Ratusan medali taekwondo berdesakan di almari pencapaiannya. Beberapa dianggapnya paling berkesan dalam hidup. Layaknya Emas PON 2012 Riau, maupun Perak yang ia gondol dalam Sea Games 2011.

Medali yang didapatkannya setelah menuntaskan kewajibannya dibawah sorak sorai dan gemuruh yang memekikkan namanya di Cibubur. Bersahutan dengan pekikan Indonesia dan tepuk tangan penonton, serta kibaran bendera merah putih di atas podium. Bersama seisi tribun menggemakan lagu Indonesia Raya.

Tapi dari ratusan kompetisi yang ia ikuti. Yang berhasil mengganjarnya dengan medali maupun yang tidak. Serta dalam pertandingan yang memberikannya asa serta inspirasi bagi bangsa, maupun satu-dua yang menghempaskannya dalam duka dan cedera. Ada satu hal yang tak berubah. Tak peduli lawan dan tantangan silih berganti.

Karena di salah satu ujung arena, selalu tampak sosok Dr. Mansur, sang ayah yang juga Wakil Dekan I FIK UNY itu, dalam tatapan yang penuh pengharapan dan doa dalam setiap hembus nafasnya. Mansur rela mencurahkan hati dan waktunya, untuk selalu mendukung dan berada di sisi Fitri apapun yang terjadi.

“Selama di Indonesia, bapak pasti nonton. Bapak banyak motivasi. Bapak doain juga. Pasti nenangin juga. Membuat adem di hati. Kata-katanya sederhana sama aku, selalu berbisik atau berteriak: pasti bisalah nduk,” kisah Lia kepada Pewara Dinamika. Mereka kembali apa yang selalu dilakukan sang ayah, melengkapi perjuangannya beradu taekwondo sejak duduk di bangku kelas dua sekolah dasar.

 

Pecinta Barbie yang Nyasar di Dojang Mandala Krida

Seisi rumah dan teman masa kecil Lia nyaris terkejut, bahwa Lia membiarkan boneka Barbie dan peralatan masak-memasaknya berdebu di salah satu sudut rumah. Lia awalnya memang tumbuh sebagai anak yang girly dan lemah lembut. Warna kesukaannya pink, dan ia rela menghabiskan waktunya seharian untuk menyisir rambut boneka barbie kesukaannya di teras rumahnya.

Hingga semua itu berubah ketika ayahnya membuka dojang di Mandala Krida Yogyakarta. Walaupun memang, perubahan itu datang seiring waktu. Memiliki ayah yang seorang pelatih voli dan olahragawan, serta Sri Hartati, ibunya yang juga instruktur senam, membuat dara kelahiran Yogyakarta, 2 Juli 1991 ini akhirnya kepincut dengan olahraga.

Kedua orang tuanya memang mewajibkan anaknya menyelami olahraga. Tujuannya sederhana: agar Lia punya kesibukan sepulang sekolah dan tak hanya bermain tanpa manfaat. Tujuan itulah yang akhirnya mengenalkan Lia pada renang hingga voli. Tapi bujukan makanan enak dan es krim yang dijanjikan akan menjadi ganjaran bagi Lia setiap pulang dari dojang, akhirnya meluluhkan hatinya untuk mencintai taekwondo. Seumur hidupnya.

“Jadi waktu kecil itu cewek banget, girly bangetlah. Lalu mulai diarahkan sama orang tua. Awalnya disuruh, orang tua juga suka bujuk. Habis latihan kita makan enak deh, belok rumah makan, beli es krim lah. Dibujuk, lama lama kebiasaan. Lalu jadi kebutuhan,” kenang Lia sembari tertawa mengingat masa lalunya.

Latihan demi latihan itu membentuk dirinya menjadi tahan banting. Baik fisik maupun mental. Dan dibuktikan secara nyata ketika ia berangkat lomba pertama kalinya ketika duduk di kelas lima SD. Bertarung melawan petarung se-DIY dan Jawa Tengah, ia harus menerima nasib berada di batas bawah berat badan. Menerima pukulan dan tendangan dari para lawan yang jauh lebih besar darinya, dan tidak membawa pulang apapun kecuali pipi bengkak berwarna biru.

“Udah kalah, pipinya bengkak gede biru lagi waktu itu. Karena walaupun tinggi saya ga kalah, tapi mereka gede juga badannya. Powernya mantep juga,” ujarnya sambil kembali terbahak.

Medali demi medali kemudian mengalir sejak pengalaman itu. Pelatihan di tingkat nasional sudah dilaluinya sejak tingkat menengah pertama. Nyaris kebanyakan hari-hari masa remajanya dihabiskan di Jakarta. Berlatih tiga kali sehari, hingga kemudian filosofi dalam taekwondo membentuk karakter dirinya. Menjadi dara yang tidak hanya kuat, tapi juga bijaksana. Ilmu taekwondo yang dimilikinya dijadikan alat untuk mengasah kontrol diri, agar bela diri tidak digunakan semena-mena dan bukan untuk menyakiti orang lain.

”Dan semua itu bapak yang selalu berpesan. Agar selalu lebih hati-hati untuk menggunakan ilmunya. Pakai hanya untuk di lapangan, saat ada pertandingan saja. Sampai sekarang alhamdulillah tidak ada yang berani gangguin sih,” ungkapnya.

Masa sekolah menengah pertama juga menjadi momen pertama juara Sunsilk Hijab Hunt ini pertama kalinya mengenakan kerudung. Mengenyam pendidikan di taman kanak-kanak hingga menengah pertama seluruhnya di sekolah yayasan Muhammadiyah, ia tumbuh dalam lingkungan islami. Lalu terbiasa didalamnya hingga merasa terpanggil dengan sendirinya bahwa ia ingin mengenakan hijab.

“Bahkan saya sendiri yang bilan ke ibu. Saya mau pakai hijab ma. Tidak ada pesan dari ortu. Dan alhamdulillah saya tetap istiqomah bahkan ketika bertanding sekalipun,” ungkapnya bangga.

Karirnya di bidang taekwondo kemudian menanjak pelan tapi pasti. 2008, di awal Lia mulai menjadi mahasiswa S1 Pendidikan Kepelatihan Olahraga UNY, ia menembus pagelaran PON di Kalimatan Timur. Asanya meraih emas gagal kala itu. Tapi semangatnya tak pernah pudar untuk mencoba empat tahun kemudian. Semangat yang tak luntur sekalipun, walau harus mengalami cedera hanya tiga hari sebelum berangkat menuju pagelaran Pra PON 2012.

 

Vonis Karir Tamat oleh Dokter Tak Membuatnya Gentar

Cedera itu cukup parah. Otot ligamen kakinya putus, menghilangkan tautan antar kedua tulang di penghujung kaki. Jangankan bertanding lagi. Kemungkinan Lia untuk bisa kembali berdiri di atas kakinya sendiri saja cukup kecil. Vonis dokter yang menegaskannya untuk pensiun dini tercetus. Ia yang baru saja beberapa bulan lalu menjuarai Sea Games 2011, didaulat tak lagi bisa bermain di arena untuk selamanya. Begitu pula orang kebanyakan, yang turut berduka bersama Lia dan memintanya untuk tetap semangat dan menerima anjuran dokter

“Dalam posisi aku harus PON. Membalaskan 2008 aku gagal emas PON, 2012 itu harusnya aku masuk pon dan menang! Seakan saat patah itu hopeless. Prestasi aku waktu itu masih di puncak, dan tiba-tiba gak taekwondo aku tidak mungkin rela,” kenangnya sedih.

Tapi Lia, dan juga orang tuanya, berbeda dengan orang kebanyakan. Hatinya selalu teguh bahwa ia bisa kembali lebih kuat. Ketika semua orang meragukan dirinya, Lia justru meragukan sang dokter. Dan selalu ingat bahwa seumur hidupnya telah didedikasikan untuk taekwondo. Baginya, ia akan merasa cemen jika latihan seumur hidupnya hanya dihentikan oleh satu-dua kegagalan tanpa mencoba sedikitpun untuk bangkit.

“Karena saya tetap yakin, dokter sebagai manusia kan cuma bisa prediksi. Kita harus tetap berusaha yakin dan berdoa, hasil di tangan Allah. Dan ketika semua orang meragukan, ada empat orang yang selalu yakin padaku: Ayah, Ibu, Kak Fitri, dan Master Huhu pelatihku,” tegasnya.

Dan benarlah harapan itu. Digantikan oleh atlit lain, Lia akhirnya dapat pulih dan mengikuti arena PON 2012 setahun kemudian dengan hasil maksimal. Pemulihannya selama sembilan bulan dan kepercayaan keluarga serta pelatihnya, dibayar tuntas dengan medali emas. Petualangan yang kemudian membawanya berlabuh lebih jauh lagi, menjajal hal baru layaknya kompetisi Dimas Diajeng dan Hijab Hunt. Dengan hasil yang tak kalah hebat pula.

“Pinginkan cobain hal yang baru. Sejak SMP saya pelatnas di Jakarta, jiwa ini memang serasa petualang sudah,” kenangnya.

Kedepan, dalam posisinya sebagai jawara hijab hunt dan mahasiswi pascasarjana Ilmu Keolahragaan UNY, Lia berambisi untuk dapat memantaskan diri sebagai inspirasi serta ikon muslimah sekaligus mendalami sport science. Ilmu keolahragaan yang telah lama ia pelajari di bangku kuliah itu ia harapkan tidak hanya bermanfaat bagi dirinya sendiri layaknya yang telah ia rasakan selama ini, tapi juga bagaimana kedepan Lia bisa menjadi pelatih dan menjadikan dunia Taekwondo Indonesia menjadi lebih baik lagi. Maupun melanjutkan usaha Lembah Fitness yang dimiliki oleh sang ayah dan membantu mewujudkan masyarakat Yogyakarta yang lebih bugar dan sehat.

“Jadi sebagai ikon muslimah saya akan berusaha positifnya jadi lebih baik lagi dari segi keagamaan. Dan jadi pelatih sekaligus mengejar cita-cita jadi dosen olahraga. Dengan ambisi bahwa atlitku prestasinya lebih tinggi dari aku!,” pungkasnya.

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here