Dengan asa PTNBH, mahasiswa UNY terus didorong untuk berprestasi. Tanpa menanggalkan konteks demografis yang inklusif. dengan cara memastikan afirmasi mahasiswa kurang mampu tetap berlangsung.

Akreditasi dan publikasi kerap jadi narasi dominan dalam membicarakan peningkatan kualitas kampus. Misbah Fikrianto selaku Kasubdit Penalaran dan Kreatifitas Ditjen Belmawa Kemristekdikti mengungkapkan bahwa hal tersebut tak terelakkan di tengah permintaan dan kompetisi pasar yang begitu ketat.

Universitas yang terbaiklah yang akan menghasilkan karya terbaik. Fasilitas, pendanaan, serta sumber daya manusia yang terbaik, kemudian akan mengikuti pula untuk berdatangan ke kampus itu.

Akan tetapi, Misbah menggarisbawahi bahwa bukan hanya universitas yang sedang berkompetisi di zaman ini. Perguruan tinggi harus ingat bahwa dalam persaingan akademik dan dunia kerja, para mahasiswa dari kampus-kampus itu juga akan bersaing. Entah itu di masa yang akan datang selepas mereka lulus, atau bahkan saat ini juga. Lewat lomba-lomba.

karena itu, kampus berkualitas dengan title PTNBH, mahasiswanya harus berkualitas pula. Saya melihat UNY sangat luar biasa, menggelar PIMNAS, terus mendorong untuk berprestasi,” ungkap Misbah.

Mendorong Prestasi

Secara visi, Prof. Sutrisna Wibawa selaku rektor menyebutkan bahwa kualitas mahasiswa memang terus didorong di UNY. Dengan faktor alasan yang beririsan antara peningkatan kualitas mahasiswa sekaligus peningkatan kualitas kampus itu sendiri.

“UNY menuju World Class University, mengacu pada pemeringkatan QS, ada kalkulasi poin layaknya publikasi, adanya mahasiswa internasional (international student), studi banding dan transfer SKS. Jadi kualitas mahasiswa sekaligus meningkatkan kualitas kampus,” tutur Sutrisna.

Salah satu cara meningkatkan kualitas mahasiswa, kemudian disebutnya berlangsung lewat ajang-ajang kompetisi. Kampus akan selalu mendorong mahasiswanya untuk berprestasi.

“Kampus selalu terbuka dan siap mendukung kemajuan kemahasiswaan dan mahasiswa UNY,” tukas Sutrisna.

Dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa (PIMNAS) contohnya, UNY pada tahun lalu menjadi tuan rumah sekaligus berhasil menggondol peringkat kelima secara umum. Total raihan medali tiga emas, empat perak, dan dua perunggu diraih UNY setelah dorongan dan insentif terus dilakukan semua pihak. Layaknya melalui proses seleksi, inkubasi, pembinaan, hingga persiapan kompetisi yang dikoordinasikan oleh PKM Center dan Kemahasiswaan.

Dalam pemeringkatan Perguruan Tinggi Bidang Kemahasiswaan tahun 2018 versi Kemenristekdikti, kinerja Kemahasiswaan UNY juga meraih peringkat kelima. Penilaian kinerja kemahasiswaan didasarkan pada prestasi mahasiswa dan kelembagaan kemahasiswaan.

Peningkatan peringkat tersebut sedikit banyak disumbangkan dari prestasi para mahasiswa UNY kala berkompetisi. Disebutkan oleh Prof. Sumaryanto selaku Wakil Rektor

III UNY, ada 1.114 prestasi yang telah diraih kampus ini sepanjang tahun 2018.

Dengan rincian, kejuaraan internasional 171, regional 50, nasio- nal 322, wilayah 101, dan daerah 470.

“Data tersebut dihimpun pada Bulan November lalu. Tentu bisa lebih lagi,” ungkapnya yakin.

Beberapa prestasi mahasiswa tersebut diantaranya disabet dalam

Shell Eco-marathon Asia (SEMA 2018). DIgelar di Singapura, ajang pada bulan Maret lalu ini kembali menjadi ajang pembuktian prestasi tim Mobil Garuda UNY dalam kompetisi tingkat internasional. Pada tahun kedua keikutsertaannya dalam ajang serupa, tim ini kembali berhasil menyabet Juara III Kategori Urban Concept Internal Combution Engine. Dari puluhan tim mobil dari seluruh penjuru benua Asia, prestasi tersebut mengantarkan tim Mobil Garuda UNY mendapatkan tiket ke DWC (Drivers’ World Championship) di London bulan Juli 2018.

Kejuaraan dan IPK Tinggi

Di bidang teknologi, ada juga Tim robot UNY berhasil menjadi juara 1 di kompetisi tingkat Nasional “ELTRACO”. Tim ICHIBOT FF yang beranggotakan Fardiansyah Nur Aziz dan Furqon Nirwansyah. Untuk Juara ke 2 dari UGM, Juara ke 3 dari PENS dan juara 4 dari STTKD. Dalam Lomba ELTRACO (Electrical Line Tracer Contest) yang merupakan ajang kompetisi adu cepat dan adu strategi robot dalam mengikuti garis sebagai lintasan.

“Dan banyak lagi prestasi di bidang olahraga, seni, sains, termasuk PIMNAS kemarin UNY memperoleh tiga emas, empat perak, dua perunggu,” tukas Prof. Sumaryanto selaku Wakil Rektor 3.

Tersalurkan ke Lapangan Kerja

Di dalam kelas, prestasi para mahasiswa juga tak kalah baiknya. Pada wisuda UNY yang digelar November lalu, IP lulusan mengalami peningkatan dan stabil pada rerata yang cukup baik. Termasuk prodi D3 dari 3,47 menjadi 3,44, S1 dari 3,49 menjadi 3,48, S2 dari 3,74 menjadi 3,75, dan S3 dari 3,71 menjadi 3,74.

Bekal IP dan kemampuan akademik yang diperoleh mahasiswa dari kampus, diharapkan bisa meningkatkan kemampuan alumni yang memutuskan untuk bekerja setelah lulus. Langkah yang ditempuh UNY untuk mengefektifkan hal ini, diantaranya adalah meningkatkan akreditasi kampus ataupun program studi.

“Karena pemberi kerja, entah itu PNS ataupun swasta, juga melihat akreditasi dan repurtasi kampus dalam proses seleksi. Jika akreditasi A, lebih menjadi pertimbangan. Sehingga jadi tugas kami di kampus untuk mendorong akreditasi terus lebih baik,” tambah Prof. Margana selaku Wakil Rektor 1.

Langkah kedua yang ditempuh UNY, adalah mendirikan program studi teknik murni sebagai terobosan. Disebutkan Widarto selaku Dekan Fakultas Teknik UNY, banyak lulusan UNY yang selama ini terserap ke industri dan bukannya dunia kependidikan. Sehingga menjadi strategis untuk mengembangkan program studi di Fakultas Teknik yang selama ini banyak berfokus pada kependidikan, menjadi teknik murni.

“Meskipun berlatar belakang kependidikan sebagain besar lulusan FT UNY justru banyak yang berkarir di sektor industri dibandingankan guru. Berkaca dari hal itu, FT UNY telah membuka tiga Program Studi berlatar belakang teknik murni, yaitu Teknik Manufaktur, Teknologi Informasi dan Teknik Elektro.” tutur Widarto.

Nantinya, keberadaan program studi teknik murni tersebut bisa dikombinasikan dengan langkah pamungkas yang dimiliki UNY: menggelar program profesi. Di bidang teknik misalnya, mereka yang dulunya mengenyam jurusan kependidikan teknik sipil atau mesin bisa ambil profesi insinyur. Lalu bekerja di BUMN Kontraktor ataupun sektor swasta yang tak kalah masifnya.

“Begitupula yang kependidikan, akuntansi murni ataupun pendidikan, juga bisa mengambil profesi. Diproyeksikan juga prodi teknik murni bisa diambil double degree dengan kependidikannya,” pungkas Margana.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here