisa juga. Dan saya lulus tercepat.

Walaupun memang usia saya waktu lulus itu, sudah 33 tahun. Dan agak menggelitik juga, karena untuk ujian skripsi harus pakai baju putih lengan panjang berdasi, dan saya saat itu minjem dari Hermansjah Nazirun karena tidak punya. (kala itu sesama redaktur Suara Muhammadiyah)

 

Selepas menjadi Dosen IKIP Yogya, bagaimana kemudian kiprah pengajaran yang dilakukan Buya?

Yang pertama, tentu melanjutkan tradisi hubungan cair yang sudah ada. Kalau Pak Lafran Pane mampu menghadirkan diri untuk berdiskursi dengan mahasiswanya, maka saya harus demikian pula. Itulah mengapa walau gelar BA dan sarjana 1 itu sudah tinggi kala itu, saya tidak mau berhenti belajar. Baik cari ilmu formal dengan fasilitas beasiswa yang ada, sampai jauh ke luar negeri, maupun dengan rajin baca di perpustakaan dan berdiskusi. Termasuk, dalam diskusi rutin yang saya gelar dengan mahasiswa.

 

Bagaimana rutinitas diskusi Buya dengan mahasiswa berlangsung?

Saya bikin seminar kecil-kecilan. Biasanya, saya bawa majalah-majalah dari perpustakaan yang sudah saya baca untuk didiskusikan. Nanti informasi (terselenggaranya rutinitas diskusi) itu akan tersebar mulut ke mulut, atau saya buat selebaran.

Tempat diskusinya, nanti bisa di taman-taman atau di gedung yang sekarang jadi museum pendidikan. Kita melingkar saja duduk. Bisanya ba’da ashar kita gelar, sampai adzan maghrib memanggil. Topiknya bisa macam-macam. Ketika perang teluk pertama, Iraq menginvasi Kuwait misalnya, kita diskusi seru sekali mendalami latar belakang sejarah perang tersebut dan bagaimana perkembangan terbarunya.

Di masa arus informasi belum semudah sekarang, dan kondisi ekonomi serba terbatas, diskusi seperti itu sangat penting. Sekarang juga penting sebenarnya.

 

Bagaimana diskusi tersebut mempengaruhi kiprah Buya hari ini?

Diskusi mengajarkan kita sikap egaliter. Kebetulan saya juga orang Minang, dan orang minang itu biasa merdeka. Dikekang itu tidak nyaman. Didikan itu sedikit banyak berpengaruh ketika saya memutuskan tidak mau pakai seragam dan menyobek pamflet Golkar yang ditempelkan di kampus sebagai lingkungan akademik yang seharusnya netral.

Saya juga rela jabatan profesor terhambat hingga tahun 1997, sempat ada beda pendapat dengan Prof. Vembriyanto sehingga langkah saya mengajar di Iowa sempat terhambat, dan hingga kini bersuara vokal untuk kebaikan dan hal-hal yang saya yakini. Saya hanya pernah sebentar menjabat struktural di kampus, dan mungkin saya gak berbakat jadi birokrat kali ya karena posisi saya yang seperti itu.

Oleh karena semua itu, bagi civitas UNY hari ini yang menikmati era lebih bebas dan lebih dimudahkan oleh teknologi, saya punya pesan: harus rajin-rajinlah membaca! Berpetuanglah selalu dalam dunia akademik, dengan membaca, berpikir, menulis, dan berdiskusi. Ibaratnya kemudahan yang ada saat ini, wajib memacu otak kita untuk senantiasa berdansa, agar bermanfaat bagi sesama!


Profil:

Sijunjung, 31 Mei 1935

Pendidikan:

* Fakultas Sejarah dan Kebudayaan Universitas Cokroaminoto Surakarta (BA; 1964)

* Jurusan Sejarah, IKIP Yogyakarta (S1, 1968)

* Jurusan Sejarah, Ohio University, Athens, Ohio, AS, (MA, 1980)

* Pemikiran Islam, Universitas Chicago, Amerika Serikat, (Ph.D, 1983)

 

Kiprah:

Dosen Sejarah dan Kebudayaan Islam Universitas Islam Indonesia (UII), 1964-1969

Asisten Dosen dan Dosen Fakultas Keguruan Ilmu Sosial (FKIS) IKIP Yogyakarta/UNY (1967-2005)

Guru Besar Filsafat Sejarah IKIP Yogyakarta/UNY (1997-2005)

Wakil Ketua PP Muhammadiyah (1995-1998)

Ketua PP Muhammadiyah (1998-2005)

Guru Besar Emeritus UNY (2005-sekarang)

Pendiri Maarif Institute

Dewan Pengarah UKP-PIP Pancasila