Oleh: Rony K. Pratama 

Editor: Budi Mulyono 

 

“PIMNAS diharapkan memupuk nilai kearifan budaya. Ajang ilmiah mesti berangkat dari nilai kultural” 

Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) menjadi ajang prestisius bagi cendekiawan muda. Representasi tiap universitas di Indonesia berkumpul di GOR UNY. Kota budaya dan pelajar menjadi saksi monumental demi mengantar para generasi muda untuk berkompetisi secara ilmiah. Menteri Ristekdikti, M. Nasir, dan Dirjen Belmawa, Intan Ahmad, turut hadir. Rektor UNY, Sustrisna Wibawa, tampak menemani kedua penggawa itu di titik sentral pandang. 

Jamak pejabat nasional bertandang di gelaran PIMNAS 31. Tak terkecuali orang nomor satu di Yogyakarta. Namun, kehadiran gubernur ke GOR digantikan wakilnya, yakni Sri Paduka Paku Alam X. Sebagai “tuan rumah” di kota yang kuat nilai kearifan lokal Jawa itu, Paku Alam X, memberi ucapan selamat bagi peserta PIMNAS. Mereka, menurut Paku Alam X, adalah orang terpilih dari masing-masing kampus untuk menunjukkan kecakapan ilmiah secara verbal di muka penguji. 

 Paku Alam X menyebut Serat Centhini untuk mempertegas motivasi luhurnya kepada para mahasiswa. “Ketika membuka serat centhini, kita akan menemukan sebuah istilah pengawian jawi yang berasal dari kata wikan yang berarti tahu. Dia lalu menjadi ilmu pengetahuan,” tuturnya. Istilah wikan yang ia rujuk dialamatkan untuk mahasiswa karena memiliki kemampuan berdialog dengan perspektif keilmuan dan kearifan. 

 Posisi ilmu, bagi Paku Alam X, dalam konteks Jawa dikenal sebagai ngelmu. “Kata ini hakikatnya mengandung kearifan budaya yang meliputi dimensi holistik,” ucapnya. Dimensi inilah yang kemudian melahirkan konsep modern seperti berpikir kreatif dan inovatif. Menurutnya, PIMNAS 31 diharapkan disasarkan ke arah sana. Kearifan harus mengimbangi ilmu pengetahuan. Yang terakhir ini sedang dikompetisikan di PIMNAS, sedangkan yang kedua mesti direfleksikan terus-menerus. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here