Musyawarah Mufakat Dalam Penganugerahan Gelar

 

Senat sebagai otoritas akademik tertinggi di UNY, pada  secara bulat menyatakan sepakat menganugerahkan gelar Doktor Honoris Causa.

 

—-

 

Rabu (24/07) siang, Prof. Sutrisna Wibawa menghadap ke Kantor Gubernur DIY di Kepatihan Malioboro. Ia tak sendiri. Bersamanya ada Prof. Suminto A. Sayuti selaku Guru Besar FBS, dan para pimpinan UNY lainnya.

 

Yang disampaikan kepada Sri Sultan Hamengkubuwono X pada hari itu, adalah kehendak UNY untuk menganugerahkan gelar Doktor Honoris Causa. Gelar yang telah disepakati oleh Senat UNY sebagai otoritas akademik tertinggi di universitas, dan kini hendak disematkan pada Sri Sultan.

 

“Anugerah ini telah disepakati oleh Senat. Pemberian penghargaan ini yang melihat dari kami, yang menilai dan merasakan kami, Ngarsa Dalem (Sultan HB X) nyumanggaaken(mempersilahkan),” ungkap Sutrisna kepada wartawan di Kepatihan.

 

Dilatari Pemahaman Budaya

 

Kesepakatan senat tersebut, ungkap Sutrisna, karena UNY memandang kiprah Sultan dalam pengembangan karakter bangsa tidak main-main. Salah satu bukti dari konsentrasi Sultan pada pendidikan karakter ini seperti lahirnya Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta nomor 5 tahun 2011 tentang  Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan Berbasis Budaya.

 

Sutrisna menuturkan pijakan dari lahirnya perda itu adalah budaya asli tanah Mataram. Budaya itu kemudian dikembangkan dan disesuaikan dengan perkembangan zaman, tanpa meninggalkan akarnya. Selain itu, pola pendidikan karakter yang dikembangkan dan dilaksanakan oleh Gubernur DIY, selalu berbasis kebudayaan. Meskipun asupan budaya eksternal masuk, tetapi akar harus terus dikuatkan.

 

“Peran Gubernur DIY dalam Manajemen Pendidikan Karakter Bangsa sangatlah besar,” papar Sutrisna.

 

Sultan HB X dalam amanah yang diembannya sebagai gubernur dan raja, juga sekaligus menjadi maskot bagi kearifan lokal. Utamanya dalam mengelola berbagai persoalan sosial budaya, termasuk upaya pembentukan karakter.

 

“Beliau tidak ingin bangsa kehilangan identitas kulturalnya. Bangsa jangan melecehkan culturebudaya. Sampai tadi Ngarso Dalem memberi contoh di Korea ya yang kehilangan identitas, semuanya jadi tren modern. Gubernur DIY menurut kami telah membuktikan kompetensinya dalam upaya mewujudkan pendidikan karakter berbasis budaya,” ungkap Sutrisna.

Diusulkan sejak 2018

 

Atas data-data tersebut, Prof. Suminto A. Sayuti dan Prof. Sugiyono mengusulkan penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa ke Senat UNY. Momennya sekitar awal tahun 2018. Kebetulan keduanya merupakan rekan akrab, dan sama-sama berstatus sebagai anggota senat.

 

“Prof. Sugiyono dari Fakultas Teknik, bidangnya manajemen pendidikan. Saya dari FBS. Kita sama-sama di Senat dan mengusulkan itu sebagai copromotor,” ungkap Suminto.

 

Pengusulan kemudian berlangsung dengan pembentukan tim kajian akademik. Dilihat dan dikumpulkanlah, semua karya-karya Sri Sultan. Berbagai event, baik nasional, internasional, mau pun di Jogja sendiri. Tim juga mengumpulkan karya akademik Sri Sultan layaknya buku dan artikel, sekaligus mendata pencapaian pemerintahan yang sudah dicapai Sri Sultan sejak menjabat sebagai gubernur DIY pada 1997.

 

“Tim akhirnya memutuskan setuju (pada usulan Doktor HC),” imbuh Suminto.

 

Setelah disetujui tim kajian, usulan dibawa ke rapat senat. Senat terdiri atas seluruh guru besar di UNY, ditambah perwakilan dua dosen dari setiap fakultas. Rapat kemudian dilakukan berjenjang. Mulai dari Komisi A yang berisi sebagian anggota senat dan memang membidangi akademik, sampai sidang pleno yang berisi seluruh anggota senat.

 

Dalam kedua sidang, penganugerahan Doktor Honoris Causa disetujui dengan musyawarah mufakat. Salah satu alasannya, penganugerahan tersebut sesuai dengan visi misi UNY. Sekaligus marwah sebagai kampus kependidikan yang memiliki motto memimpin di bidang pendidikan karakter (leading in character education).

 

“Pembahasan dilakukan dua tingkat. Di komisi, dan di pleno. Alhamdulillah disetujui, karena dilihat bahwa usulan kami berdasarkan kiprah Ngarsa Dalemdi bidang pendidikan karakter berbasis budaya. Sesuai dengan UNY,” imbuh Suminto.

 

Melalui kesepakatan tersebut, Prof. Zamzani selaku Ketua Senat mengucapkan selamat. Penganugerahan ini diharapkan tidak menjadi akhir dari upaya Yogyakarta sebagai benteng sekaligus sentra pengembangan budaya. Namun menjadi bukti pengakuan sekaligus pelecut agar pendidikan karakter berbasis budaya berlangsung lebih luas lagi.

 

“Kami mengucapkan selamat kepada Sri Sultan Hamengku Buwono X atas penganugerahan Doktor Honoris Causa dari UNY. Semoga pendidikan karakter berbasis budaya dapat terus dikembangkan,” pungkas Zamzani.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here