WAWANCARA KHUSUS : Chief Editor Jurnal Telkominka, Kepala Lembaga Penerbitan dan Publikasi Ilmiah (LPPI) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta

Bagi Tole Sutikno, menjadikan Telkominka jurnal terbaik negeri ini takkan berarti apa-apa tanpa refleksi bagi sesama.

Kehangatan Makassar dan seremonial penuh haru ketika menerima penghargaan tersebut ditengah malam puncak Hari Kebangkitan Teknologi Nasional 2017, secara langsung dari Dirjen Moh. Dimyati, hanyalah pemanis semata. Karena hakikat kemenangan sejati menurut Tole, adalah momentum ketika ia bisa memahat sejarah dan membuktikan, bahwa dunia riset Indonesia tak lagi dikuasai kampus-kampus itu saja. Sembari menampar para raksasa ilmuwan bangsa yang menurutnya sedang tertidur dan berada di zona nyaman, untuk segera bangun dan sama-sama bahu membahu membangun negeri dengan pengembangan IPTEK.

 

Kepada Redaktur Pewara Dinamika, ILHAM DARY ATHALLAH, Tole kemudian berkisah bagaimana upayanya merintis Jurnal Telkominka sejak awal tahun 2003 hingga kini berada dalam pemeringkatan Scopus Kuartil 3. Termasuk bagaimana tantangan yang dihadapi UAD semasa perkembangan, serta kiatnya dalam mengarungi jalan terjal untuk membangun sebuah jurnal menjadi yang terbaik di seantero negeri. Untuk menjadi rujukan bagi upaya UNY maupun seluruh kampus di negeri ini, agar mendaki pemeringkatan Scopus dan terbangun dari tidurnya.

 

 Bagaimana kisah pertama kali UAD merintis Jurnal Telkominka?

 

Sebenarnya Telkominka pertama kali dibangun dengan energi kita-kita yang masih muda dan gemar riset. Saya saja, waktu itu masih cuma bergelar sarjana. Jadi dengan energi itulah pada 2003 dimulailah jurnal Telkominka. Dengan tujuan, menampung karya-karya dosen di Internal UAD. Utamanya dari konsentrasi telekomunikasi, komputasi, elektronika, dan kendali, yang keempatnya merupakan konsentrasi yang tersedia di UNY.

 

Dan empat konsentrasi itu, kemudian kita singkat namanya. Jadilah Telkominka. Ketuanya pada awal itu Pak Sunardi, Ketua Lab yang gelarnya S2 dari ITB. Karena gelar-gelar akademik yang serba terbatas itulah, kita pada waktu itu masih minim informasi. Scopenya nasional saja, dan pokoknya terbit. Pada 2005, barulah saya pegang sebagai kepala editor jurnal karena Pak Nardi naik menjadi Kaprodi.

 

Lalu, langkah apa yang dilakukan Pak Tole di awal jabatan?

 

KIta targetkan akreditasi nasional. 2007, kita ajukan jurnal ini ke Ditjen Dikti untuk verifikasi. Tapi jangankan dinyatakan tidak lolos, ditanggapi saja pengajuan kami pun tidak. Dari pengalaman itu kita evaluasi diri, instropeksi lah.

 

Namun alih-alih berfokus pada tugas sebagai kepala jurnal, saya justru waktu itu memutuskan untuk melanjutkan studi. S2 di UGM, lalu S3 di UTM. Begitupula dengan rekan-rekan saya yang sebagai editor jurnal ini. Semuanya sekolah. Kebetulan saja, kita semua sekolahnya satu lokasi. Di Universitas Teknologi Malaysia. Jadi dari negeri Jiran, kita mengelola jurnal ini untuk terbit rutin. Sering menyempatkan di sela-sela kesibukan untuk saling bertemu, maupun saling berkontribusi via milis.

 

Bagaimana kiatnya menyeimbangkan antara studi dengan mengelola publikasi?

 

Keduanya tidak saling menegasikan. Justru karena kita di kampus, apalagi kampus luar negeri, atmosfer akademiknya lebih terasa. Kita selalu dituntut publikasi. Dituntut menulis yang baik. Akhirnya dalam kita mengelola jurnal ini, kita mempraktekkan apa yang kita dapatkan di kampus.

 

Termasuk, dalam memahami bahwa menulis artikel itu tidak mudah. Jadi kita juga kalau mengkritik tulisan orang untuk perbaikan atau penolakan, ya yang halus dan tak terlampau tajam. Serta karena kita banyak baca artikel terbaru karena juga sedang studi, kita bisa memberi masukan konstruktif pada para penulis. Mana kira-kira artikel yang terbaru yang bisa dikutip dan dijadikan rujukan.

 

Lalu, sejak kapan Jurnal Telkominka ini berakreditasi nasional?

  1. Kisahnya pun tidak ringan ini. Saya waktu itu belum selesai S3, sudah diujung tanduk karena menjelang tahun keempat. Dan pengajuannya harus menyerahkan berkas tumpuk-tumpuk itu secara hardcopy.

 

Tahap awal, kita mengumpulkan berkas jurnal dan berkas-berkas pendukung. Dibuatkan berita acara. Lalu ada semacam pembekalan dan briefing evaluasi awal. Ada empat pilihan yang terhidang untuk tiap-tiap jurnal yang mendaftar selepas evaluasi itu: dinilai tanpa perbaikan, dinilai dengan perbaikan, ditunda setahun, atau dibatalkan pengajuan akreditasinya.

 

Nah pada saat itu, asesor sudah mengatakan bahwa kita yang dimasukkan dalam bidang jurnal engineering ini dia sebut tidak akan lolos. Sedangkan JUTI milik ITS dan Jurnal milik Perhimpunan Teknik Sipil Indonesia, sebagai dua jurnal yang juga sama-sama mendaftarkan diri untuk akreditasi, diprediksi lolos. Saran itu sebenarnya meremehkan karena basisnya subyektif sang asesor, alih-alih obyektif. Padahal yang saya lihat saat itu, jurnal ini variatif secara keilmuan dan secara kriteria penilaian saya yakin lolos.

 

Kenapa anda menganggap penilaian itu subyektif?

Ya itu rahasia dapur lah. Tapi hal tersebut saya sampaikan langsung ke hadapan sang asesor. Bahwa Telkominka dikelola profesional, dan punya akses pustaka apa saja di dunia. UAD, walau kampus swasta, juga berlangganan jurnal seantero dunia!

 

Tapi kita tidak kemrungsu. Kita ambil opsi tetap melanjutkan penilaian dengan perbaikan, dan mengikuti saran yang diberikan asesor. Lalu ketika menyerahkan perbaikan, saya dari Johor (lokasi kampus UTM), menyebrang dulu ke Singapura. Terbang dari Changi, tapi tidak langsung ke Surabaya (lokasi penyerahan jurnal). Namun ke Yogyakarta dulu.

 

Sesampai saya di Yogya, saya mengurus UAD dan beberapa prasyarat administrasi di kampus. Lalu, saya berangkat naik bis ke Lamongan. Tidak langsung ke Surabaya, karena saya waktu itu merasa perlu sungkem dulu ke orang tua di Sumbersari, Lamongan. Mohon doa restu atas apa yang akan saya hadapi di Surabaya nanti. Barulah setelah itu saya naik mobil pribadi ke Surabaya.

 

Hasil akreditasinya?

Prediksi saya akhirnya benar. Jurnal Telkominka lolos dengan nilai cukup bagus. Minimalnya 70, kita dapat 74,25, akreditasi B! JUTI miliknya ITS, malah nggak lolos lho. Teman-teman di UAD saja pada awalnya tidak percaya, karena walau pengumuman resminya Juli 2011, waktu bulan April itu saya sudah dapat info A1 dari seseorang. Memberi tahu saya kalau UAD lolos.

 

Lalu, bagaimana perjuangan setelah jurnal Telkominka berakreditasi nasional?

 

Alih-alih bersantai, kita justru merasa sayang kalau jurnal ini berhenti sampai di tahapan ini. Kita go public. Banyak tulisan datang ke kami. Dan studi S3 saya justru makin lama karena kita terpacu untuk mengembangkan lagi.

 

Pengelola kemudian menegaskan, bahwa Telkominka jangan berhenti jadi konsumsi nasional juga. Tapi harus internasional! Pikiran orang sedunia, dibanding orang senegara, pasti lebih mantap sedunia kan?

 

Akhirnya kita paksakan. Juni 2010 kita keluarkan pemberitahuan, bahwa kita tidak mau lagi menerima artikel berbahasa Indonesia pada tahun 2011. Selama 2010, masih boleh campur Indonesia-Inggris. Alih-alih makin sedikit yang nulis, justru kita menerima tulisan lebih banyak. Akademisi Indonesia pun ternyata yang tulisannya di bahasa Inggriskan juga nggak kalah mantap.

 

Kita juga pasang branding. Sebagai “The Indonesian Journal of Electrical Engineering,” Padahal ada saingannya jurnal punya ITB yang sama persis. Tapi kita tidak takut. Dan sejarah akhirnya membuktikan tulisan akhirnya datang dari penjuru dunia ke UAD. Amerika, Bangladesh, Nigeria, dan banyak lagi!

 

Puncaknya, 2013 kita mengajukan dana hibah jurnal internasional ke Kemristekdikti. Disetujui walau dianggap tidak lazim, karena saingan kita itu kampus top kayak UI, UGM, Unpad, dan ITB. Akhirnya UAD membuktikan, Telkominka masuk Scopus kuartil 3. Tiap tahun peringkat kita terus naik, walau masih di dalam kuartil 3 terbaik sedunia.

 

2016, kita ada di peringkat kedua jurnal terbaik negeri ini. Dan 2017, kita juara!

 

Bagaimana sebenarnya filosofi UAD dalam mengembangkan jurnal, hingga bisa berakreditasi internasional dan mengalahkan PTN ternama di Indonesia?

 

Sebelum filosofi itu muncul, latar belakang perjuangan sebenarnya seperti apa yang saya sebut tadi. Saya mengemban tugas untuk terus mengembangkan jurnal. Tapi posisi saya studi S3 pada waktu itu cukup kritis. Secara waktu yang sudah mau DO, dan juga biaya. Jadilah akses internet yang relatif cepat di Malaysia, membuat saya streaming youtube untuk cari referensi hidup. Ceramahnya Aa Gym, Yusuf Mansur, dan Mario Teguh jadi rujukan saya waktu itu untuk menenangkan hati.

 

Disitulah saya sadar dan mendapatkan spirit hidup. Ibaratnya dalang, jurnal teknologi punya ITB dan kampus-kampus top itu laksana Ki Anum Suroto atau Ki Manteb Sudarsono. Mereka memang orang hebat, terlahir hebat, dan akan senantiasa jadi hebat. Profesor-profesor ngumpul disana. Muridnya pun anak-anak terbaik negeri ini. Mahasiswa S2 dan S3 nya banyak dan jaminan mutu. Sedangkan sini kan, cuma UAD.

 

Tapi walau kita nggak bisa jadi Ki Manteb, kita ini kan tetep bisa jadi Ki Enthus Susmono. Yang eksentrik, agak keluar pakem, tapi tetap mantap. Itulah strategi dalam hidup dan strategi mengembangkan jurnal yang akhirnya saya terapkan. Zig-zag, out of the box. Keluar paugeran lah ya intinya.

 

Pesan dari para pimpinan di UAD juga cukup clear. Jangan mau ngantri di balik bayang bayang raksasa itu. Istilahnya kita ini jalan ke Gunungkidul, jalannya sempit dan kampus-kampus kayak UGM, ITB, maupun LIPI ini, truk tronton semua. Tapi sopirnya ngantuk dan jalan pelan-pelan karena sudah nyaman di paling depan. Bahkan sekelas LIPI ini, belum punya jurnal top hingga sekarang. Padahal dia gudangnya orang-orang hebat negeri ini. Makanya, kita UAD ini akhirnya ngeblong dong! Masa ngekor terus.

 

Bagaimana tips dan kiat mengembangkan Jurnal menurut Pak Tole?

 

Membangun networking jadi poin yang utama. Kampus maupun institusi pendidikan yang besar, punya SDM berupa Profesor dan mahasiswa terbaik dari penjuru negeri. Pasti terjamin dan lancar menulis artikel. Tapi tidak semua dari kita punya privilege tersebut, termasuk UAD. Networking kemudian jadi kunci. Semua kenalan, saat kita studi bareng, para pengajar kita ketika kuliah, join lah penelitian pada mereka. Dekati dan kontak dari hati ke hati.

 

Tapi, membangun networking tersebut tidak akan berguna kalau kita tidak membangun trust dan image diri dengan baik. Kita harus bisa jadi jurnal yang dipercaya. Terbit rutin, serta obyektif dalam seleksi. Jangan sampai, kita pilih kasih nerbitin artikel yang kurang baik hanya karena mereka teman kita.

 

Dan yang paling penting, adalah setiap pengelola jurnal harus punya target dan sering membaca. Baca, baca, baca! Kelak kita akan memiliki cakrawala pandang yang luas. Gaya penulisan yang dinamis. Dan pengetahuan yang up to date. Untuk mengarahkan, bahwa kemana jurnal yang kita kelola ini akan berlabuh kelak dengan target yang kita tetapkan.

 

Harapan Pak Tole untuk pengembangan jurnal UNY dan seluruh institusi pendidikan di negeri ini, dalam upayanya mengejar pemeringkatan Scopus?

 

Kita berharapnya dari aksi gas pol rem blongnya kita di UAD ini, semoga bisa membangkitkan para raksasa yang sedang tidur. Agar tidak terus merasa nyaman dan merasa terbaik di negeri ini, tapi terus berkompetisi secara sportif dan sehat untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Mari riset tiada henti dan terus semangat. Makin banyak karya anak bangsa, Indonesia akan lebih terpandang dan berkontribusi bagi kemajuan umat manusia seantero dunia.

 

Jadi, mari membangun Indonesia lewat karya kecendekiaan!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here