Digitalisasi perpustakaan semakin menjadi pilihan di era teknologi informasi saat ini. Selain memiliki akses lebih luas, buku digital mendukung kegiatan pelestarian alam khususnya kayu sebagai bahan utama pembuatan kertas.

Buku adalah jendela dunia. Kalimat ini sering kita temukan terpajang di dinding ruang dibaca maupun di gedung-gedung perpustakaan. Sebagai ruang baca, perpustakaan menjadi miniatur dunia yang yang bisa dijelajahi oleh siapapun yang memiliki minat yang tinggi terhadap berbagai informasi dengan membaca buku-buku yang tersaji. Namun kini tidak jarang beberapa perpustakaan terlihat sangat sepi, bahkan beberapa diantaranya terpaksa gulung tikar dan menjual semua koleksi buku-buku yang tersedia. Pelbagai alasan menjadi sebab sepinya pengunjung perpustakaan; seperti koleksi buku yang usang, tidak lengkap, pelayanan kurang ramah, hingga sulitnya mencari buku yang tersedia meski tercatat dan tertata dalam rak yang rapi.

Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang sangat pesat telah mengubah cara dan budaya masyarakat dalam mencari informasi. Mereka tidak lagi harus berkunjung ke ruang-ruang perpustakaan yang terkadang terasa membosankan, tetapi cukup dengan menyibakkan jari-jarinya dalam handphone yang telah terkoneksi dengan internet dan semua informasi yang dibutuhkan akan datang tanpa kesulitan mencari dimana peletakkannya, biayanya, bahkan dari informasi belahan dunia manapun bisa didapat dengan mudah dan cepat.

UNY sebagai lembaga pendidikan yang mempunyai kemauan yang kuat untuk menjadi salah satu perguruan tinggi berkualitas dunia harus bisa menyesuaikan diri dengan kemajuan teknologi. Salah satunya adalah melakukan digitalisasi perpustakaan agar informasi yang tersedia di perpustakaan memiliki jangkauan yang tidak terbatas dan memilikin aksesbilitas yang tinggi oleh pengguna perpustakaan dari dosen hingga mahasiswa. Ide digitalisasi perpustakaan akan segera terwujud dengan dibangunnya gedung digital library yang direncanakan akan dibangun di sisi utara gedung perpustakaan UNY.

Mengusung konsep non konvensional atau digital library, perpustakaan baru tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas sivitas akademika di lingkungan UNY dan sekitarnya dalam mengakses perpustakaan. Ditemui tim PEWARA DINAMIKA Senin, 17/07/2017, direktur IDB Slamet Widodo mengungkapkan konsep non konvensional tersebut diharapkan mampu memberi kenyamanan bagi pengunjung perpustakaan nantinya. “Konsepnya memang perpustakaan non konvensional. Semua koleksi basisnya digital; e-book, e-journal, (semuanya dapat) diakses dengan fasilitas 300 komputer, disediakan dana oleh pemerintah Indonesia semua dan dijamin bagus. Konsepnya seperti kafe digital. Kita desain nyaman dan kursinya empuk komputernya bagus lah. Kita tata non konvensional dan anda tidak akan lihat buku. Ada meja, kursi, dan komputer. Tidak klasikal.  Koleksinya serba digital. Termasuk skripsi sampai disertasi kita digitalisasikan,” jelasnya.

Menurutnya biaya perawatan perpustakaan digital dinilai lebih murah. Selain itu, dapat dimanfaatkan dalam jangka waktu yang lebih panjang. Meski demikian lebih lanjut ia menambahkan bahwa perpustakaan lama akan tetap ada dan terkoneksi dengan perpustakaan digital. “Lebih murah secara biaya perawatan dan manfaatnya bisa lebih panjang. Anda bisa search keywoard begitu saja atau klik sitasi dan daftar pustaka, langsung muncul itu dokumen baru. Tidak perlu mencari lagi seperti perpus biasa. Meskipun begitu, perpustakaan lama tetap kita pertahankan. Kita akan buat connecting bridge jadi perpus digital dan perpus biasa akan nyambung. Secara administratif pun tetap jadi satu sejauh ini, UPT Perpustakaan UNY,” tuturnya.

Direncanakan digital library tersebut memiliki luas bangunan 3446 m2., Dengan konsep empat lantai dengan luas per lantai mencapai 861.5 m2. Gedung tersebut nantinya akan dibagi menjadi beberapa ruangan antara lain; ruang penyimpanan softfile, ruang belajar individual dan kelompok, serta ruang seminar yang dilengkapi dengan fasilitas teknologi digital terbaru. “Di lantai empat itu ada conference room. Terhubung internet berkecepatan tinggi, kapasitas 350 orang, Bisa teleconference dengan universitas di luar negeri, tarafnya internasional. Proyeksinya internasional,” ungkapnya.

Sementara itu, prinsip desain yang digunakan antara lain lingkungan belajar kondusif, keberlanjutan lingkungan, serta mengusung budaya lokal. Dengan prinsip lingkungan belajar kondusif, dengan lingkungan yang baik, diharapakan akan berpengaruh pada kegiatan pembelajaran. Lingkungan yang baik dapat menciptakan lingkungan akademik yang inovatif melalui kegiatan individual (quiete use space) dan kegiatan kelompok (gathering space). Rencana pembangunan gedung serba digital juga sejalan dengan program paperless yang diusung UNY saat ini. Hal tersebut sesuai dengan prinsip desain kedua program pembangunan ini. Desain bangunan nantinya juga mengusung konsep budaya lokal yang menjadikan gedung memiliki nilai lebih.

Ditanya mengenai lahan parkir, Slamet merencanakan akan membangun gedung parkir di sisi barat gedung perpustakaan. “Ya kita pindah. Lahan itu dipakai digital library. Di barat perpus. Antara perpus dengan tenis indoor, akan dibangun gedung parkir 4-5 lantai. Sumber dananya bukan IDB. Di luar proyek ini. Dari Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) UNY dan sebagai komitmen kampus” ungkapnya.

Di tempat berbeda, Sutrisna Wibawa mengungkapkan hal senada. Rektor yang dulu juga menjabat direktur IDB tersebut berharap perpustakaan digital dapat menjadi ikon UNY nantinya. “Kita juga akan punya digital library. Perpustakaan tanpa buku cetak. Berbagai dokumen soft copy saja. Bisa diakses sivitas mahasiswa dan dosen. Saya berharap ini jadi ikonnya UNY menjadi WCU,” katanya.

Selanjutnya ia juga memiliki harapan besar adanya peningkatan dalam hal publikasi ilmiah. Poin tersebut penting mengingat menjadi salah satu indikator universitas kelas dunia. “Digital library itu sesuai dengan perkembangan dunia kita yang mengarah ke pesatnya dunia maya, internet, dan lewat digitalisasi kita bisa melalang buana keliling dunia. Dokumen, skripsi, tesis, disertasi, itu kita ubah jadi soft copy. Bisa dijadikan bahan riset dosen. Itu sangat penting program IDB bagi pengembangan WCU. Kita tidak perlu lagi bawa buku berat dan susah. Tinggal di genggaman tangan sudah ada penelitian kita. Dan penelitian itu nantinya bisa terakses global malah jauh lebih baik. Fasilitas digital library ini nanti lengkap,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here