Home REKTOR MENYAPA Pendikan Karakter Generasi Millennial

Pendikan Karakter Generasi Millennial

169
0

Sudah menjadi pengetahuan publik bahwa kini generasi muda Indonesia memasuki zaman yang penuh lompatan kebudayaan. Zaman itu dikenal dengan Zaman Millennial. Generasinya pun akrab disapa Generasi Millennial. Suatu istilah yang diciptakan dua pakar sejarah Amerika, yakni William Strauss dan Neil Howe.

Generasi Millennial atau Generasi Y (GenY) adalah generasi yang lahir setelah Generasi X, sekitar tahun 1980-an hingga 2000-an. Itu artinya saat ini mereka rata-rata berusia di bawah 36 tahun. Mayoritas dari mereka adalah peserta didik dari jenjang SD hingga SMA. Bahkan, diprediksi dua tahun ke depan, tahun 2020 mereka telah mencapai 50% dari total penduduk Indonesia.

Mereka tumbuh di era pergantian abad yang penuh transformasi budaya dan gaya hidup. Lihat saja mereka lahir di saat TV sudah berwarna dan memakai remote, setiap saat tidak bisa lepas dari smartphone, selalu terkoneksi dengan internet kapan pun dan di manapun, eksistensinya amat ditentukan oleh follower dan like, latah dengan aneka ragam #hastag, sedikit-sedikit live, senang membuat viral, senang berdebat di media sosial, dan sebagainya.

Pertanyaaannya, bagaimana persoalan pendidikan karakter bagi Generasi Y ini? Seiring dengan proses itu, maka pendidikan literasi media digital atau media sosial adalah hal yang tak bisa diabaikan dalam implementasi pendidikan karakter. Mengapa demikian? Karena literasi media digital ataupun media sosial, tanpa mengabaikan pentingnya pendidikan literasi lainnya, memberi ruang kepada generasi millennial untuk memahami diri, kondisi lingkungan, kondisi budaya, dan tantangan yang akan dihadapi, serta bagaimana menyingkronkan elemen-elemen tersebut tanpa harus menanggalkan nilai-nilai Pancasila sebagai landasan hidup bangsa Indonesia.

Oleh karena itu, penerapan nilai-nilai karakter seperti religius, jujur, toleran, disiplin, bekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan bertanggung jawab; yang dalam revolusi mental disederhanakan menjadi tiga nilai dasar, integritas, kerja keras, dan gotong royong, haruslah disesuaikan dengan ruh zaman millennial. Ia tak bisa lagi diterapkan dalam konteks Generasi X ataupun generasi masa lalu. Bagaimanapun, teks millennial tak bisa dipisahkan dari konteksnya. Sebagai contoh sederhana, saat belajar peserta didik didisiplinkan tidak menggunakan smartphone, saat makan bersama tidak boleh ber-HP ria, mengedukasikan posting yang penting bukan yang penting posting, dan hal-hal sederhana lainnya.

Jika literasi media digital ataupun media sosial sudah menjadi habitus di lingkungan pendidikan melalui program pendidikan karakter, maka pada tahun 2045 di saat usia kemerdekaan mencapai 1 abad, generasi muda Indonesia akan menjadi Generasi Millennial yang tangguh dan dapat mengolah harmonisasi kecerdasan olah pikir, olah hati, olah rasa atau karsa, dan olahraganya. Di saat itulah Generasi Millennial yang telah mencapai 100 persen jumlah penduduk Indonesia dapat membuktikan diri sebagai generasi inovatif, kreatif, dan bijak dalam menggunakan kemajuan teknologi demi Indonesia Emas.

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here