MENJADI aktivis mahasiswa tentunya takkan jauh-jauh dengan menyuarakan aspirasi. Jika menilik buku Political Phsycology (Mastors, Cottam, 2004), beragam alasan melatarbelakangi aksi penyampaian aspirasi tersebut. Baik karena menyuarakan penderitaan pribadi, orang lain, maupun karena terkekang lingkungannya (dalam hal ini dinamika perpolitikan mahasiswa) yang memaksa dia mau harus melakukan aksi jika tak ingin kehilangan legitimasinya. Semua tindakan tersebut adalah rasional menurut motivasi dan stimulusnya masing-masing.

Namun menurut Kindleberger, aktor dan sikap yang rasional jika dilakukan secara kolektif justru bisa menghasilkan dampak dan outcome yang irasional. Disinilah aktivis mahasiswa biasanya terjebak dengan demonstrasi dan justru tidak berkontribusi bagi kemajuan kampusnya maupun memperkeruh kehidupan berbangsa. Berikut kemudian tips yang semoga dapat menjadi usulan saya bagi mahasiswa dalam melakukan gerakan:

 

  1. Coba sampaikan secara langsung

Ada sebuah filosofi Jawa ngelmu pring yang merefleksikan keberadaan Pohon Bambu. Filosofi yang kemudian di replika ulang oleh Jogja Hip Hop Foundation dalam salah latu lagunya.

Pesan dari filosofi itu berupa “Pring Petung, urip iku senajan suwung nanging ojo suwung podo nganti bingung…” Bahwa hidup memang selalu dipenuhi masalah, tapi jangan sampai masalah membuat kita semakin bingung, suntuk, dan merasa sendiri. Menjalin silaturahmi, jika dimungkinkan, menjadi salah satu opsi yang paling baik. Memang sulit dan pemimpin pastinya punya kesibukan yang luar biasa. Tapi tentu tiada yang salah dari mencoba dengan sekedar membuat janji pada yang bersangkutan atau melalui sekretaris pribadinya. Dan menyampaikan secara diplomatis dan penuh kehangatan di era demokratis ini.

 

  1. Tempatkan diri sebagai Ngangsu Kawruh

Sebagai sosok yang lebih muda, maupun jabatan yang lebih rendah, tentu akan selalu ada pengetahuan maupun dilema kondisi yang belum kita pahami secara utuh. Masing-masing pihak juga memiliki perspektif yang berbeda atas ragam fenomena. Disini menjadi penting bagi kita untuk mengosongkan gelas dan ngangsu kawruh (mencari ilmu). Dari memahami karakter dan pandangan lawan bicara, kita bisa memahami bagaimana selayaknya bersikap atas suatu fenomena.

 

  1. Pilih metode aktivisme selain Demonstrasi

Gene Sharp sebagai pemerakarsa studi perdamaian telah mengidentifikasi 199 metode aksi nirkekerasan dalam proses aktivisme. Dan ternyata, demonstrasi dengan pekikan toa hanyalah satu diantaranya. Ada beragam metode diplomasi yang lebih baik dan bisa menjadi opsi untuk dipelajari alih-alih sekedar demonstrasi.

 

  1. Lengkapi Data, Fakta, dan Kompetensi

Dukung pandanganmu dengan kondisi riil di lapangan dan kajian komprehensif. Jangan sampai hanya sekadar nyaring tapi tak berisi. Keberadaan ketiganya akan membuatmu lebih disegani dan dihormati. Apalagi, jika kamu telah lama menekuni dan kompeten di bidang tersebut. Misalnya, juara arsitektur mengkritisi masih kurangnya lahan terbuka hijau.

 

  1. Beri masukan atas sistem dan kebijakan, bukan pribadi

Inilah yang menjadi poin terakhir paling penting. Banyak aktivis yang menyerang karakter individu, bukan masukan berbobot atas sistem dan kebijakan. Hal ini justru kontraproduktif dan tidak sesuai dengan cita-cita tuntutan yang dibawa. Karena Gandhi pernah berkata, perjuangan idealis harus dilawan dengan cara yang idealis dan nirkekerasan sejak dalam pikiran pula.

 

Salam bina damai,

Ilham Dary Athallah*

 

*Hubungan Internasional UGM Angkatan 2016

Reporter KR Group, aktif mendalami demonstrasi dan aktivisme agraria di DIY

Pernah wawancara eksklusif dengan Djarot Syaiful Hidayat dan Anies Baswedan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here