“Bejibun torehan prestasi UNY merupakan hasil akumulasi perjuangan banyak pihak. Tahun 2018 terus berkomitmen melejitkan performa. Konsolidasi civitas akademia kunci utama”

Kalender berganti, semangat baru, bukan hanya status media sosial yang acap dinarasikan generasi milenial. Bagi UNY, tahun baru membawa harapan anyar. Apalagi warta baik telah viral sebelum tutup tahun.

Kampus negeri berbasis kependidikan di Yogyakarta itu kini mentereng di peringkat ketiga versi 4 Internal Colleges and Universities (4ICU). Sedangkan menurut Top 25 Universities in Southeast Asia 2018, UNY rangking 12, mendahului Singapore Management University (13) dan Chulalangkorn University (14).

Prestasi numerik, menurut Wakil Rektor I, Prof. Dr. Margana, M.Hum., M.A., perlu dimaknai lebih dalam. Di balik angka membanggakan itu tersirat rekam jejak perjuangan banyak pihak.

Margana melihatnya sebagai kesungguhan UNY untuk terus-menerus meningkatkan kualitas akademiknya. “Tentunya kualitas yang dimaksudkan disesuaikan dengan standar internasional,” katanya.

Sosialisasi program dan profesi bagi mahasiswa mancanegara menjadi prioritas UNY di kawasan ASEAN. Modal eksternal itu juga didukung kualitas sarana dan prasarana UNY yang mulai terstandardisasi internasional.

Margana meneroka demikian sebagai perimbangan antara citra dan kualitas. “Di samping terus mengenalkan UNY, kita juga harus meningkatkan mutu pendidikan.”

Eskalasi kualitas akademik masih diprioritaskan Margana pada 2018. Ia ingin UNY naik peringkat. Baik di level nasional maupun internasional. Setidaknya, bagi Margana, rangking yang telah disabet terus dipertahankan. “Yang perlu perjuangan itu menjaga prestasi dan posisi,” jelasnya.

Tahun 2018 Bidang Akademik memiliki ketentuan bagi tiap lulusan agar menjadi sarjana plus. Selain punya ijazah, ia diharapkan memiliki sertifikasi kompetensi. “Misalnya sertifikat keterampilan khusus seperti tari, musik, rupa, jurnalistik, teknik, akuntansi, dan lain sebagainya,” ujar profesor linguistik ini. Sertifikat ini dikeluarkan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP).

Agar mendapatkan sertifikat itu mahasiswa harus lolos uji kompetensi. Masing-masing Prodi, karenanya, akan memiliki Tes Uji Kompetensi (TUK) bidang tertentu. Adanya sertifikat ini diharapkan lulusan UNY diakui secara profesional di dunia kerja.

Terutama menyangkut keahlian khusus. Bila ijazah memberi pengakuan universal, sertifikat kompetensi mencitrakan kecakapan partikular.

Akreditasi A yang disabet UNY belum lama ini menandakan hasil kerja keras civitas akademika. Tapi predikat demikian belum final. “Kita masih harus mempercepat akreditasi. Dari 102 Prodi, sebanyak 60 Prodi terakreditasi A,” ujarnya.

Margana menargetkan tahun ini minimal lima Prodi naik predikat. “Sekalipun yang diakselerasi bisa 15 Prodi. Tapi kan semua butuh proses.” S-1 hingga S-3 sama-sama diutamakan. Margana tak menginginkan berat sebelah. Semua diprioritaskan dalam peningkatan akademik.

Akreditasi berpengaruh terhadap penyelenggara PPG. Pemerintah mengutamakan Prodi berstatus A sebagai pelaksana PPG tiap bidang. “Tahun 2017 kami mengusulkan 37 Prodi pendidikan sebagai penyelenggara. Sekarang sudah ada 27 Prodi terakreditasi A. Yang 10 masih B. Tahun ini semoga bisa semua,” ungkap Margana.

“Publikasi jelas,” tegas Margana, “dan akan terus menjadi concern kami.” Bimbingan pra-Scopus yang dicetuskan Rektor UNY sejak tahun lalu akan terus digencarkan. Pembinaan artikel ilmiah terbaik, mulai dari penerjemahan hingga insentif, niscaya digenjot. Ini karena atensi dosen untuk publikasi internasional tahun 2017 semakin meroket tiap bulannya.

Senada dengan dorongan publikasi jurnal terindeks, tahun ini UNY mengadakan 28 seminar internasional yang terintegrasi. “Seminar ini diorientasikan untuk dosen, mahasiswa, peneliti, dan umum. Mereka diharapkan produktif usai mengikutinya,” harapnya. Margana menyebut strategi seminar dan publikasi ini sebagai kesungguhan UNY terhadap student mobility dan staff mobility.

Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) tak luput dari perhatian. HAKI berpaut erat dengan produktivitas dan kualitas publikasi dosen. Jika karya ilmiahnya mengandung kebernilaian empiris sekaligus kebaruan praktis, potensi dipatenkan semakin besar. “Selama tahun 2017 sudah terdapat 350 judul yang dipatenkan. Tahun ini kami menargetkan 350 judul,” tuturnya.

Selama menjabat sebagai Wakil Rektor I, Margana optimis menggolkan 1000 HAKI dan 1000 buku. “Visi saya one lecture, one book. Kita kan punya 1060 dosen. Jadi, hal itu sangat mungkin,” ujarnya. Tekad Margana menginduk pada salah satu poin visi-misi Rektor UNY mengenai pencitraan akademik.

“Tahun ini harus lebih kencang lagi risetnya. Karena itu, kita akan dikenal di dunia internasional. Bukan sekadar membangun repurtasi dan popularitas, melainkan juga terkenal karena kontribusi kita bagi dunia akademik,” kata Prof. Dr. Sutrisna Wibawa.

Kesenjangan antara produktivitas menulis dan beban mengajar disiasati Margana. Masalah klasik ini ia jawab dengan memutuskan agar dosen mengajar maksimal 16 SKS. “Ini supaya dosen bisa membagi waktu secara maksimal. Baik meneliti maupun mengajar,” tutupnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here